Laporkan RAW ke Polrestabes

Dugaan Penipuan Travel Umrah dan Haji Plus

93
MENGADU KE POLISI: Sejumlah calon jamaah umrah dan agen saat melaporkan pimpinan travel umrah dan haji plus Rihlah Alatas Wisata Semarang di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (kanan) SIM A atas nama Eko Agung Raharjo, pimpinan RAW Semarang. (HARIYANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGADU KE POLISI: Sejumlah calon jamaah umrah dan agen saat melaporkan pimpinan travel umrah dan haji plus Rihlah Alatas Wisata Semarang di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (kanan) SIM A atas nama Eko Agung Raharjo, pimpinan RAW Semarang. (HARIYANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Belasan calon jamaah umrah yang gagal diberangkatkan ke Tanah Suci oleh travel umrah dan haji plus PT Rihlah Alatas Wisata (RAW) Semarang kemarin (9/12) melapor ke Mapolrestabes Semarang. Mereka mengadukan Eko Agung Raharjo, 39, pimpinan travel umrah dan haji plus yang berkantor di ruko Jalan Wolter Monginsidi, Pedurungan tersebut dengan tuduhan melakukan penipuan. Diduga ada ribuan orang yang menjadi korban penipuan. Sebab, selain pendaftar umrah dan haji plus perorangan, ada juga yang dikoordinasi agen.

Saat melapor, para calon jamaah dan agen membawa fotokopi pendaftaran dan pembayaran umrah dan haji plus di RAW Semarang. Mereka juga membawa fotokopi Surat Izin Mengemudi (SIM) A milik pimpinan RAW Semarang, Eko Agung Raharjo, yang beralamat Penggaron Lor RT 5 RW 1 Kecamatan Genuk, Semarang.

Salah satu agen umrah, Komariah, 58, warga Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang mengaku, sudah menyetorkan uang sekitar Rp 1 miliar lebih kepada RAW Semarang. Uang miliran rupiah tersebut untuk biaya keberangkatan umrah 110 orang, yang semuanya warga Suruh dan sekitarnya.

”Saya setornya bertahap. Ada yang langsung ke Pak Agung, ada yang di kantor juga,” kata Komariah saat melapor di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, Jumat (9/12).

Agen umrah ini tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Sebab, sebelumnya dia sudah bekerja sama lama dengan Agung, dan selalu berjalan lancar. Bahkan sudah berhasil memberangkatkan jamaah umrah hingga empat kali.

”Saya bekerja sama dengan Pak Agung sejak masih di CV Armina Reka (nama travel umrah sebelumnya, Red). Sudah empat kali memberangkatkan umrah. Sehingga tidak ada rasa curiga. Apalagi dia (Agung) orangnya juga baik,” ujarnya.
Agen umrah lainnya, Sri, 42, juga mengaku sudah menyerahkan uang ratusan juta rupiah untuk biaya pemberangkatan umrah delapan orang.

”Sudah setor Rp 160 juta. Malahan tadinya saya akan dapat bonus satu tiket umrah gratis. Sekarang justru saya diminta tanggung jawab sama delapan rekan saya. Ya, akibat permasalahan ini,” katanya dengan wajah lesu.
Baik Komariah maupun Sri mengaku telah berupaya menanyakan kepada Agung. Sayang, sampai sejauh ini keduanya belum mendapatkan kabar yang menggembirakan. ”Belum ada jawaban. Justru sekarang beritanya Pak Agung menghilang. Jadinya, kami semua bingung,” keluhnya.

Saat melaporkan Agung kemarin, berkas yang dimiliki keduanya belum memenuhi persyaratan. Karena itu, para korban yang didominasi kalangan ibu ini berjanji akan datang lagi ke Polrestabes Semarang setelah melengkapi berkas. ”Besok (hari ini) saya akan ke sini lagi, buat laporan,” jelasnya.

