Ciptakan Aplikasi untuk Mendeteksi Kelainan Jantung

Eko Supriyanto, Profesor Asal Demak yang Jadi Direktur Pusat Penelitian Jantung di Malaysia

349

Banyak ilmuwan Indonesia yang memilih berkiprah di luar negeri karena keterbatasan fasilitas riset di tanah air, bahkan tidak sedikit yang mencetak prestasi mengagumkan. Salah satunya Prof Dr Ing Eko Supriyanto. Berkat aplikasi deteksi kekuatan jantung buatannya, profesor asal Demak ini direkrut menjadi Direktur Pusat Penelitian Jantung Negara di Malaysia. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

SEJAK masih remaja, Eko Supriyanto memang suka dengan sesuatu yang berbau kesehatan. Tapi, ketika kuliah, pria kelahiran Desa Ngelo Wetan, Kecamatan Mijen, Demak ini justru masuk di Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski kuliah di elektro, dia mampu memadukan ilmu kesehatan dengan teknologi yang dipelajari. Bahkan, di usia 33 tahun, dia sudah meraih gelar profesor dan doktor di Hamburg, Jerman. Eko juga mampu mengantongi lebih dari 30 hak paten dari produk rekayasa biomedis ciptaannya. Sayang, produk tersebut tidak dimiliki Indonesia. Tapi, dia melakukan penelitian di bawah Universitas Teknologi Malaysia (UTM).

Produk yang dihasilkan Eko merupakan paduan ilmu teknologi dan kedokteran untuk menghasilkan alat-alat pembantu diagnosis, terapi dan rehabilitasi. Beberapa produk di antaranya adalah boneka pintar untuk menguji dan meningkatkan kemampuan anak balita, USG untuk bidan, transceiver untuk telemedika, power meter untuk mesin terapi ultrasonik, sonoimprometer untuk menguji alat USG, instrument magnetoakustik untuk mendeteksi kanker payudara, alat deteksi dini penyakit Alzheimer, biosensor untuk mendeteksi kanker serviks, robot untuk melakukan tomografi ultrasonik, stimulator otak untuk meningkatkan kemampuan belajar, serta obat herbal untuk mengobati kanker payudara.

Salah satu produknya disebut Smart Doll adalah alat boneka pintar karena tidak hanya buat mainan.

”Boneka itu saya namai Elissa. Boneka ini bisa menguji kemampuan anak-anak balita, terutama bisa berfungsi bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” jelas Eko seraya menambahkan Elissa bisa menguji kemampuan kognitif, psikomotorik, sosio emosional, bahasa dan wilayah lain yang menjadi standar dalam menganalisis perkembangan anak.

”Setelah mendeteksi, alat akan mengeluarkan hasil analisa dan program atau semacam kurikulum untuk memandu training anak tersebut selama seminggu ke depan. Semua bertujuan agar kemampuan anak lebih baik,” beber pria 36 tahun ini yang waktu SD hingga SMA biasa angon kambing di Mijen, Demak ini.

Ia menjelaskan, alat ini juga bisa menyanyikan lagu yang disukai anak-anak dan mendongengkan sebuah cerita. Sistem di dalam boneka ini telah diprogram untuk menyimpan beberapa lagu dan dongeng populer. Alat yang ditujukan untuk membantu orang tua dan dokter mengenal anak ini dinamakan Eko berdasarkan nama putrinya sendiri. Sekarang, alat itu telah dikembangkan dan dipakai oleh beberapa pusat perkembangan anak di Malaysia.

Selain boneka pintar, Eko juga mengembangkan transceiver sistem telemedika, sebuah perangkat yang didesain untuk meminimalisasi biaya diagnosis jarak jauh. Menurutnya, di pedesaan (rural area) pun banyak masyarakat yang menderita penyakit seperti jantung, stroke dan penyakit yang membutuhkan pemantauan. Dengan alat ini, pemantauan bisa dilakukan secara mudah dan murah, hanya bermodal instalasi listrik.

”Kita hanya perlu listrik saja di desanya dan tak perlu internet, karena internet dibutuhkan setelah sampai di kota. Jadi, nanti kita jual satu perangkat alat yang terdiri atas pemancar dan penerima saja. Teknologi ini sangat murah,” katanya.

Dalam merancang setiap peralatannya, Eko selalu berpegang teguh pada tiga hal, yakni lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman. Hal itu dijadikan prinsip, sebab teknologi diagnosis yang berdasarkan rekayasa biomedis haruslah aman dan bisa dijangkau masyarakat luas.

