Kampung Tematik Jangan Jadi Pepesan Kosong

50

BALAI KOTAAction program Kampung Tematik di Kota Semarang harus memiliki konsep yang jelas dan mendapat pengawalan serius. Jika tidak, program tersebut hanya akan menjadi pepesan kosong belaka.

Semua pihak perlu terlibat sinergi guna memikirkan tahap demi tahap secara berkelanjutan. Tidak hanya memulai saja, ataupun sekadar pendampingan-pendampingan formalitas. Tetapi harus mampu menemukan formulasi berkelanjutan.

”Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan), Dinpora (Dinas Pemuda dan Olahraga), Dinas Koperasi dan UMKM, Disnakertrans, dan Bapermas harus bisa sinergi dan berperan di tahap tindak lanjut. Jangan hanya berkutat di level memulai,” kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo.

Seharusnya peran pembinaan Pemkot Semarang tidak hanya berkutat soal input (potensi) – proses – output (produk). Tetapi harus berpikir untuk menerapkan model siklus; input -proses – output (produk) – outcome (hasil) – impact (dampak) – benefit (manfaaf) – forward (dikembangkan), –more forward (lebih dikembangkan) -lingkungan – feedback ke input. Jika mampu menjalankan model tersebut, maka tujuan mempercepat penanggulangan kemiskinan bisa tuntas.

”Selama ini baru sampai ke tahap output, tidak ada kelanjutannya. Sehingga pelaku usaha yang dilatih tersebut bingung saat tahap memasarkannya. Kalau tidak dipasarkan, impact-nya kan tidak ada. Kalau aspek manfaatnya juga enggak ada, lantas bagaimana mau ditularkan ke yang lain?’ katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan Pemerintah dan Sosial Budaya Bappeda Kota Semarang Dwi Arti Handayani mengatakan, 2016 ada sebanyak 32 titik kampung tematik. Masing-masing mendapat dana stimulan Rp 200 juta. Nanti selanjutnya ada 80 titik pada 2017. Ditargetkan pada 2019 sudah tuntas di 177 titik kelurahan di Kota Semarang.

Dwi sepakat, sukses atau tidaknya program ini bergantung bagaimana keseriusan action. ”Tergantung bagaimana action-nya. Maka jangan sampai hanya menjadi pepesan kosong belaka. Hanya menerima dana stimulan, tetapi pemberdayaan warga untuk menggali potensi tidak dilakukan,” katanya.

Dikatakannya, pemerintah mengajak semua pihak untuk sinergi menggali potensi yang ada di tingkat kelurahan. ”Silakan masyarakat yang berperan mengangkat setiap potensi baik negatif maupun positif agar bisa menghasilkan pendapatan. Bukan hanya infrastruktur, tetapi fokusnya lebih ke mindset, gerakan masyarakat agar aktif menggali potensi, sosial ekonomi,” katanya. Data Bappeda, saat ini masih ada 20,82 persen masyarakat miskin di Kota Semarang. Sehingga program ini menjadi salah satu upaya mempercepat pengentasan kemiskinan. (amu/zal/ce1)

BAGIKAN