Kali Nobo Tercemar Limbah

Warna Hitam, Bau Menyengat

538

SALATIGA-Sejumlah sungai di perbatasan Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga diduga tercemar. Air di Kali Nobo, Kali Jetis, Kali Patemon, Kali Sanjaya hingga Kali Suruh berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau busuk.

Pencemaran ini diduga berasal dari limbah pengolahan kayu sengon PT Makmur Alam Sentosa (MAS). Di sekumlah lokasi tepi sungai juga ada tumpukan potongan kayu yang tidak terpakai.

Jawa Pos Radar Semarang yang ditemani warga Nobo Etan, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Senin (9/1), menyusuri sungai, khususnya di Kali Nobo yang melewati Nobo Etan dan Nobo Tengah airnya terlihat hitam pekat, namun tak lengket. Namun ada sebagian material terlihat mengendap serta berbau menyengat. Pencemaran tersebut sudah terjadi lebih dari setahun. Ikan-ikan dan udang yang dulu hidup di sungai juga sudah banyak yang mati.

“Dulu air kalinya dibuat untuk nyuci dan mandi, sekarang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, padahal sebelumnya airnya bersih,” kata warga Nobo Etan, Nasirun saat menemani koran ini menyusuri kali. Masyarakat sudah berkali-kali menyampaikan keluhan ini tapi tak pernah ada tindakan jelas.

Warga Nobo Etan lain, Romjani juga mengeluhkan hal yang sama. Ia menyarankan, perusahaan harusnya menampung limbah dan menjernihkan, sebelum dialirkan ke sungai. Warga juga pernah mendemo PT MAS namun belum ada tindakan hingga sekarang.

“Dulu ikan dan udang banyak di kali ini, sekarang punah dan mati. Bahkan hewan minum air limbahnya langsung penyakitan,” jelas Romjani.

Menurutnya, limbah biasanya dibuang sekitar pukul 08.00 atau 09.00. Warga saat masih kebingungan harus melapor ke mana lagi agar keluhan mereka diperhatikan.

Terpisah ketika dikonfirmasi, General Affair (GA) PT MAS yang membidangi bagian umum, Nur Wasesa menjelaskan, masukan warga akan diperhatikan. Pihak perusahaan akan memeriksa langsung sungai yang diduga tercemar.

Menurut Wasesa, warga pernah menyampaikan komplain terkait asap pembakaran. Pihak perusahaan menanggapi keluhan tersebut dengan meninggikan cerobong asap.

“Komplain terbaru memang belum disampaikan ke kami, biasanya warga datang langsung ke pabrik. Namanya pabrik ada plus minusnya Mas, kalau minus pasti komplain dan itu wajar,” kata Wasesa saat ditemui di perusahaannya.

Berkaitan dengan pembuangan limbah, perusahaan sudah memiliki alat penyaring. Namun dengan adanya keluhan warga, kapasitas penyaring akan dicek ulang.

“Yang pertama jelas komplain ini akan kita respon, kita reduksi sekecil mungkin adanya masalah,” jelasnya. (jks/ton)