Siapa tidak kenal grup band punk asal Jogjakarta, Endank Soekamti? Ternyata, vokalis sekaligus bassist band ini, Erix Soekamti, sangat peduli terhadap pendidikan. Ia membuka sekolah gratis bagi calon animator dan programer di Ungaran, Kabupaten Semarang. Seperti apa?

SEKOLAH gratis yang diberi nama DOES University itu awalnya didirikan di sebuah rumah kontrakan di Godean, Jogja pada  15 Desember 2015. Nama DOES atau Diary Of Erix Soekamti sendiri diambil dari nama vlog yang sehari – hari dibuat Eric Kristianto, nama asli Erix Soekamti.

Endank Soekamti sendiri merupakan salah satu band di Indonesia yang memiliki fanbase  yang cukup kuat, yakni Kamtis Family.  Tidak hanya sebagai musisi, Erix Soekamti juga merupakan seorang videografer. Ia juga menjadi kepala dari Euforia Record dan Audiovisual, industri rekaman yang didirikan.

Berawal dari hobi Erix membuat video, ia mulai merekam kesehariannya dalam sebuah video yang diunggah hampir setiap hari di situs media sosial Youtube. Video keseharian yang lebih dikenal dengan vlog ini dinamakan Diary Of Erix Soekamti (DOES) yang sudah dibuat sejak 2015.

Selama 15 tahun menjadi musisi, terbesit dalam benak Erix untuk membuat sebuah sekolah gratis yang khusus didirikan untuk mereka yang ingin mempelajari apa yang mereka sukai. Kuatnya fanbase dari Endank Soekamti dan juga cukup banyaknya penonton DOES, menjadi modal awalnya untuk mewujudkan impiannya dengan membuat sekolah animasi DOES University.

DOES University  merupakan sekolah non formal dan non komersial. Di tempat itu, secara khusus hanya mengajarkan ilmu sesuai minat dan bakat yang disukai dan dimiliki oleh peserta didiknya. Animasi menjadi jurusan pertama dari sekolah yang telah berdiri setahun lebih ini.

“DOES University merupakan sekolah bakat non formal dan non komersial yang secara khusus hanya mengajarkan apa yang peserta didik kami sukai. Inisiatornya Mas Erix Soekamti yang kemudian didukung oleh Kamtis Family  dan juga para penonton DOES” jelas Iwan Pribadi,  pengurus DOES University yang juga Manager di Euforia Record yang dikepalai Erix Soekamti.

DOES University diawali dengan jurusan animasi, karena Erix dan Iwan sependapat bahwa saat ini Indonesia sendiri kekurangan animator – animator yang terampil dan memiliki skill yang cukup mumpuni untuk bersaing di industri animasi. Saat awal didirikan, DOES University hanya memiliki 10 murid. Mulai dari proses belajar, makan, hingga tempat tinggal difasilitasi secara gratis. Generasi pertama DOES University masih bertempat di Godean, Jogja. Kini, sekolah gratis tersebut menempati lantai tiga Hotel Ungaran Cantik, Jalan Diponegoro, Ungaran.

“Saya masuk Desember 2015, dan belajar selama 6 bulan. Semua gratis. Kami membayarnya dengan menularkan ilmu yang telah kita pelajari ke generasi kedua selama 6 bulan. Jadi total saya belajar dan mengajar selama 1 tahun,” beber Yoga Haris Aladaf, salah satu murid DOES University generasi pertama.

Sistem belajar di DOES University adalah sistem karantina. Peserta didik akan menjalani proses belajar dan mengajar selama total satu tahun lebih di DOES University. Selama itu para peserta didik difokuskan untuk belajar animasi setiap harinya selama proses karantina selama enam bulan lamanya, dan enam bulan selanjutnya adalah proses mengajar generasi selanjutnya.

DOES University generasi pertama sebanyak 10 orang, dan generasi yang kedua 40 orang. Dikarenakan tempat awalnya di Godean Jogja kurang mencukupi untuk total siswa 50 orang, akhirnya proses belajar mengajar DOES University dipindah ke Ungaran, Kabupaten Semarang.

“Sistem belajarnya secara karantina, jadi semua siswa diwajibkan selama setahun itu menghabiskan hari-harinya di tempat pendidikan, jadi lebih mirip kayak pesantren gitu, bukan seperti sekolah biasa yang pagi berangkat siang pulang,” bebernya.

