Keluarga Korban Desak Segera Dilakukan Otopsi

27
MINTA OTOPSI : Keluarga almarhum Bambang Heri Susanto, korban dugaan bunuh diri menunjukkan bukti foto didampingi kuasa hukumnya Asri Purwanti. (JOKO SUSANTO/radar semarang)
MINTA OTOPSI : Keluarga almarhum Bambang Heri Susanto, korban dugaan bunuh diri menunjukkan bukti foto didampingi kuasa hukumnya Asri Purwanti. (JOKO SUSANTO/radar semarang)

SALATIGA-Hampir sebulan lamanya permohonan otopsi dari keluarga korban kasus dugaan bunuh diri, Bambang Heri Susanto (BHS),56, hingga kini belum dilaksanakan.

Awal November lalu keluarga almarhum Bambang sudah meminta untuk dilakukan otopsi mengingat banyak kejanggalan atas kematian  penjaga SD Negeri 06 Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga itu.

“Perkembangan terbaru belum ada Mas, kami masih terus melakukan penyelidikan. Nanti kalau ada perkembangan kami beritahu,”kata Kanit Reskrim Polsek Argomulyo, Iptu Kusyono saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (9/12).

Sementara itu, kuasa hukum keluarga Bambang (pelapor), Asri Purwanti menyebutkan, kejanggalan itu ditemukan di antaranya saat memandikan jenazah banyak luka lebam di tubuh almarhum (BHS, Red).  Di kemaluan ada luka merah seperti memar, di pundak sebelah kanan juga lebam, tangannya tidak bisa menggenggam. Kejanggalan lain, leher almarhum ditutupi serbet saat gantung diri, dan kakinya tidak menggantung tetapi menekuk, lehernya lebam-lebam merah seperti dicekik, terdapat luka juga.

”Memang kami belum mengetahui hasil visum. Karena itu dugaan sementara dari saksi yang memandikan. Nanti bisa tahu lebih lanjut kalau sudah otopsi, makanya kami minta kasus ini dibuka ulang. Apalagi saat gantung diri, tali yang digunakan almarhum cuma seperti tali pandu pramuka warna putih kecil,”katanya.

Atas kejanggalan tersebut, lanjut Asri, kliennya tidak percaya kalau almarhum bunuh diri. Kejanggalan lain, berdasarkan keterangan yang ia peroleh dari anak korban, dua hari sebelum bunuh diri, ada lelaki berinisial B yang merupakan rentenir kampung, mendatangi rumah istri korban sampai dua hari berturut-turut. Bahkan si B sempat mengucapkan kata-kata dengan nada kesal.

Kata Asri, berdasarkan keterangan kliennya, sekitar setahun lalu, korban mempunyai utang Rp 1,5juta. Tapi saat proses pertama kali melakukan peminjaman uang tersebut hanya diterima korban Rp 1 juta. Sebanyak Rp 500 ribu langsung dipotong karena dianggap bunga utang, dengan jaminan sepeda motor Suzuki Shutter. Atas permasalahan utang tersebut si B sempat nagih terus, termasuk mendatangi istri korban,

”Padahal Maret lalu anak almarhum (Tutik Arisusanti, Red) sudah bayar Rp 2 juta ke B, kok menjelang kematian almarhum B pada bulan Oktober menagih lagi ke almarhum,”ungkapnya.

Saat pertama kali ingin mengurus perkara tersebut, istri korban, Rakinem juga mengaku sempat dipingpong pihak Polsek Argomulyo maupun Polres Salatiga. Padahal ia sendiri belum pernah membuat pernyataan kalau sudah menerima kematian suaminya.

Namun demikian, ia memberi apresiasi pihak kepolisian setelah datang dengan didampingi kuasa hukum, begitu sampai di Polsek Argomulyo 4 saksi langsung diperiksa. Dua orang yang memandikan jenazah, dirinya dan anaknya yang melihat langsung di tempat kejadian.

Anak almarhum, Tutik Arisusanti menyebutkan, ada keanehan dalam kejadian gantung diri tersebut. Dini hari sekitar pukul 5.30, ia melihat ada 3 pintu kelas yang sudah dibuka, kemudian ia masuk ke rumah ayahnya melihat ada kopi yang habis diminum, masih agak hangat di dekat TV. Anehnya lagi, begitu ia masuk pintu kamar sudah terbuka dan terlihat ayahnya gantung diri.

”Kata ibu Keptiyah (kantin di SD Negeri 06 Ledok) sekitar pukul 6.00 dini hari, ada dua orang berinisial GT dan NK keluar dari rumah bapak, kemudian saat ditanya ibu Keptiyah, jawabnya mau mencari bapak tapi tidak ketemu,”sebutnya.

Pihaknya meminta agar segera dilakukan otopsi karena adanya kejanggalan tersebut. Sebelumnya, Bambang Heri Susanto penjaga SD 06 Ledok Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo Salatiga, ditemukan tewas gantung diri di kamar rumah dinas sekolah tersebut, Kamis (13/10) lalu. Kali pertama yang mengetahui kejadian itu adalah anak korban, Tutik Ari Susanti, 32, warga Jubug RT 12 RW 3 Kelurahan Tegalwaton, Kabupaten Semarang. (jks/lis)

BAGIKAN