Menulis Menggunakan Peta Ajaib

502

Oleh:  Indriastuti Dwi Setyani

LIBUR semester telah berlalu, semester baru mulai berjalan. Para siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran. Sedangkan guru telah merencanakan pembelajaran dengan berbagai metode dan media pembelajaran. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pemetaan pikiran (mind mapping).

Pemetaan pikiran adalah metodenya sementara medianya berupa peta pikiran atau mind map dapat juga dapat disebut Peta Ajaib. Mind map sudah amat dikenal oleh masyarakat di bidang pengembangan sumber daya manusia dan dunia pendidikan. Metode ini digunakan untuk memaksimalkan potensi pikiran manusia dengan menggunakan otak kiri dan otak kanan secara simultan.

Metode mind mapping kali pertama diperkenalkan oleh Tony Buzan, seorang spikolog dari Inggris pada akhir 1960-an. Kini, mind map telah digunakan oleh jutaan orang di dunia, baik yang muda maupun tua bilamana mereka ingin menggunakan pikiran mereka secara lebih efektif.

Metode mind maping dapat diartikan sebagai proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-konsep permasalahan tertentu dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan animasi yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya.

Menurut Tony Buzan, mind mapping dapat membantu kita dalam banyak hal. Seperti merencanakan, berkomunikasi, menjadi lebih kreatif, menyelesaikan masalah, memusatkan perhatian, menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran, mengingat dengan baik, belajar lebih cepat dan efisien serta menghemat waktu.

Senada dengan Tony Buzan, Joyce Wycoff dalam bukunya “Menjadi Super kreatif Dengan Pemetaan Pikiran” juga menjelaskan tentang manfaat pemetaan yang dapat digunakan untuk pengembangan diri antara lain, dalam bidang penulisan, bidang manajemen project, memperkaya kegiatan curah pendapat, mengefektifkan rapat, menyusun daftar tugas, melakukan presentasi yang dinamis, membuat catatan yang memberdayakan diri, dan untuk mengenali diri.

Dalam pembelajaran bahasa di sekolah, khususnya keterampilan menulis, penggunaan peta pikiran sangat efektif. Peta pikiran ini dapat memberi rumusan yang sangat jelas mengenai apa saja yang akan ditulis, sehingga peserta didik tidak lagi merasa bingung mengenai apa yang akan mereka tulis.

Penggunaan metode pemetaan pikiran dalam kegiatan menulis tidaklah sulit, guru dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

Pertama, mengumpulkan informasi. Peserta didik mengumpulkan informasi mengenai bahan yang akan ditulis. Misalnya akan menulis teks deskripsi tentang seorang tokoh, maka terlebih dahulu ia perlu mengumpulkan informasi tentang tokoh yang dimaksud.

Kedua, membuat peta pikiran. Untuk membuat peta pikiran, peserta didik membutuhkan kertas kosong tak bergaris, pensil warna atau sejenisnya, pikiran serta imajinasi. Cara membuat peta pikiran adalah sebagai berikut:

  1. Tuliskan tema utama di tengah-tengah selembar kertas kosong. Contoh: apabila kita akan menulis teks deskripsi  tentang seorang tokoh , tuliskan nama orang tersebut.
  2. Tulis Sub tema dari tema utama. Dari tema utama seorang tokoh, maka sub temanya bisa ciri-ciri fisik, sifat-sifat sang tokoh, keunggulannya , kekurangan, prestasinya, dan lain sebagainya.
  3. Hubungkan antara tema dan sub tema dengan garis berwarna. Dapat dibuat bentuk kotak, bulatan atau simbol. Buat semenarik mungkin dengan beraneka warna, dan dapat ditambahkan gambar.
  4. Tambahkan poin-poin informasi lain. Ini adalah informasi berkaitan dengan sub tema yang telah dikumpulkan sebelumnya.
  5. Gunakan huruf besar dan kecil. Ini berfungsi untuk membedakan hal yang dianggap lebih penting dengan poin tambahan.

Ketiga, menulis. Dari peta pikiran yang telah dibuat tersebut peserta didik dapat mulai membuat tulisan dimulai dari tema utama kemudian sub tema yang dikembangkan menjadi kalimat dan paragraf, menggunakan informasi tambahan yang telah dikumpulkan.

Peta pikiran di sini  berfungsi sebagai kerangka karangan untuk memberikan arah dan tuntunan dalam menulis sebuah teks yang padu dan sesuai dengan struktur generiknya. Namun ini bukan kerangka karangan biasa, selain tampilannya yang menarik, peta pikiran juga lebih informatif dan tidak membosankan. Dengan demikian, kesulitan yang sering dijumpai ketika peserta didik harus menulis sebuah teks dapat teratasi. (*)