Selain Komariah dan Sri, calon jamaah lain yang juga mendatangi Mapolrestabes Semarang adalah Dian, 38, dan Siti Romlah, 42. Keduanya juga melaporkan dugaan penipuan travel umrah dan haji plus tersebut. Petugas SPKT Polrestabes telah memberkas laporan keduanya karena persyaratan pelaporan telah dinyatakan lengkap. Kemarin, keduanya dimintai keterangan di ruang penyidik Satreskrim Polrestabes Semarang.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wiyono Eko Prasetyo mengaku  belum mengetahui secara pasti terkait adanya laporan dugaan penipuan travel umrah dan haji plus tersebut. Namun demikian, Wiyono berjanji akan menindaklanjuti pelaporan tersebut.

”Mungkin masih di penyidik belum sampai ke saya. Penyidik perlu mendalami terkait laporan itu, ada atau tidaknya tindak kejahatan tersebut. Tapi pastinya akan kami tindaklanjuti,” janjinya.

Sementara itu, kantor travel umrah dan haji plus Rihlah Alatas Wisata (RAW) Semarang di Ruko Jalan Wolter Monginsidi, Pedurungan, kemarin (9/12) masih terus didatangi para korban. Tak hanya calon jamaah umrah dan haji plus yang gagal berangkat ke Tanah Suci, tapi juga para agen dari biro perjalanan umrah dan haji plus ini.

Salah satu agen umrah yang kemarin mendatangi kantor RAW Semarang, sebut saja Haryanto, mengaku, masih menunggu kejelasan dari Eko Agung Raharjo, pimpinan RAW Semarang. Ia yang mewakili mertuanya, agen yang membawa 51 calon jamaah umrah, sampai saat ini masih berprasangka baik dengan Agung.

”Kami tetap berprasangka baik kepada beliau (Agung). Mungkin hingga saat ini beliau masih mengusahakan (berangkat umrah), hanya saja mungkin belum bisa sekarang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Calon jamaah umrah lainnya yang keberatan ditulis namanya mengaku kecewa, karena gagal berangkat umrah. Ia dan calon jamaah lain dari daerahnya berjumlah kurang lebih 100  orang, harus menanggung malu, karena sudah diketahui para tetangga akan berangkat umrah ke Tanah Suci. Bahkan tak sedikit yang sudah mengadakan syukuran dengan mengundang para tetangga. Ia pun meminta pertanggungjawaban pihak travel umrah dan haji plus Rihlah Alatas Wisata.

”Dari daerah saya melalui agen ada 100-an yang tidak jadi berangkat umrah. Ini kami ke sini untuk menunggu informasi. Paspor sudah kami ambil, takutnya kalau di sini bisa hilang,” katanya geram.

Ia sendiri mengaku belum melaporkan kasus tersebut ke polisi. Namun calon jamaah lainnya, kabarnya sudah ada yang melaporkan ke Polda Jateng.

Membaca pemberitaan di media massa mengenai kasus ini, salah satu calon jamaah haji plus, sebut saja Siti, mengaku juga ikut khawatir. Ia yang sudah mendaftar untuk berangkat haji plus berusaha untuk mengecek statusnya di kantor Rihlah Alatas Wisata pusat di Taman Royal I No 7 Cipondoh, Tangerang, Banten. Tak diduga, nama suaminya tidak tercantum sebagai calon peserta haji plus.

”Padahal saya sudah membayar lunas, Rp 90 juta. Kami tinggal nunggu keberangkatan, tapi kok malah ada pemberitaan ini. Dan setelah saya cek di kantor RAW pusat, ternyata nama suami saya tidak ada di daftar tunggu haji plus. Padahal sudah dijanjikan berangkat 2018 atau 2019 nanti,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia menuntut agar uangnya dapat dikembalikan oleh pihak penyedia jasa umrah dan haji plus RAW. Ia tidak peduli jadi berangkat atau tidak, yang penting uangnya kembali, karena nama suaminya sudah jelas tidak tercantum di RAW Pusat.

