SEMARANG – Aliansi Masyakat Buruh Jateng berencana menggelar aksi besar-besaran untuk mendukung pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang. Aksi tersebut merupakan wujud pengawalan keputusan dari tim yang dibentuk pemerintah pusat yang akan diumumkan 17 Januari mendatang.

Koordinator Aliansi Masyarakat Buruh Jateng, Eko Suyono menjelaskan, aksi besar-besaran tersebut akan digelar di bundaran Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, pada hari keputusan pemerintah pusat. Aksi tersebut merupakan aksi damai. Yaitu menggelar doa berdama atau istighotsah.

”Rencananya ada ribuan buruh dari berbagai daerah yang ikut. Paling banyak dari buruh di bilangan Kabupaten Rembang. Sisanya dari Karesidenan Semarang, Kedu, dan Surakarta,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (3/1).

Dijelaskan, istighotsah tersebut untuk mendukung keberlangsungan pabrik semen. Mereka merasa, pemerintah sudah hadir demi menyejahterakan rakyat Rembang dengan menyediakan lapangan kerja lewat PT Semen Indonesia.

Menurut Eko, keberadaan pabrik semen pasti akan membutuhkan banyak buruh sebagai tenaga kerja. Selain itu, masih banyak kelebihan lain jika pabrik jadi berdiri. Terlebih, pabrik ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang otomatis aset milik negara. Praktis, ketika negara ingin berinvestasi dengan nilai yang sangat besar, jika gagal beroperasi tentu akan merugikan negara.

”Adanya investasi besar di Rembang, juga kami yakini bakal mengangkat kesejahteraan buruh. Karena dampaknya tentu akan mengangkat nominal Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang kini hanya Rp 1,4 juta,” katanya.

Mengenai dampak lingkungan atas adanya pembangunan pabrik semen, menurut Eko, sudah ada kajian mendalam melalui Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Baik oleh pemerintah maupun pihak perusahaan.

”Sejarah juga membuktikan, di Pegunungan Kendeng juga dilakukan penambangan rakyat selama puluhan tahun. Bahkan, ada pengusaha asing yang membeli lahan untuk tambang di Rembang. Sekarang pas negara yang hadir, kenapa ditolak?” katanya.

Terpisah, sejumlah warga penolak pabrik semen di Rembang, sampai saat ini masih menggelar aksi di depan kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Kota Semarang. Mereka juga membentangkan spanduk berisi penolakan adanya kegiatan penambangan di Rembang.

Koordinator aksi Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Joko Priyanto mengatakan, pihaknya akan tetap menggelar aksi di depan kantor gubernur sampai adanya kejelasan mengenai keputusan dihentikannya rencana operasional pabrik semen di Rembang.

”Kami masih tetap akan menggelar aksi sampai 17 Januari mendatang. Kami tetap melakukan aksi sampai tuntutan dikabulkan,” katanya.

Dijelaskan, tiap hari para warga yang ikut aksi datang ke depan kantor gubernur saat pagi, dan pulang menjelang sore. Sementara untuk malam harinya, menginap di Pondok Pesantren Soko Tunggal Sendangguwo Kota Semarang asuhan KH Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril.

”Untuk kebutuhan makan dan lain-lain, ada yang bawa sendiri dan memasak sendiri dari rumah. Sebagian ada bantuan dari warga Semarang, dan ada juga solidaritas para mahasiswa dan lainnya,” tandasnya. (amh/ric/ce1)