Sub Terminal Mangkrak, Ambarawa Macet

505

UNGARAN–Mengkraknya Sub Terminal Ambarawa yang berada persis di depan Pasar Projo menjadi biang kemacetan lalulintas di kawasan tersebut. Pasalnya, angkutan umum yang seharusnya parkir di sub teminal, justru tumpah ruah di sepanjang jalan.

Kepala Bidang Lalulintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang, Joko Nuryanto mengatakan bahwa selama ini pemfungsian sub terminal tersebut masih salah kaprah. “Selama ini, penggunaan kantong parkir angkutan umum di depan Pasar Projo salah kaprah dan belum dioptimalkan, hanya digunakan bongkar muat pedagang pasar,” ujarnya, Selasa (3/1) kemarin.

Padahal fungsi sub terminal, kata Joko, sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang serta parkir bagi angkutan umum. Selama ini, mangkraknya sub terminal tersebut berdampak kepada banyaknya angkutan umum yang lebih memilih menaikkan dan menurunkan penumpang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan. “Dulu saat ada kebakaran Pasar Projo, sub terminal tersebut ditempati pedagang untuk bongkar muat barang dagangan,” katanya.

Seiring berjalannya waktu dan tidak adanya penegakan hukum, kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut dan berlanjut hingga sekarang. “Itu perlu sosialisasi kepada pedagang agar tidak hanya melakukan bongkar muat di situ dan sosialisasi ke semua angkutan umum,” tuturnya.

Kendati begitu, Joko mengakui perlu pembangunan sub terminal tersebut, karena kontur tanah sub terminal miring. Sehingga perlu diratakan terlebih dahulu agar bisa menampung banyak angkutan umum. “Pembangunannya harus menggunakan sistem cut and field, sehingga tanah tidak terlalu turun. Akhirnya angkutan umum bisa parkir disitu,” katanya.

Semrawutnya kondisi lalulintas di Ambarawa memang menjadi persoalan klasik yang hingga kini tak kunjung usai. Kepala Dinas Perhubungan, Prayitno Sudaryanto menambahkan pembenahan lalulintas Ambarawa akan diawali dengan melakukan inventarisasi permasalahan yang ada. Terutama di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. “Volume, kapasitas, antrean, merupakan permasalahan lalulintas yang harus diprioritaskan. Selain itu, pemaksimalan fungsi dari rambu-rambu lalulintas,” katanya.

Hingga kini, imbuhnya, meski sudah dilakukan pemasangan rambu lalulintas masih banyak kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang tidak memperhatikan. “Memang untuk penegakan hukumnya ada di kepolisian. Sesuai dengan Undang-Undang 22 tahun 2009 tentang lalulintas dan angkutan jalan, kita hanya pemasangan rambu,” katanya.

Dikatakan Prayitno, pengaturan trayek juga perlu dilakukan untuk mengurangi tingkat kemacetan di Ambarawa. Seperti halnya, trayek dari arah Jambu, Banyubiru, dan dari Bandungan menuju Bawen diharapkan tidak ada perputaran di kawasan Ambarawa. “Trayek yang ada seperti prona jurusan Ungaran-Ambarawa seharusnya melalui Ngrengas dan Jalan Kartini. Sehingga dapat mengurangi kekroditan lalulintas. Penataan lalulintas di Ambarawa akan dilakukan melalui studi terlebih dahulu,” katanya. (ewb/ida)