Produk selanjutnya adalah alat deteksi awal penyakit Alzheimer. Dengan alat ini kita dapat memprediksi kapan seseorang akan mendapat penyakit Alzheimer.  Dari hasil simulasi dan pengujian yang dilakukan, didapati bahwa alat ini mampu mendeteksi Alzheimer, bahkan 30 tahun sebelum seseorang mendapat Alzheimer, yang berakhir dengan kematian. Produk ini mendapat penghargaan internasional sebagai produk dunia terbaik dari KIPA Korea Selatan dan produk paling kreatif di dunia dari National Research Council Thailand pada 2011.

Eko juga mengembangkan alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini. Lewat teknologi baru yang dibuatnya, kanker serviks (leher rahim) bisa dideteksi hanya dengan cara menganalisis pembalut wanita yang digunakan saat menstruasi. ”Cara ini akan membuat wanita lebih nyaman untuk didiagnosa apakah mempunyai kanker serviks atau tidak,” tuturnya.

Yang terbaru, Eko juga melahirkan aplikasi yang mampu mendeteksi kekuatan jantung seseorang. Lewat aplikasi gratis yang bisa diakses di www.myhealth-screening.com ini, seseorang bisa tahu kira-kira usia berapa terkena risiko penyakit jantung koroner, atau kelainan jantung lain. Aplikasi yang di-launching di Malaysia pada April 2016 silam.

Dijelaskan Eko, aplikasi ini hanya sebatas ramalan berdasarkan pola hidup dan makanan yang dikonsumsi seseorang. Ada sejumlah daftar pertanyaan dari hal-hal yang bisa diukur secara medis. ”Merokok atau tidak, olahraganya apa, berapa jam, apa yang dikonsumsi, dan lain sebagainya,” ucapnya ketika berkunjung ke Semarang, kemarin.

Eko mengaku, aplikasi tersebut dibuat dari kebiasaannya yang ingin menjalani pola hidup sehat. Dari motivasi itu, dia berpikir, bagaimana mengukur secara kuantitatif efek pola hidup sehat yang telah dilakukannya. Lantas, dibuatlah sebuah grafik mulai sistem jantung sesuai dengan bidang medis yang ditekuninya selama ini. ”Harapan saya alat ini bisa jadi alat nasional mengetahui risiko jantung dari seluruh rakyat Indonesia. Maka saya buat statistiknya,” katanya.

Untuk mendeteksi kelainan jantung via aplikasi, Eko mengaku perlu mengukur sejumlah faktor risiko. Pertama terkait risiko genetik dan keturunan. Kedua, sistem tubuh seseorang, seperti berat badan kita lebih capat, tekanan darah, kolesterol dan gula darah. Ketiga terkait gaya hidup, seperti makanan, minuman, aktivitas fisik, udara sekitar hingga faktor mental.

”Dari grup itu kembangkan rumus dalam bentuk aplikasi, lalu kita hitung dan deteksi di usia berapa orang dapat penyakit jantung,” ujarnya.

Eko sendiri mengaku butuh waktu enam bulan dalam melakukan riset medis aplikasinya. Rinciannya, tiga bulan membuat rumusan dan tiga bulan menerapkan software-nya. Sedangkan uji coba aplikasi itu butuh waktu selama satu tahun. Uji coba itu dengan melakukan data testing terhadap 12 ribu orang di dunia serta testing pasien sebanyak 400 orang. Biaya membuat aplikasi ini pun cukup terjangkau senilai Rp 200 juta.

”Tingkat akurasi aplikasi ini mencapai 95 persen dari data yang memverifikasi. Tapi saat ini pengunjung baru 400 orang per bulan. Selain baru di-launching, kami juga belum menggencarkan aplikasi ini,” jelasnya.

Berkat kecerdasannya itu, Eko dipercayai oleh pemerintah Malaysia menjadi Direktur Pusat Penelitian Jantung Negara kerja sama antara Institut Jantung Negara Malaysia dan Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Sebelumnya dia mengemban tugas sebagai Ketua Jurusan Sains Klinikal di UTM.

”Tugas saya adalah untuk menghasilkan jantung buatan yang harganya dapat dijangkau dan aman untuk dipakai. Di Malaysia, harga implantasi satu jantung buatan adalah sekitar RM 500 ribu (Rp, 1,8 miliar). Saya berharap harga ini bisa ditekan menjadi hanya sekitar Rp 800 juta, sehingga banyak orang yang memerlukan jantung dapat diselamatkan hidupnya,” kata Eko.

Di Indonesia, Eko aktif dalam berbagai kegiatan profesional lintas kementerian. Mulai menjabat sebagai Ketua Kelompok Kerja Nasional Komersialisasi Teknologi Indonesia di Kementerian Keuangan, membantu peningkatan industri alat kesehatan dalam negeri di Kementerian Kesehatan, melakukan pengujian alat komunikasi di Kementerian Informasi serta pengembangan Techno Park di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. (*/aro/ce1)