Apindo Bantah Tampung TKA Ilegal

306

”Kalau tenaga kerja asing, termasuk dari Tiongkok, cukup mahal. Belum lagi, perusahaan juga ikut mengurusi izin-izin agar mereka bisa bekerja di sini.” Frans Kongi, Ketua Apindo Jateng

SEMARANG – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng membantah menampung tenaga kerja asing (TKA) ilegal dari Tiongkok. Sebab, mereka lebih memilih memberdayakan tenaga kerja lokal lantaran dianggap lebih murah upahnya dan mampu meningkatkan perekonomian warga di sekitar pabrik.

”Kalau tenaga kerja asing, termasuk dari Tiongkok, cukup mahal. Belum lagi, perusahaan juga ikut mengurusi izin-izin agar mereka bisa bekerja di sini,” kata Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi, Minggu (1/1).

Dia mengakui, ada segelintir tenaga kerja Tiongkok yang bekerja di beberapa perusahaan anggota Apindo. Mereka dipekerjakan dalam kondisi khusus. Di antaranya memasang atau memperbaiki mesin. ”Kalau beli mesin dari Tiongkok, biasanya yang memasang mesin ya pihak sana. Termasuk memberikan pelatihan teknisi lokal agar bisa mengoperasikan mesin tersebut,” paparnya.

Pekerja dari Tiongkok yang seperti itu lanjutnya, memang visa atau izinnya bukan sebagai pekerja. Biasanya berstatus wisatawan. Baginya, itu bukan masalah. Toh pengerjaan dan pelatihan mesin hanya satu-dua pekan. Tidak berbulan-bulan.

Karena itu, untuk meminimalisir tudingan adanya tenaga kerja ilegal dari Tiongkok, Frans meminta pihak imigrasi untuk bekerja lebih keras. Semua orang asing yang masuk ke Jateng, terutama lewat bandara, bisa didata secara detail. Berapa lama tinggal, di mana, keperluannya apa, dan lain sebagainya. Dari data tersebut, mereka bisa dipantau. ”Jika sampai tanggal kepulangan, orang asing tersebut ternyata belum pulang, bisa dicek keberadaannya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng, Wika bintang menjelaskan, sepanjang 2016 lalu, terhitung ada 369 tenaga kerja dari Tiongkok yang bekerja di Jateng. ”Itu berdasarkan izin tenaga kerja asing yang masih berlaku berdasarkan sistem online,” tegasnya. (amh/ric/ce1)