Wacanakan Dua Hari Berbahasa Inggris

37

SEMARANG – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo berwacana mewajibkan siswa SMA/SMK berbicara bahasa Inggris, dua hari dalam sepekan mulai 2017 mendatang. Harapannya, lulusan SMA/SMK bisa lancar berbahasa Ingggris.

Ganjar meminta hal ini diseriusi. Menurutnya, generasi muda Indoensia seringkali tertinggal dengan generasi bangsa lain karena faktor bahasa. Jika bahasa dikuasai, makin banyak ilmu yang bisa diserap siswa. Tidak hanya berkutat pada informasi berbahasa Indonesia saja. ”Kalau bahasa bagus, membaca ilmu pengetahuan jadi bagus. Saya mendorong kebiasaan karena kalau sudah mudeng, kan gampang,” ucapnya, Kamis (8/12).

Dia pun meminta instansi pendidikan mengubah kurikulum pelajaran. Menyesuaikan dengan rencana gubernur untuk mendorong agar pelajar jago bahasa Inggris. Ganjar merasa, belajar bahasa Inggris hanya hitungan jam di sekolah, tergolong kurang efektif. Sebab, bahasa bukan pelajaran hafalan. Tapi harus dijadikan kebiasaan setiap hari. ”Saya mendorong agar kurikulum bisa seminggu dua hari penuh. Ini hanya cerita kebiasaan saja. Ke depan, ada bahasa lainnya seperti Jepang, Korea, Mandarin, atau Arab,” tegasnya.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen Adv menjelaskan, sah-sah saja jika gubernur mewacanakan kebijakan ini. Toh mulai 2017 mendatang, SMA/SMK menjadi kewenangan pemprov. Hanya saja, dia meminta agar pemerintah punya komitmen dalam implementasinya. Jangan sampai hanya kebijakan saja tanpa ada pengawasan.

Dia mencontohkan program wajib berbahasa Jawa setiap Kamis untuk semua instansi pemerintah dan pendidikan. ”Apa sudah berjalan dengan semestinya? Bagaimana evaluasinya? Wajib berbahasa Jawa ini sudah ada Perdanya, lho,” ucapnya.

Ketika wacana dua hari berbahasa Inggris ini direaliasikan, semua pihak harus konsisten, termasuk guru. Selama ini, bahasa Inggris hanya menjadi ranah guru bahasa Inggris saja. ”Yang jadi pertanyaan, apakah semua guru SMA/SMK sudah memiliki kemampuan bahasa Inggirs sebagai alat komunikasi?” imbuhnya.

Pemerintah pun harus mempertimbangkan sarana prasarana penunjang seperti laboratorium bahasa di semua SMA/SMK. Termasuk SMA/SMK swasta. Jika ada yang belum punya, dikhawatirkan siswa dan guru akan merasa kesulitan belajar komunikasi dengan bahasa Inggris. Menurutnya, selama ini, pelajar yang jago bahasa Inggris, biasanya belajar dari luar sekolah. Seperti kursus atau les privat.

”Kalau bicara siap atau tidak siap diimplementasikan di Januari 2017, saya belum bisa melihat. Tapi kalau ada semangat, mungkin bisa. Semangat ini bukan asal semangat. Harus mempertimbangkan aspek sarana prasarana dan SDM-nya,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jateng, Nur Hadi Amiyanto mengaku telah berupaya mendongkrak penguasaan guru dalam berbahasa Inggris lewat kerja sama dengan Australia. Kerja sama ini berupa tukar-menukar guru dan siswa untuk saling mendalami bahasa masing-masing.

Untuk mendongrak kemampuan siswa dalam menguasai bahasa asing, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat dengan mendatangkan tenaga pengajar sebagai native speaker atau pengguna bahasa asli. Mereka melatih listening, speaking, dan cara berkomunikasi bahasa Inggirs kepada siswa. ”Itu upaya-upaya yang kami lakukan. Harapannya di era global, anak-anak kita tak punya kendala komunikasi bahasa,” katanya.

Selain itu, dia juga membagikan Surat Edaran kepada seluruh SMA/SMK di Jateng, 7 bulan lalu. Surat itu berisi tentang imbauan ke SMA/SMK terkait English Day. Bahwa mulai kelas X sampai XII dalam satu hari selama seminggu, cara berkomunikasi di sekolah agar menggunakan bahasa Inggris.

Meski begitu, pemprov masih sebatas memberikan imbauan karena kewenangan pengelolaan SMA/SMK masih ada di pemkab/pemkot. Sementara mulai adanya pemberlakuakn UU 23 tahun 2014 bahwa SMA dan SMK mulai 1 Januari 2017 jadi kewenangan provinsi, maka akan dimaksimalkan. (amh/ric/ce1)

BAGIKAN