SALATIGA-Tiga pelaku yang diduga terlibat dalam pengguguran bayi atau aborsi berhasil diringkus Resmob Polres Salatiga. Penangkapan tersebut hasil dari pengembangana perkara yang menyeret Clara, 19, beberapa waktu lalu. Ketiganya ditangkap dalam waktu dan lokasi yang berbeda-beda.

Ketiga tersangka tersebut adalah dukun pijat, Mutiah, 53, warga Desa Bengkal RT 01 RW 01, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo; Rustanto, 21, warga Kadang RT 01 RW 02, Kecamatan Ampel, Boyolali yang merupakan pacar Clara serta Agus Bayu Prasetyawan, 36, warga kampung Gendongan RT 10 RW 01, Kecamatan Tingkir Salatiga selaku perantara (calo) dari dukun pijat.

Dalam gelar perkara di Mapolres Salatiga, Selasa (3/1), kasus tersebut bermula ketika Clara dan Ristanto mendatangi Agus untuk minta bantuan menggugurkan kandungan Clara yang sudah berumur 7 bulan. Pasangan tak resmi itu kalut karena sudah mengonsumsi berbagai obat dan jamu penggugur kandungan, namun tidak mempan.

”Saya memang sudah kenal, tapi lama sudah tidak ketemu. Saat menemui saya, (Clara dan Ristanto) meminta tolong untuk mengantarkan ke dukun pijat (penggugur kandungan),” kata Agus saat ditanya penyidik.

“Kebetulan saya punya alamat Mutiah karena pernah diajak ke sana oleh teman. Mereka akhirnya saya antar ke sana (rumah Mutiah),” imbuhnya.

Clara dan Ristanto akhirnya membayar uang Rp 3 juta kepada Agus sebagai ongkos untuk menggugurkan kandungan. Kemudian, pada 17 Desember 2016, mereka bertiga menemui Mutiah. Clara kemudian dipijat untuk menggugurkan kandungannya.

Karena sempat kesulitan untuk mengeluarkan janin yang sudah berumur 7 bulan, si dukun pijat sempat menusukkan batang ketela ke ketuban Clara. Proses pijat pengguguran kandungan pun akhirnya selesai, meski bayi belum keluar saat itu juga.

Paginya, Jumat (18/12), Clara mendatangi tempat kos temannya di Pengilon. Sales promotion girl (SPG) sebuah counter ponsel di Salatiga ini akhirnya melahirkan bayinya di kos-kosan temannya. Setelah melahirkan bayi yang sudah tewas, ia membungkusnya dengan plastik dan hendak menguburkannya. Tapi polisi keburu menangkap Clara setelah mendapat informasi dari masyarakat.

Rustanto mengaku, tindakan itu terpaksa dilakukan karena ia belum siap untuk menikah. Ia juga mengaku menjalin asmara dengan Clara sejak 1,5 tahun lalu. “Saya belum siap menikah, karena mau menyelesaikan kuliah dulu,” kata Rustanto yang juga mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Solo ini.

Demikian halnya Clara, ia juga malu bila ketahuan hamil karena belum bersuami sehingga tidak keberatan untuk menggugurkan kandungannya.

Sementara Mutiah mengaku sebenarnya ia hanya dukun pijat capek dan baru kali ini menggugurkan kandungan. Ia tergoda imbalan yang cukup besar, Rp 1 juta. “Saya khilaf, saya mohon maaf,” kata Mutiah.

Kapolres Salatiga AKBP Happy Perdana Yudianto memastikan, atas perbuatan tersebut, nantinya para tersangka akan dijerat pasal 77 a UU RI no 35 tahun 2014 tentang Aborsi. Mereka terancam hukuman 10 tahun penjara. (jks/ton)