BERANTAS PUNGLI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberi ucapan selamat kepada Tim Satgas Sapu Bersih Pungli Kota Semarang usai pengukuhan, kemarin. (Rizal.kurniawan@radarsemarang.com)
BERANTAS PUNGLI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberi ucapan selamat kepada Tim Satgas Sapu Bersih Pungli Kota Semarang usai pengukuhan, kemarin. (Rizal.kurniawan@radarsemarang.com)

SEMARANG – Lima pengedar narkotika dan obat berbahaya (narkoba) berhasil digulung aparat Polrestabes Semarang. Aparat juga menemukan modus baru dari salah satu tersangka pengedar, yakni dengan cara bertransaksi di dalam warnet (warung internet).

Kelima tersangka tersebut, yakni Ario W, 23, warga Semarang Barat. Ia ditangkap di sebuah rumah di Jalan Gedung Batu Selatan, Sabtu (7/1) sekitar pukul 23.30 lalu dengan barang bukti 23 gram sabu dan 98 butir ekstasi. Berikutnya, tersangka Deny alias Gendut, 25, warga Semarang Barat. Ia dibekuk di rumah kos Jalan Rambutan, Semarang Selatan, Rabu (4/1) sekitar pukul 10.00 lalu dengan barang bukti 1 gram sabu.

Tersangka ketiga, Chandra AS, 30, warga Semarang Tengah, yang ditangkap dengan barang bukti 1 gram sabu. Ia dibekuk saat berada di ATM Gang Tengah, Jumat (6/1) sekitar pukul 17.00 lalu. Selanjutnya, tersangka Trikora DS, 32, warga Semarang Utara, yang ditangkap dengan barang bukti 0,5 gram sabu saat berada di dalam warnet Jalan Sadewa sekitar pukul 21.30.

Satu tersangka lainnya, Eko S alias Kodok, 39 warga Tembalang. Ia ditangkap beserta barang bukti 1 gram sabu di sebuah warung sate di kawasan Pedurungan, Senin (9/1) sekitar pukul 18.30 lalu. Selain mengamankan total 26,5 gram sabu dan 98 butir ekstasi, petugas juga menyita 3 alat timbangan digital, 7 telepon genggam dan uang tunai Rp 900 ribu.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji mengatakan, kelima tersangka diamankan dalam kurun waktu lima hari terakhir. Barang bukti terbanyak disita dari tangan Ario W. Tersangka Ario sendiri adalah residivis yang pernah mendekam di Lapas Kedungpane terkait kasus pengeroyokan.

”Salah satu tersangka dalam mengedarkan sabu dikendalikan oleh napi yang ada di Lapas Pekalongan berinisial A (Anggi). Kami akan kirim surat kepada Kakanwil Kemenkum HAM Jateng untuk mencari terpidana A,” katanya saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Rabu (11/1).

Abiyoso menjelaskan, anggotanya juga menemukan modus baru peredaran narkoba yang dilakukan oleh tersangka. Yakni, dengan cara bertransaksi di dalam warnet sambil berpura-pura mengoperasionalkan internet.

”Tersangka ditangkap di warnet sambil browsing internet. Barang bukti diselipkan di bawah keybord. Ini transaksi modus baru. Biasanya kan tersangka mengedarkan narkoba dengan ditaruh di lokasi tertentu atau diletakkan di suatu tempat,” jelasnya.

Tersangka Trikora mengaku, mengedarkan sabu di dalam warnet. Bahkan, pembayaran barang haram itu juga dilakukan di tempat tersebut. ”Bayarnya langsung. Tapi kalau orang yang tidak kenal, ya saya tidak mau,” akunya.

Tersangka Ario mengaku menjalankan bisnis haram tersebut baru dua minggu dengan imbalan Rp 50 ribu per titik. Sabu dan ekstasi tersebut didapat dari rekannya yang berada di dalam Lapas Pekalongan bernama Anggi.

”Dulu pernah kenal saat di Lapas Kedungpane tahun 2012. Anggi ngakunya anak Semarang Indah. Saya dihubungi, katanya minta tolong dibantu, karena orang yang biasa ngantar barang (narkoba) tertangkap,” katanya.

Imbalan Rp 50 ribu dari Anggi tersebut, diberikan dengan cara transfer. Sedangkan tugasnya mengantar pesanan barang yang diletakkan di suatu tempat. Lokasi yang pernah dipakai meletakkan sabu dan ekstasi di antaranya di depan Indomaret Simongan, depan pasar BK Manyaran dan Jalan Pamularsih.

”Biasanya ditaruh di dalam tempat sampah. Barangnya dimasukkan ke dalam bungkus yang sudah ada kodenya,” jelasnya.

Sedangkan tersangka Candra mengaku ditangkap ketika hendak mengambil uang di ATM Gang Tengah. Saat digeledah petugas, ditemukan narkoba yang disembunyikan di tas pinggang. Barang tersebut diperoleh dari seseorang tak dikenal yang diambil di lokasi yang ditentukan. ”Saya dapat dari orang Mranggen. Saya ditangkap saat makan di warung sate di Ketileng,” kata tersangka Eko alias Kodok.

Atas perbuatannya, para tersangka akan dijerat pasal 114 (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan pasal 112 (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009, yakni menguasai menyimpan atau menyediakan narkoba. Ancaman hukumannya 5 tahun hingga 20 tahun penjara. (mha/aro/ce1)