Djawahir Muhammad
Djawahir Muhammad

Oleh: Djawahir Muhammad

SELASA, 2 Januari 2017 ini adalah hari kedua di 2017. Sebagian orang berpendapat bertambahnya tahun memperpanjang usia mereka, sebagian lagi berpikir bahwa pergantian waktu justru mengurangi ”kontrak” usia mereka. Sedangkan para filsuf berpendapat bahwa waktu bersifat tetap, tetapi manusia lah yang berubah.

Dalam logika para filsuf dan ilmuwan, bumi, matahari, dan bulan konsisten berputar pada porosnya. Sedang manusia berubah dari waktu ke waktu karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang memungkinkannya hidup.  Sewaktu-waktu ia ke selatan, lain kali ke utara. Begitulah konsep manusia dan perputaran waktu yang berlangsung secara universal. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.

Di Semarang, perubahan waktu (pergantian tahun) memberi makna yang berbeda bagi tiap-tiap orang. Ada yang menyitir pendapat almarhum Si Burung Merak WS Rendra bahwa ”kemarin dan esok adalah hari ini” karena melihatnya secara pasif. Ada yang bergairah melihat perkembangan kota yang begitu dinamis, tetapi ada pula yang justru melihatnya secara setback (mundur ke belakang) seraya membandingkan kondisi kota ini dengan zaman ”voor de orlog” (tempo doeloe) alias ”djaman normal”.

Ketiga pendapat itu berangkat dari objek yang sama. Misalnya kebijakan penanganan banjir dan rob yang menjadi ciri Semarang di musim hujan. Dari tahun ke tahun, kebijakan itu dianggap sama saja alias gagal, seraya membandingkan dengan zaman normal dulu di mana banjir dan rob  tidak pernah terjadi.

Bertambahnya jumlah hotel berbintang, perkantoran, dan mal pada dua-tiga tahun terakhir ini merupakan kemajuan infrastuktur, khususnya di sektor pariwisata atau MICE (meeting, incentive, conference, event). Tapi pada sisi yang lain bangunan-bangunan modern tersebut juga menjadi penyebab lenyapnya kampung-kampung lama dari peta kota (kampung Purwodinatan, Sekayu, Basahan, dll).

Kemacetan

Perjalanan waktu di Semarang juga ditandai semakin parahnya kemacetan yang terjadi pada ruas-ruas jalan. Dahulu jalan raya tidak semacet sekarang ketika motor dan mobil mudah dimiliki secara angsuran. Dulu, angkota (angkutan kota, Daihatsu) kelebihan penumpang, tapi kini kekurangan penumpang. Sebagian karena penumpangnya sudah punya motor/mobil sendiri, sebagian lagi karena trayeknya dilewati oleh bus BRT. Bagi mereka, pergantian waktu, pergantian tahun, berarti semakin berat tantangan yang harus dihadapi.

Pergantian 2016-2017 ini juga ditandai semakin kuatnya spirit pluralisme warga kota. Bermacam-macam event mempertemukan tokoh-tokoh agama, etnis dan budaya. Terdapat sejumlah acara di mana para kiai, romo, seniman dan LSM menyatu dan duduk lesehan bersama. Atau berbagi pesan lewat akun  Facebook atau Twitter.

Dari bermacam-macam kegiatan pasca 2016 dan perlu ditingkatkan pada 2017 adalah aktivitas di Kota Lama. Di kawasan peninggalan Belanda seluas 30 hektare  itu telah berlangsung sejumlah event, pasar benda antik dan barang seni (Padangrani), galeri seni rupa, kafé, rumah makan, dan lain-lain kegiatan yang berpusat di Taman Srigunting. Pada 2018 direncanakan kawasan ini memperoleh sertifikat sebagai kawasan cagar budaya oleh UNESCO, dengan motor Oen Foundation. Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama-sama akan memback up.

Event pergantian tahun memang bukan sekadar pesta di kafé, hura-hura di jalan raya atau lapangan terbuka, pesta kembang api, membakar ikan atau jagung, maupun upacara me-review aktivitas tahun lalu. Tapi juga kesempatan untuk memprogram masa depan yang lebih baik. Upacara ini juga bermakna sakral karena memiliki dimensi ukhrawi, memiliki dimensi budaya, pendidikan, juga ekonomi.

Allah Ta’ala bahkan memperingatkan dalam Alquran (surat Al Ashr, Waktu), agar kita menggunakan waktu secara efektif dan efisien, bersabar, dan berpesan baik satu sama lain agar kita tidak merugi di hari kemudian. Nah, Selamat Tahun Baru 2017, Wattawa saubil haq, wattawa saubis sabri ! (*)