SEMARANG – Pasar Kembang Kalisari yang telah diresmikan pada Jumat (23/12) 2016 lalu, ternyata hingga sekarang belum teraliri listrik. Hal itu menjadi salah satu keluhan para pedagang. Selain itu, banyak kios yang tersedia masih terlihat kosong.

Belum adanya fasilitas listrik tersebut membuat para pedagang tidak bisa berjualan hingga malam hari. Pasalnya, ketika menjelang malam, kondisi deretan Pasar Kembang ini gelap gulita. ”Listrik belum menyala. Tapi kemarin saya lihat sudah ada petugas yang datang untuk memasang instalasi,” kata salah satu pedagang bunga di Pasar Kembang Kalisari, Afri, Senin (2/1).

Dia berharap agar Pasar Kembang tersebut segera dialiri listrik. Selama ini, meski kondisinya telah rapi dan bersih, tetapi masih terganggu karena belum ada aliran listrik. Akibatnya, para pedagang setiap sore atau menjelang malam harus ’beres-beres’ untuk pulang. ”Saya menutup kios pukul 17.00 atau menjelang magrib, karena sudah mulai gelap. Standar biasanya, kios-kios Pasar Kembang berjualan hingga pukul 21.00-22.00. Itu pun kalau banyak pesanan harus lembur,” katanya.

Tentunya, karena listrik belum ada, aktivitas pedagang sangat terganggu dan belum nyaman. Bagaimanapun, listrik merupakan kebutuhan primer. Sama halnya air bersih. ”Selain itu, kami juga minta agar pedagang Florist diperbolehkan membuat sekat di bangunan atas. Karena selama ini kondisinya terbuka dan membuat kurang nyaman,” katanya.

Para pedagang rata-rata kebingungan menaruh barang berharga karena kondisinya terbuka. Makanya, saat ini masih banyak pedagang belum menempati blok-blok di lantai 2. ”Banyak pedagang masih persiapan pindah,” katanya. Jumlah pedagang di kawasan tersebut sebanyak 41 kios di shelter tanaman hias, 63 kios florist, dan 7 kios pedagang pot. Jumlah totalnya sebanyak 111 pedagang.

Kepala Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Kota Semarang Agus Riyanto mengatakan masih melakukan penyelesaian. Termasuk penyediaan aliran listrik untuk Pasar Kembang Kalisari. ”Tahap 1 sudah selesai, tinggal melengkapi. Ini nanti langsung dilanjutkan ke tahap 2. Setelah Pasar Kembang jadi, Januari nunggu OPD baru, langsung dilanjutkan,” katanya.

Pembangunan tahap 2 tersebut, di antaranya revitalisasi sungai di belakang Pasar Kembang dan pengecatan secara serempak di dua RW yakni RW 3 dan RW 4, Kelurahan Randusari, Semarang Selatan untuk dijadikan sebagai Kampung Pelangi. ”Tapi itu masih akan dikoordinasikan dengan lurah, camat, dan bekerja sama dengan CSR. Warga yang rumahnya belum diplester nanti kami bantu semen. Januari ini masih konsolidasi. Mungkin Februari bisa bergerak. Ada sebanyak 432 rumah warga. Nanti juga menyesuaikan kondisi cuaca mengingat ini berkaitan dengan pengecatan,” katanya.

Dalam menggarap kampung tersebut, pihaknya nanti juga melibatkan sejumlah arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kota Semarang. ”Selain itu juga melibatkan seniman, sketser, beberapa titik mungkin ada yang dibikin 3 dimensi. Termasuk grafitti maupun mural. Semua kami desain, agar pengecatan tidak ngawur,” katanya. Selain pengecatan, sungai di tepi Pasar Kembang tersebut dilakukan normalisasi dan memperbaiki pedestrian hingga Tugu Muda. (amu/zal/ce1)