Tak Pelit Berbagi Ilmu Bisnis asal Sungguh-Sungguh

Kisah Sukses Siti Nur Azizah Berbisnis Air Bersih Gunung Ungaran (2-Habis)

119
INSPIRATIF: Siti Nur Azizah yang sukses berbisnis suplai air bersih. (EKO WAHYU BUDYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INSPIRATIF: Siti Nur Azizah yang sukses berbisnis suplai air bersih. (EKO WAHYU BUDYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Setelah 16 tahun menekuni bisnis air Gunung Ungaran, kini banyak yang mengikuti jejak Siti Nur Azizah. Persaingan bisnis pun semakin ketat. Namun Siti tetap mampu bertahan. Bahkan, kini usahanya semakin berkembang.

EKO WAHYU BUDIYANTO

SETIAP berbisnis pasti ada pasang surutnya. Itu juga yang dialami Siti Nur Azizah. Bagi warga Kluwihan, Ungaran Barat ini, musim kemarau merupakan waktu di mana ia memperoleh keuntungan yang besar dari bisnisnya. Bahkan, dalam sehari dirinya bisa mengirim air bersih hingga ke 100 pelanggan di sejumlah daerah.

”Kalau musim kemarau kan banyak yang kekeringan. Atau yang berlangganan PDAM sering macet. Begitu pula yang usaha air minum isi ulang, biasanya permintaan juga naik. Karena musim kemarau biasanya udara panas, sehingga orang ingin minum sebanyak-banyaknya,” kata wanita kelahiran Ungaran, 1 Januari 1962 ini.

Untuk memenuhi kebutuhan para pelanggannya tersebut, ia pun menyiapkan 30 sopir. Mereka bekerja bergantian menyuplai air bersih ke pelanggan menggunakan 19 truk tangki berkapasitas 5.500 liter.

Menurut Siti, usaha yang dirintis tersebut tetap bisa bertahan hingga sekarang memerlukan perjuangan yang gigih. Apalagi di tengah persaingan bisnis suplai air bersih semakin ketat. Ia pun menyadari jika saat ini pebisnis air bersih di Kabupaten Semarang semakin menjamur. Namun satu hal yang dipertahankan hingga kini adalah konsisten dan disiplin.

Dikatakan, kebutuhan pelanggan akan air bersih tidak boleh disepelekan. Karenanya, dengan bertambahnya armada yang dimiliki, ia berharap dapat memenuhi semua kebutuhan air bersih di masyarakat tepat waktu. ”Keselamatan driver truk tangki juga harus dipikirkan,” ujar ibu tiga anak ini.

Diakui, kesuksesan yang diraih saat ini tidak lepas dari peran sopir truk tangki yang telah bekerja sama dengan dirinya. Meski gaji mereka memakai sistem kongsi, yakni per pengiriman, namun para driver tersebut tetap semangat dalam bekerja.

Perhitungan yang tepat dan matang yang dilakukan Siti, menjadi bukti usaha yang dirintisnya masih tetap survive hingga sekarang. Diakui, saat ini harga satu tangki air bersih di pasaran hancur-hancuran. Ini akibat banyaknya ”pemain” di bisnis ini. Namun hal tersebut tampaknya tidak menjadikan dirinya untuk masuk dalam permainan tersebut. Ia tetap bertahan dengan harga yang berasal dari perhitungan matang. Mulai dari biaya BBM (Bahan Bakar Minyak), perawatan truk tangki, keselamatan driver, hingga jarak tempuh pengiriman ke pelanggan.

”Meskipun lebihnya tidak terlalu banyak, namun saya tetap mempertahankan harga tersebut,” katanya.

Untuk pengiriman air bersih lokal Semarang, ia membanderol harga kisaran Rp 200 ribu per tangki. Jika pengiriman luar wilayah Semarang, ia menambahkan dengan jarak tempuh. Kesuksesan yang ia rasakan tampaknya juga menginsiprasi banyak orang. Terbukti, banyak yang mengadopsi ilmu yang dimiliki Siti. ”Masalah ilmu saya mau untuk berbagi degan siapa pun. Asal orang tersebut bersungguh-sungguh dalam menjalankan bisnis,” ujarnya.

Bahkan, banyak pengusaha truk tangki air yang sampai mengadopsi warna dan corak tangki milik CV Putra Samudera (PSA). Bagi Siti, hal itu merupakan sesuatu hal yang biasa. ”Tidak apa-apa selama tidak merugikan kami,” katanya.

Menurutnya, hidup bermanfaat bisa dilakukan dengan berbagai hal. Antara lain, dengan mempekerjakan mereka. ”Kita bisa menyelamatkan ratusan perut. Kita bisa hidup bermanfaat untuk orang lain. Tantangannya, karena kita usaha angkutan, ya risiko di jalan,” ujarnya.

Diakui, tidak sedikit driver yang bekerja di tempatnya, keluar setelah mendapatkan ilmu berbisnis suplai air bersih. Ia kemudian merintis usaha sendiri. ”Banyak driver kita yang keluar mencari pemodal untuk membuka truk tangki air sendiri. Ilmunya mengadopsi saat mereka ikut dengan saya,” tuturnya.

Tak sedikit dari mereka yang berhasil, namun ada pula yang gagal. Kegagalan, menurut Siti, terjadi karena kurang kedisiplinan dan kurang sabar dalam berbisnis. (*/aro/ce1)

BAGIKAN