”Pokoknya saya mau uangnya kembali. Orang cari uang itu susah. Kami kerja  berangkat jam 11 malam sampai jam 8 pagi. Kok hanya ditipu begini,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi via telepon, RAW pusat yang beralamatkan di Tangerang mengatakan, bahwa RAW yang ada di Semarang merupakan agen RAW. Sayangnya, ketika ditanya lebih lanjut, pihaknya tidak bisa memberikan keterangan lebih.

”Kira-kira lima atau enam bulan yang lalu datang ke sini untuk mengajukan kerja sama. Saat ini, kami juga sedang melayani keluhan-keluhan yang ada di Semarang,” ujarnya. ”RAW yang ada di Semarang itu hanya penyelenggara atau agen saja, bukan cabang,” tegasnya.

Aina Ulfa, karyawati RAW Semarang mengatakan, dirinya sempat menanyakan kepada pimpinan RAW Semarang, Agung, mengenai harga berangkat umrah ke Tanah Suci yang dinilainya sangat murah. Namun, ia selalu medapatkan jawaban yang sama dari Agung. ”Sudah itu urusan saya,” ujar Ulfa menirukan.

Soal pembayaran umrah dan haji plus dari calon jamaah, menurut Aina Ulfa, semua menjadi wewenang Agung. Kalaupun ia dan karyawan lainnya menerima pembayaran dari calon jamaah, uang tersebut kemudian disetorkan kepada Agung. ”Kami ada laporan keuangannya juga. Jadi, setelah uang ke Pak Agung, sudah beres tugas kami sebagai karyawan,” katanya.

Menurut Aina, selama setahun bekerja di RAW Semarang, semua berjalan lancar. Selain itu, sudah beberapa kali calon jamaah umrah diberangkatkan ke Tanah Suci. ”Saya juga tidak menduga. Setahun saya di sini juga lancar-lancar saja. Banyak juga yang sudah diberangkatkan (umrah),” akunya.

Ia menduga manajemen Agung kurang bagus, sehingga pemberangkatan jamaah umrah dan haji plus mengalami kekacauan. Hingga saat ini, Agung belum diketahui keberadaannya. Semua nomor ponselnya tidak bisa dihubungi.

Aina mengaku berkomunikasi terakhir dengan Agung pada Rabu (7/12) lalu. Saat itu, Agung meminta agar kantor RAW Semarang di Ruko Jalan Wolter Monginsidi ditutup. Alasannya, Agung hendak mengurus semua persyaratan pemberangkatan calon jamaah umrah yang sedianya berangkat 8 Desember lalu.

”Tapi, saya tetap membuka ruko, karena banyak calon jamaah yang ingin mendapatkan kepastian pemberangkatan. Saya sendiri bingung, karena Pak Agung sudah tidak bisa dihubungi,” ujarnya.

Menurut Aina, banyak calon jamaah umrah yang sudah beberapa kali mengalami penundaan pemberangkatan ke Tanah Suci. Menghadapi semua itu, ia selalu meminta para calon jamaah untuk bersabar. ”Saya tidak bisa berbuat banyak. Karena saya cuma karyawan,” ucapnya.

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Semarang kemarin, kasus dugaan penipuan travel umrah dan haji kembali terjadi di Kota Semarang. Kali ini, dialami ratusan calon jamaah umrah yang telah mendaftar di travel umrah dan haji Rihlah Alatas Wisata (RAW) Cabang Semarang. Mereka gagal berangkat ke Tanah Suci tanpa alasan yang jelas. Celakanya, kantor RAW yang ada di kompleks ruko Jalan Wolter Monginsidi Pedurungan telah tutup. Tak ada papan pengumuman terkait alasan penutupan.  (sga/mha/aro/ce1)

BAGIKAN