Borobudur Magnet Wisman ke Joglosemar

Dapat Penghargaan Indeks Destinasi Tertinggi

24
TERBAIK: Kepala Dinbudpar Jateng Prasetyo Aribowo (kedua dari kanan) saat menerima penghargaan dari Menpar Arief Yahya atas terpilihnya Candi Borobudur dalam Indeks Destinasi Tertinggi. (Istimewa)
TERBAIK: Kepala Dinbudpar Jateng Prasetyo Aribowo (kedua dari kanan) saat menerima penghargaan dari Menpar Arief Yahya atas terpilihnya Candi Borobudur dalam Indeks Destinasi Tertinggi. (Istimewa)

JAKARTA – Candi Borobudur mendapatkan penghargaan Indeks Destinasi Tertinggi dari 10 destinasi prioritas. Anugerah Indeks Daya Saing 10 Destinasi Prioritas Kepariwisataan diserahkan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Jateng Prasetyo Aribowo di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/12) malam.

Candi Borobudur terpilih sebagai Indeks Destinasi Tertinggi Pertama. Indeks Destinasi Tertinggi Kedua adalah Wakatobi; Indeks Destinasi Tertinggi Ketiga, Tanjung Kelayang. Sedangkan kategori penghargaan Destinasi yang Menjanjikan adalah Tanjung Kelayang; dan sebagai Destinasi Terfavorit, Labuan Bajo.

Menpar Arief Yahya  memberikan apresiasi terhadap pemberian penghargaan Anugerah Indeks Daya Saing 10 Destinasi Prioritas sebagai ”Bali Baru”, dalam rangka mempercepat terwujudnya World Class Destination pada 2019. ”Melalui kompetisi akan terlihat  daerah atau provinsi yang sudah memberikan upaya dan perhatian tinggi terhadap pembangunan kepariwisataan dan daerah yang belum maksimal mengembangkan pariwisata sehingga daya saingnya belum kompetitif,” katanya.

Menpar menjelaskan, daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global saat ini berada di ranking 50 dari semula ranking 70. Pihaknya berusaha menuju ke ranking 30 dunia pada 2019. ”Untuk mencapai ranking 30 dunia, kita terus memperbaiki kelemahan seperti infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, health and hygiene, dan aksesibilitas khususnya konektivitas penerbangan, kapasitas kursi dan penerbangan langsung,” ujarnya. Hal ini sebagaimana hasil laporan World Economic Forum (Travel and Tourism Competitiveness Report) tahun lalu yang menyebutkan sejumlah indikator kelemahan pariwisata Indonesia.

Sejumlah indikator sebagai indeks daya saing yang diterapkan dalam penghargaan itu antara lain: policy support (prioritas pariwisata, keterbukaan regional, daya saing harga, environment sustainability); tourism enabler (lingkungan bisnis, keamanan, kesehatan dan kebersihan, SDM dan tenaga kerja, kesiapan teknologi informasi); infrastructure (infrastruktur bandara, infrastruktur pelabuhan dan darat, infrastruktur pelayanan pariwisata);  dan natural & cultural resources (sumber daya alam dan sumber daya budaya).

Kepala Dinbudpar Jateng Prasetyo Aribowo mengatakan penghargaan tersebut tak lantas membuat pihaknya berdiam diri. Pengembangan Candi Borobudur sebagai destinasi kelas dunia akan terus dilakukan. ”Ada tiga hal yang akan dikembangkan. Yaitu aksesibilitas, amenitas dan atraksi agar Borobudur mampu menjadi magnet kedatangan 2 juta wisman ke Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang),” tandasnya.

Pengembangan aksesibilitas di antaranya melalui reaktivasi jalur KA Magelang-Jogjakarta sampai Solo. Juga jalur baru dari Bandara Internasional Jogjakarta yang baru di Kulonprogo menuju Borobudur, serta Tol Bawen-DIJ.

Amenitas di antaranya pembangunan balai ekonomi desa dan homestay melibatkan sinergi 20 BUMN di 20 desa wisata di Borobudur. Selain itu, pembangunan Taman Pintar, RS Internasional, dukungan sanitasi, air bersih, toilet di beberapa spot baru, pusat kuliner dan night market.

”Kami juga akan mengembangkan atraksi berupa event-event berskala lokal, nasional dan internasional. Juga pusat-pusat daya tarik baru di sepanjang jalur bandara Kulonprogo menuju Borobudur,” paparnya. (ric/ce1)

BAGIKAN