TELOLET OM: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mengecek kesiapan armada baru BRT Trans Semarang. (ISTIMEWA)
TELOLET OM: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mengecek kesiapan armada baru BRT Trans Semarang. (ISTIMEWA)

SEMARANG-Demam ‘Om Telolet Om’ beberapa waktu lalu rupanya menjadi inspirasi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk menarik minat masyarakat agar beralih ke transportasi umum. Ia pun memasang klakson telolet pada armada baru Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang akan dioperasikan pekan depan.

Hal itu diketahui usai Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu mengunggah rencananya tersebut dalam akun instagram pribadinya @HendrarPrihadi. Dalam akunnya, Hendi mengunggah dirinya dalam sebuah armada BRT bersama seorang dengan menyematkan caption, “Menanggapi masukan sedulur2 — Di bulan ini akan mulai beredar BRT Trans Semarang ber-Telolet #OmTeloletOm”.

“Targetnya dari 6 koridor yang kita operasikan tahun ini, per koridor akan ada lima armada bus yang bertelolet,” jelas Hendi. “Ini adalah salah satu cara untuk menarik minat masyarakat untuk naik Bus Trans Semarang, sehingga akan ada peningkatan penumpang dari tahun yang lalu,” tambahnya.

Tercatat pada 2015, BRT Trans Semarang mengangkut 8.023.869 penumpang dalam setahun, yang artinya meningkat 38,6 persen dibanding 2014.

Tak hanya melengkapi dengan klakson telolet. Wali kota juga akan mengadopsi sistem Light Rail Transit (LRT) di Singapura untuk BRT Trans Semarang. Yakni, sistem pemberitahuan otomatis ketika armada sudah mendekati shelter.

“Sistem tersebut berjalan dengan sarana Global Positioning System (GPS), sehingga dapat secara otomatis mengetahui posisi armada dan shelter mana yang menjadi pemberhentian berikutnya,” tutur Hendi. “Dengan sistem ini harapannya dapat sebagai pemandu masyarakat yang naik Trans Semarang, sehingga bertambah nyaman,” tandasnya.

Sistem pemberitahun melalui GPS tersebut akan ada pada 20 armada baru BRT Trans Semarang yang dijadwalkan akan diluncurkan Hendi pada 12 Januari 2016 untuk Koridor I Mangkang – Penggaron. Sedangkan di bulan Februari nanti, Hendi juga akan menargetkan pengoperasian 6 koridor BRT. Saat ini, BRT Trans Semarang baru beroperasi di 4 koridor, yakni Koridor I Mangkang – Penggaron, Koridor II Terboyo – Sisemut Ungaran, Koridor III Pelabuhan Tanjung Emas-Akpol, dan Koridor IV Terminal Cangkiran – Stasiun Tawang.  Sedangkan penambahan 2 koridor tersebut akan beroperasi pada jalur PRPP – Dinar Mas dan Universitas Diponegoro – Universitas Negeri Semarang.

Sementara itu, kemarin persiapan pengoperasionalan armada baru BRT Trans Semarang tampak di Terminal Mangkang. Setidaknya ada 25 unit bus BRT besar warna biru dan delapan unit bus BRT warna merah ukuran kecil.

“Kalau yang warna biru ini rencana untuk Koridor I (Mangkang – Penggaron). Nanti ada 20-an yang dioperasionalkan, yang 5 unit untuk cadangan. Informasinya seperti itu. Kalau yang warna merah belum tahu,” ungkap Maskur, seorang pekerja saat ditemui di lokasi, Sabtu (7/1).

Pria yang mengaku dari vendor teknisi elektronik ini belum mengetahui jadwal pasti dioperasionalkannya ke-20 unit armada BRT tersebut. Menurutnya, saat ini, bus BRT masih dalam proses pengecekan berbagai fasilitas, di antaranya pemasangan alat komunikasi handy talky (HT).

“Ini masih finishing, pemasangan HT sama pembersihan. Semua BRT dipasangi HT, termasuk dari karoseri kan ada aksesoris display, semacam alat otomatis, misalkan jalan sudah sampai lokasi mana,” terangnya.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Triwibowo, menjelaskan sesuai rencana armada baru BRT Trans Semarang bantuan dari Kemenhub RI tersebut nantinya akan dioperasionalkan minggu depan. Bus baru ini akan menggantikan armada lama BRT jalur Mangkang – Penggaron.

“BRT (warna) biru bantuan Kemenhub RI menggantikan bus Koridor I yang sudah beroperasi sejak 2008. Minggu depan akan kita launching. Kalau tidak berubah hari Kamis (12/1) pagi,” ungkap Triwibowo.

Menanggapi terkait adanya kasus pencurian ban serep armada BRT di Terminal Mangkang, ia mengatakan kalau kejadian itu telah ditangani pihak kepolisian. “Kami tidak berani mengatakan apakah itu melibatkan orang dalam atau tidak, saat ini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian,” tegasnya.

Pihaknya juga belum bisa memberikan keterangan terkait kasus dugaan korupsi penyewaan tanpa izin 8 armada BRT senilai Rp 200 juta yang diduga dilakukan oleh oknum BLU Trans Semarang. “Masih dalam penyelidikan, karena dulu itu bukan bidang saya,” kilahnya. (zal/mha/aro)