DEMAK-Kementerian Agama (Kemenag) Demak hingga kini terus menggencarkan gerakan tolak pungli dalam pelayanan publik yang ada di lingkungannya. Ini dilakukan sebagai wujud tekad dan kepedulian Kemenag terhadap peningkatan terkait pelayanan umum masyarakat.

Kepala Kemenag Demak HM Thobiq melalui Sekretarisnya H Muhaimin menegaskan bahwa program Kemenag pusat tersebut dijalankan di tingkat Kemenag daerah, termasuk di Demak. “Kami perang terhadap pungli,” katanya di sela memperingati hari Amal Bhakti Kemenag ke-71, kemarin.

Menurutnya, tolak pungli antara lain diterapkan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di kecamatan, utamanya dalam pengurusan pernikahan. “Nikah saat jam kerja di KUA gratis. Tidak dipungut sepeserpun,” katanya.

Sebab, pelayanan nikah di KUA sesuai jam kerja telah menjadi kewajiban petugas. “Kalaupun ada nikah di luar KUA atau di luar jam kerja, biaya sebesar Rp 600 ribu dibayarkan lewat bank. Itu sesuai aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Karena itu, dengan adanya saber pungli yang dijalankan pemerintah, diharapkan pelayanan umum di Kemenang menjadi lebih baik lagi. Dia menambahkan, gerakan tolak pungli juga sudah disosialisasikan ke sekolah atau madrasah yang ada di bawah naungan Kemenag.

Muhaimin mengatakan, selain tolak pungli, momentum Hari Amal Bhakti yang mengusung tema lebih dekat melayani umat ini juga diisi dengan program bedah tiga rumah warga miskin (dhuafa) serta penyaluran zakat pegawai dengan 1.500 bingkisan sembako masing-masing desa 30 orang yang tersebar di 14 kecamatan. Selain itu juga menyalurkan zakat produktif berupa 20 ekor kambing ke majelis taklim dan menggelar khataman Alquran. “Kami melaksanakan seribu khataman secara serentak yang diikuti pegawai, guru dan pelajar. 1 orang membaca atau mengkhatamkan 1 juz. Ini kita lakukan untuk menjadikan madrasah berbasis tahfidz,” ujar dia. (hib/ida)