Siapa sangka, dari madu nasib orang bisa berubah. Seperti apa yang dialami oleh Mulyono selaku Kepala Desa Cukil Kecamatan Tengaran ini. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tengaran

MADU saat ini banyak dikonsumsi banyak orang. Baik untuk menambah fitalitas maupun untuk obat menyembuhkan penyakit. Sementara itu, saat ini tidak banyak orang yang mau menekuni ternak lebah madu.

Padahal omzet yang didapatkan terbilang cukup tinggi. Seperti apa yang dilakukan oleh Mulyono, 51, warga Desa Cukil Kecamatan Tengaran ini. Mulyono sudah menekuni bisnis jual beli madu dari hasil ternak lebah madunya tersebut sejak tahun 1982.

Hasilnya, selain nilai ekonomi yang tinggi, nama Mulyono semakin dikenal baik di kalangan peternak lebah madu. Bahkan dari usahanya tersebut mengantarkan dirinya menjadi Kepala Desa Cukil saat ini.

Ketika ditemui di kediamannya yang tidak jauh dari Kantor Kepala Desa Cukil, ia mengungkapkan suka duka dalam berbisnis madu. Pada awalnya, Mulyono hidup dalam keterbatasan ekonomi. Pekerjaan yang dilakukan tidak menentu. “Terkadang ikut buruh bangunan, yang penting saat itu bisa menyambung hidup,” ujarnya, Rabu (4/1) kemarin.

Keinginannya untuk menjadi sukses terpacu ketika melihat sarang lebah madu yang ada di belakang rumahnya. Segerombolan lebah madu tersebut berkumpul dan membuat sarang menempel di sebuah pohon. Setelah satu bulan, madu dari belakang rumahnya tersebut ia panen. Lantas ia jual. Penjualanpun saat itu hanya dari mulut ke mulut.

Jumlah yang dijual juga tidak banyak. Hanya 5 botol kecil dari hasil panen madu di belakang rumahnya tersebut. “Warga desa kebetulan ada yang butuh dan langsung membeli 2 botol,” katanya.

Kemudian, sisanya ia jual di pinggir jalan. Seminggu barang jualannya baru laku. Keinginannya semakin memuncak manakala melihat sebuah program di televisi terkait dengan penggembalaan lebah madu. Sepeda ontel semata wayangnya langsung ia jual untuk modal mendatangkan lebah madu impor. “Saat itu kurang. Sehinga terpaksa harus pinjam,” tuturnya.

Bukan orang sukses kalau belum pernah gagal. Hal itu juga dirasakan Mulyono pada tahun 1999. Dimana banyak invasi lebah palsu di pasaran. Banyak pelanggan yang lari karena harga madu asli lebih mahal dan memilih madu palsu. Madu palsu tersebut adalah madu yang dicampur dengan gula. “Pencampurannya komposisinya 20 persen madu asli dicampur 80 persen gula. Banyak pelanggan yang tidak tahu beralih kesitu karena murah,” katanya.

Hingga kini sekali panen, setidaknya pundi-pundi rupiah yang mencapai angka jutaan berhasil ia kantongi. Tidak hanya itu, ia juga bisa memiliki karyawan untuk membantu menggembala lebah madu miliknya. Saat ini di Kecamatan Tengaran hanya Mulyono yang masih bertahan menjalankan bisnis lebah madu. “Tetangga kanan kiri dulu saya ajak untuk mencoba bisnis ini pada tidak mau, karena harga satu kotak lebah madu mencapai Rp 800 ribu dan lebahnya itu juga siap digembala,” katanya.

Kini ia sudah memiliki puluhan kotak berisi lebah madu siap digembala. Penggembalaan sendiri hingga luar kota. Mulai dari Kabupaten Pati hingga Pasuruhan Jawa Timur. “Tergantung dimana yang bunganya banyak, disitu kita sewa lahan yang ditumbuhi bunga tersebut. Kotak berisi lebah madu tinggal ditaruh,” katanya.

Sekali panen, dari 1 kuintal madu kotor yang masih bercampur dengan rumah lebah setelah disaring setidaknya dihasilkan 50 kilogram madu. “Pemasaran tidak pusing, banyak orang yang ngambil ke rumah. Jadi tidak perlu susah-susah keluar untuk menjualnya,” ujarnya.

Selain mengantarkannya menjadi Kepala Desa Cukil, hasil dari madu tersebut bisa memberangkatkan ia bersama keluarga besarnya untuk pergi menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu Haji. “Alhamdulillah sudah bisa haji,” katanya. (*/ida)