SEMARANG – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang telah menganggarkan Rp 30 miliar untuk penambahan sambungan sebanyak 10 ribu pelanggan baru di 2017.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk menyiapkan pembangunan Instalasi Pengolahan Air di Jatisari Semarang. ”Rencana pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Jatisari tersebut dimulai pertengahan tahun ini. Kita targetkan ada penambahan sambungan terhadap 10 ribu pelanggan baru,” kata Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Etty Laksmiwati, kemarin.

Penambahan IPA untuk mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat yang berada di wilayah Semarang bagian barat. Berdasarkan penghitungan, kapasitas produksi IPA di Jatisari mampu mencapai 200 liter per detik. Pihaknya optimis, hal itu bisa mencukupi dan melayani masyarakat di Semarang Barat, secara maksimal. ”Selain itu, kami juga mengoptimalkan IPA di Kudu. Karena pertambahan jumlah pelanggan tahun ini cukup banyak,” katanya.

Selain itu, lanjut Etty, pihaknya juga sedang merancang pembangunan IPA di Jatibarang dengan memanfaatkan Waduk Jatibarang. ”Tetapi untuk Jatibarang, kami menunggu review desain. Pembangunan dilakukan secara bertahap,” terangnya.

Semua program, kata Etty, bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Secara umum, PDAM telah mengalami perkembangan cukup positif. ”Kalau tiga tahun lalu, tingkat kehilangan air masih 50 persen. Tetapi saat ini sudah bisa ditekan menjadi 39 persen. Ini cukup signifikan,” katanya. Secara total, jumlah pelanggan PDAM Kota Semarang saat ini kurang lebih 165 ribu pelanggan.

Pakar Hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Nelwan menilai PDAM sejauh ini belum bisa menjangkau kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Semarang secara menyeluruh. Sebab, banyak pengembang perumahan baru membuat sumur bor sendiri. Begitu pun hampir setiap hotel-hotel membuat sumur bor sendiri. Termasuk masyarakat yang berkategori kaya, rata-rata membuat sumur bor sendiri. ”Padahal jika banyak sumur bor di Kota Semarang, maka dampak jangka panjangnya adalah kekeringan karena air persediaan air dari perut bumi terkuras habis. Sejauh ini tidak ada kendali,” katanya.

Menurutnya, PDAM harus melakukan terobosan agar kebutuhan air bersih menjangkau kebutuhan masyarakat. Hal itu untuk mengurangi masyarakat membuat sumur bor. Selain itu, Pemkot Semarang sudah saatnya memikirkan solusi untuk membuat sumur perut bumi. ”Tujuannya untuk melakukan pengisian kembali air tanah di dalam perut bumi. Misalnya di Pudakpayung, dibuat sumur besar dalam tanah hingga ke lapisan kedap air. Ada aliran sungai yang dialirkan ke sumur tersebut. Sehingga ada pengisian ke dalam tanah agar jangka panjangnya tidak kekeringan,” katanya. (amu/zal/ce1)