Tak Merasa Doping, Mualipi Pasrah

161

SEMARANG – Tiga atlet Jateng yaitu Mualipi (binaraga), Mheni (binaraga) dan Jendri Turangan (berkuda) yang kemarin meraih medali di ajang PON Jabar 2016 tentu dibuat risau atas pengumuman ketiga nama tersebut masuk dalam 12 atlet PON dan 2 atlet Peparnas yang masu daftar atlet positif menggunakan doping.

Mualipi mengakui cukup pasrah mendengar kabar tersebut, walaupun dirinya menegaskan bahwa tudukan melakukan doping itu dianggapnya salah. ”Awalnya saya memang bingung karena dituduh pakai doping jenis Stanozolol, padahal saya tak pakai itu. Saya hanya menggunakan vitamin dan banyak memakai makanan bernutrisi tinggi yang terkontrol,” beber atlet asal Boyolali tersebut.

Peraih medali emas dari nomor 60 kilogram putra tersebut, mengakui sosialisasi pihak LADI jelang PON juga sangat minim. Hampir seluruh atlet kadang tak tahu standarisasi dan batasan untuk menghindari sebuah doping. ”Meminum obat pusing saja, ada takaran yang dianggap doping. Sebagai atlet jelas sosialisasi itu cukup kurang berjalan dengan baik, jadi kadang kita tak tau batasan zat ini dilarang atau tidak,” ucapnya yang sudah turun di PON sejak tahun 1998 tersebut.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jateng, siap untuk mendampingi tiga atlet yang dinyatakan menggunakan doping, dalam memberikan pembelaan atas kasus ini nantinya. Ketua KONI Jateng Hartono juga menganggap bahwa besar kemungkinan para atlet ini tidak sadar ketika mengkonsumsi zat yang masuk kategori doping tersebut.

Hartono menyebut, pada pelaksanaan PON lalu, tidak ada penerbitan yang mengatur jenis-jenis obata n dan suplemen yang masuk kategori doping. Dia menduga kasus doping yang mencuat di PON Jabar, karena faktor ketidaksengajaan. Artinya, atlet mengonsumi obat atau suplemen yang dianggap doping. ”Di sinilah susahya. Tak ada buku petunjuk apa pun soal doping dan kurangnya kontrol terhadap apa yang dikonsumsi atlet, ini yang bisa menimbulkan kasus doping. Dan kami tentu akan meminta klarifikasi dulu dengan yang bersangkutan terkait hal tersebut,” imbuhnya.

Ketua Harian Pengprov PABBSI Jateng Agus S Winarto mengaku siap mengikuti mekanisme jalannya keputusan terkait atlet-atlet yang dinyatakan menggunakan doping pada pelaksanaan PON XIX di Jabar, September 2016. ”Kami akan ikuti saja prosesnya. Dari PB PON ke lembaga doping, ke PB PON lagi, baru ke PB PABBSI. Setelah itu, kita dengarkan pembelaan dari atletnya. Atlet Jateng yang disebut itu, tentu akan melakukan pembelaan diri,” kata Agus.

Agus yang pada PON lalu menjabat ketua umum Pengprov PABBSI menambahkan, bahwa secara organisasi, pihaknya sudah memberikan informasi dan upaya-upaya pencegahan terkait dengan doping. Artinya, sosialisasi tentang doping sudah dilakukan dan atlet tentunya sudah memahami. Namun yang jelas, kata dia, atlet memiliki hak membela diri dan tetap dinyatakan belum bersalah hingga sampel B dibuka. ”Akan ada pembelaan dari atlet, dan kalau perlu dibuka yang sampel B,” kata Agus. (bas/nik/JPG)