Cintai Motif Unik, Usung Batik dan Kain Nusantara

Melongok Workshop Desainer Muda Widya Andhika Aji

330

Desainer muda asal Semarang terus bermunculan. Salah satunya Widya Andhika Aji yang mengusung batik dan kain nusantara sebagai salah satu ciri khas karyanya. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SUARA mesin jahit terdengar dari workshop fashion milik Widya Andhika Aji yang berada di kawasan Srondol, pukul 10.00, kemarin. Ya, sejak pagi aktivitas dari tim desainer muda ini sudah tampak. Mereka tengah menyiapkan koleksi terbaru dan sejumlah pesanan. Ada yang menyiapkan pola, ada yang menjahit, ada pula yang fokus dengan payet.

Beberapa busana bermaterial batik dengan warna yang cukup ceria juga tergantung di salah satu sisi ruang workshop. ”Ini sebagian koleksi yang akan saya bawa untuk fashion show di Bandung. Sedangkan yang payet-payet ini untuk baju pengantin,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruang workshop-nya.

Sulung dari dua bersaudara ini mulai terjun ke industri fashion sejak masih duduk di bangku kuliah. Kegemarannya mengumpulkan dari berbagai toko di luar Semarang lantas diperjualbelikan, baik melalui sistem online maupun bazar.

”Lama-kelamaan kok stoknya menipis. Kemudian saya berpikir, kenapa nggak bikin sendiri aja. Dengan begitu kualitas material dan jahitan bisa saya sesuaikan dengan apa yang saya harapkan,” ujarnya.

MILIKI TIM SOLID: Terus belajar dan bersinergi dengan tim menjadi kunci keberhasilannya. (IST)
MILIKI TIM SOLID: Terus belajar dan bersinergi dengan tim menjadi kunci keberhasilannya. (IST)

Tidak ingin tanggung-tanggung, perempuan yang akrab disapa Widya ini mengambil sekolah khusus desain. Dengan tujuan, ia dapat menerjemahkan dengan baik pada timnya mengenai karya-karya yang ingin dihasilkan.

”Kalau saya tidak belajar dengan baik, saya jadi susah menjelaskan ide-ide yang ada di benak saya,” ujar Widya sembari sesekali menengok dan membantu menyelesaikan garapan dari timnya.

Sejak 2010, alumnus Ilmu Komunikasi Undip dan alumnus Psikologi Unika Soegijapranata ini fokus menggarap kain nusantara dan batik. Hal ini tak lepas dari kecintaannya terhadap keunikan motif-motif batik, sekaligus adanya peluang yang dinilai cukup potensial.

Awal produksi, Widya hanya mengeluarkan satu desain untuk satu baju. Pemasaran menggunakan sistem online dengan memanfaatkan sosial media. Karya-karyanya ternyata dilirik beberapa toko online yang cukup ternama.

”Saya dihubungi dan diajak kerja sama. Dari situ baru memproduksi dalam jumlah yang cukup banyak, tapi desain tetap ekslusif, tidak masal,” ujarnya.

Desain dengan label Dhievine ini pun mulai dikenal. Konsumen tak terbatas warga Semarang, sebagian besar justru dari Jakarta, Balikpapan, Samarinda, dan Nusa Tenggara Timur. Bahkan, ada juga pemesan dari Australia. ”Mereka suka kebaya yang ready to wear. Biasanya untuk sekeluarga dan saya menyediakan desain-desain tersebut,” ujarnya.

Anggota Indonesian Fashion Chamber (IFC) ini mengakui, pencapaiannya hingga saat ini tak lepas dari usaha kerasnya untuk terus belajar serta bersinergi dengan tim yang kini beranggotakan tujuh orang. Menurut perempuan kelahiran Jakarta 18 Februari 1988 ini, bisnis yang baik, lahir dari tim yang baik. Sedangkan tim atau pegawai yang baik, hadir karena ada manajemen yang baik.

”Saya dan tim sama-sama saling membutuhkan. Oleh karena itu, kami harus bersinergi dengan baik,” ujarnya.

Ke depan, Widya masih memacu dirinya untuk terus menggali potensi diri dengan belajar. Baik tentang batik, kain nusantara, desain, maupun bagaimana mengelola bisnis dengan baik. ”Saya juga ingin bisa bikin motif-motif batik sendiri dan kembali ikut serta dalam fashion show nasional,” ujarnya. (*/ida/ce1)