SEMARANG – Laju inflasi Jawa Tengah sepanjang tahun 2016 sebesar 2,36 persen. Laju tersebut lebih rendah dibanding laju inflasi nasional yang sebesar 3,02 persen. Hal ini tak lepas dari kerjasama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan sejumlah pihak terkait.

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Samiran mengatakan, laju inflasi Jawa Tengah sepanjang tahun 2016 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Begitu juga bila dibandingkan dengan laju inflasi nasional. “Hal ini menunjukkan adanya keberhasilan TPID dan pihak-pihak terkait dalam menekan harga berbagai komoditas sebagai pemicu inflasi,” ujarnya, kemarin.

Berdasarkan penelitian, ucap Samiran, terdapat pola tertentu kenaikan harga beberapa komoditas yang menyebabkan tingginya inflasi. Di antaranya komoditas cabai, bawang, beras dan telur. “Telur misalnya. Biasanya mengalami kenaikan harga pada Lebaran serta Natal dan Tahun Baru. Hal ini karena kebutuhan masyarakat akan komoditas tersebut,” jelasnya.

Begitu juga cabai yang menjadi salah satu pemicu utama inflasi. Padahal, Jawa Tengah memiliki sentra-sentra penghasil cabai dengan produksi yang cukup memadai. Berdasarkan penelitian, ternyata cabai-cabai Jawa Tengah ini sebelum didistribusikan dan mencukupi kebutuhan Jawa Tengah, sudah lari duluan ke Jakarta. “Selama ini ada sistem ijon, begitu panen lalu dibawa ke Jakarta. Pengusaha jelas memilih mana yang harganya lebih tinggi. Diantaranya dibawa ke Jakarta. Pemerintah juga tidak menahan, penuhi dulu kebutuha Jawa Tengah baru didistribusikan ke daerah lain,” paparnya.

Oleh karena itu, TPID Jateng mengambil berbagai langkah dalam mengantisipasi hal tersebut. Mulai dari menggelar pasar murah dengan mendatangkan produk-produk langsung dari petani hingga menggiatkan program menanam cabai untuk rumah tangga. (dna/smu)