Dikata Iwan Pribadi, awalnya generasi pertama DOES University tempat belajarnya di sebuah rumah sewaan di Godean, Jogja. Waktu itu, kata dia, jumlah siswa baru 10 orang, jadi masih memadai. Saat angkatan kedua, jumlah siswa mencapai 50 orang. Dan itu tak memungkinkan lagi untuk menempati rumah tersebut.

“Akhirnya dipindah ke Hotel Ungaran Cantik yang kebetulan pemiliknya berbaik hati menghibahkan salah satu lantai hotel untuk kegiatan DOES University,” papar Iwan.

Untuk menjadi murid DOES University, para calon peserta harus mengikuti tahap seleksi wawancara yang dilakukan oleh para pengurus DOES University. Seleksi ini dilakukan untuk mengetahui apabila calon peserta didik benar – benar memiliki passion sebagai seorang animator.

Yoga Haris menceritakan saat dirinya mengikuti seleksi DOES University generasi pertama pada 2015. Saat itu, ia selalu mengikuti vlog DOES yang dibuat Erix Soekamti.

“Aku ngikutin DOES terus, dan disitu Mas Erix membuka sekolah animator. Setelah itu, aku cari info, akhirnya aku kirim e-mail untuk ikut mendaftar,” ceritanya.

Jumlah peserta seleksi angkatan  pertama itu mencapai 175 orang. Kemudian disaring menjadi 21 orang. “Berikutnya dilakukan tes interview hingga akhirnya terpilih 10 orang yang lolos menjadi siswa DOES University generasi pertama. Alhamdulillah, saya terpilih,” ujarnya.

Dikatakan, proses seleksi siswa DOES University ini bukan diperuntukkan bagi orang – orang yang sudah memiliki keterampilan dalam membuat animasi. Namun seleksi justru lebih ditekankan kepada mereka yang memang memiliki passion dan punya niat lebih untuk belajar animasi.

“Jangan heran kalau dari seluruh murid DOES University, tidak semua memiliki dasar pengetahuan sebagai seorang animator, dan bahkan sebagian ada yang memulainya dari nol,” katanya.

Hal ini dialami oleh salah seorang murid DOES University, Maulidan. Pria asal Banjarmasin ini juga merupakan murid dari generasi pertama DOES University. Kemauan keras untuk belajar animasi membawa pria yang akrab dipanggil Lidan ini ikut mendaftar.

“Kalau saya awalnya tahu kalau Mas Erix mau buka DOES University dari teman. Teman saya itu tahu kalau saya suka animasi, dan akhirnya teman saya yang juga Kamtis memberi info sampai akhirnya saya mendaftar dan diterima. Sebenarnya awalnya saya sudah kerja di pertambangan di Banjarmasin selama 4 tahun,” jelas Lidan.

Niat untuk belajar animasi yang dimiliki oleh Lidan membuatnya meninggalkan daerah asal sekaligus pekerjaannya sebagai penambang untuk masuk di DOES University.  Lidan termasuk salah satu dari sebagian murid yang tidak memiliki dasar sebagai seorang animator. Di DOES University, ia benar – benar memulai semua pelajarannya dari nol.

“Sebelumnya belum tahu dan belajar apa – apa di animasi. Begitu diberi tahu teman, saya langsung daftar sampai akhirnya interview, terus akhirnya ikut proses sampai sekarang,” katanya.

Diakuinya, pada awalnya ia menemui kesulitan karena belum pernah memegang software untuk membuat animasi. Tapi karena dirinya memang suka, lama-lama akhirnya bisa.

“Saya setiap hari belajar, belajar dan belajar sampai akhirnya sekarang bisa. Yang tidak bisa itu, yang tidak belajar,” tandasnya.

Tidak hanya belajar setiap hari, Yoga dan seluruh peserta didik DOES University diwajibkan dalam satu hari untuk membuat satu karya. Karantina di sekolah ini bukan berarti selamanya para peserta didik harus belajar. Peserta didik diperbolehkan untuk izin apabila ada acara tertentu yang akan dihadiri, dengan catatan izin itu harus disertai dengan “tiket pulang” berupa karya yang harus dibuat.

