PK Diminta Berpakaian Sopan

96
USULAN: Hani saat memaparkan usulannya dalam acara Pameran Ilmiah mahasiwa Fisikom UKSW di gedung E126 (Joko Susanto/RADAR SEMARANG)
USULAN: Hani saat memaparkan usulannya dalam acara Pameran Ilmiah mahasiwa Fisikom UKSW di gedung E126 (Joko Susanto/RADAR SEMARANG)

SALATIGA-Bagi warga Kota Salatiga nama Sembir bukanlah sesuatu yang asing. Kebanyakan dari mereka akan mengernyitkan kening ketika mendengar nama kondang kawasan Sarirejo, Kelurahan Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo itu. Sejak awal 1970-an, kawasan Sarirejo sudah mulai dikenal warga sebagai daerah lampu merah atau kawasan prostitusi.

Di kawasan ini, bisa ditemui gadis-gadis seksi yang bekerja sebagai pemandu lagu karaoke atau yang akrab disebut PL atau PK. Bahkan gencar berembus rumor, sebagian di antara mereka juga melakoni kerja sambilan sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Kelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fisikom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga memberikan lima usulan kepada pemerintah. Usulan terkait pengawasan kesehatan, keamanan serta rehabilitasi itu disampaikan dalam paparan acara Pameran Ilmiah di gedung E126 kampus setempat, Kamis (8/12).

Koordinator Kelompok Hani mengaku sudah melakukan observasi dan wawancara di kawasan Sembir. Adapun 5 solusi tersebutadalah penyempurnaan perundang-undangan mengenai larangan atau peringatan penyelenggaraan PK, pemberian pendidikan keagamaan dan kerohanian untuk memperkuat keimanan terhadap nilai-nilai religius dan norma kesusilaan, memperluas lapangan kerja bagi kaum perempuan yang disesuaikan dengan kodrat dan bakatnya. Selain itu, memberikan upah atau gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya.

“Kami juga memberikan usulan agar PK berpakaian rapi dan sopan dalam bekerja di tempat karaoke. Tak hanya itu, penyelenggaraan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga,” kata Hani di hadapan pengurus Pusat Penelitian Studi Gender dan Anak UKSW Arianti Ina Hunga.

Anggota kelompok, Piet Anggara menambahkan, terlepas dari stigma yang disandang PK, mereka tetap ada di tengah-tengah sosial masyarakat. Sama juga dengan masyarakat umum, PK juga memiliki alasan tersendiri yang rasional. “Mungkin bagi rata-rata orang mengenyam pendidikan, mencari pekerjaan layak atau menjalani hidup bersih adalah hal mudah, tapi buat mereka (PK, red) hal-hal itu terlalu istimewa,” imbuhnya. (jks/ton)

BAGIKAN