“Di sini kita dituntut sama Mas Erix untuk buat satu hari satu karya. Jadi, setiap hari kita memang dituntut untuk membuat karya sebagai hasil  belajar selama enam bulan. Setiap anak punya karya sendiri – sendiri. Kalau mau izin juga ada konsekuensinya, yakni harus membuat ‘tiket pulang’ berupa karya agar kita dapat izin pulang,” papar Yoga.

Iwan menilai dengan sistem karantina dan satu hari satu karya ini akan lebih efektif untuk peserta didik di DOES University.  Ditambah lagi yang diterima di sekolah gratis ini hanyalah mereka yang memiliki kemauan untuk belajar dan juga ilmu yang diajarkan hanya terfokus pada ilmu animasi. Sehingga, ilmu animasi ini akan lebih mudah diserap oleh peserta didik dalam masa pendidikannya.

“Semua siswa DOES University diwajibkan untuk mengikuti masa pendidikan selama satu tahun. Selama 6 bulan pertama full belajar animasi 3D, lalu 6 bulan kedua mereka wajib mengajari adik-adik angkatan mereka dengan ilmu animasi yang telah diterima sebelumnya. Jadi, walaupun sekolah ini gratis, tapi para siswa wajib ‘membayar’ ilmu yang selama ini mereka dapatkan dengan cara mengajar adik-adik kelasnya. Singkatnya, bayar ilmu dengan ilmu,” katanya.

Karena yang diajarkan selama karantina hanya animasi 3D saja dan tidak ada pelajaran lain, maka diyakini efektivitasnya lebih baik ketimbang kuliah seperti biasa.

DOES University sendiri memiliki 20 unit komputer untuk menunjang proses belajar dan mengajar dari total 40 orang siswa generasi kedua. Proses belajar ini dibagi pada waktu pagi – sore, dan sore – malam. Proses ini berlangsung setiap hari dalam satu minggu. Pada hari minggu, peserta didik dibebaskan untuk melakukan apapun di lokasi karantina. Namun Yoga menuturkan bahwa hari minggu ini lebih sering dipakai untuk waktu belajar ekstra.

Yoga dan Lidan menuturkan, tidak sulit bagi mereka untuk hidup layaknya di pesantren. Menurut mereka ini justru membentuk pengalaman dan juga kemandirian dari peserta didik. Selain itu, mereka juga dituntut untuk memahami individu masing – masing selama proses karantina.

Kendala maupun konflik dalam berkomunikasi sendiri bukanlah merupakan hal baru bagi Lidan dan Yoga. Namun, pengalaman mereka hidup bersama dalam waktu hampir setahun lebih itu membuat masalah – masalah internal antar siswa DOES University dapat diatasi dengan baik.

“Sebenarnya tidak ada batasan waktu untuk belajar itu, tapi karena memang komputer kita masih terbatas 20 unit, jadi kita membagi waktu untuk belajarnya. Muridnya kan ada 40 orang, jadi mau tidak mau harus bergantian,” kata Lidan yang saat ini bertugas sebagai salah satu pengajar animator.

Dari proses belajar selama setahun itu sudah banyak karya – karya yang berhasil diciptakan oleh para animator didikan dari DOES University. Bukti nyata ini dapat dilihat melalui channel Youtube milik Does University dan karya tersebut dapat ditonton pula secara gratis. Selain itu, sudah ada tiga video animasi lagu anak bertemakan Save Lagu Anak yang musiknya dimainkan oleh Euforia dan Endank Soekamti.

“Bukti nyatanya hanya dalam waktu 4 bulan para siswa DOES University generasi dua sudah bisa membuat karya seperti yang bisa kita lihat di channel Youtube milik DOES University. Mereka semua benar-benar dari nol, sama sekali belum tahu konsep – konsep dasar animasi dan bagaimana cara menggunakan perangkat lunak untuk membuat animasi 3D,” paparnya.

Iwan mengatakan, generasi pertama DOES University diajar oleh Doni, seorang animator asal Solo. “Mas Doni itu animator yang banyak terlibat dalam proses pembuatan film – film animasi di Indonesia. Karya yang sudah pernah dibuat Mas Doni di antaranya film animasi Adit Sopo Jarwo, dan Menthis Kenthus yang tayang di salah satu stasiun televisi nasional,” katanya. (diras dalil/aro)