Kades Terpilih Paksa Terbitkan Surat Keterangan Lulus

142

UNGARAN–Kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh kepala desa (Kades) terpilih Desa Lembu, terus berlanjut di ranah hukum. Beberapa waktu lalu terungkap jika Kades Lembu Kecamatan Bancak, Supiyan Mugiyono pernah meminta pihak SD Lembu untuk menerbitkan surat keterangan pengganti ijazah yang mengatasnamakan dirinya.

Hal itu terungkap dari pengakuan mantan Kepala SD Lembu, Slamet. Bahwa pada 1998, Supiyan Mugiono minta surat keterangan pengganti ijazah dengan alasan ijazah SD miliknya hilang. “Kemudian saya sarankan untuk membawa surat keterangan hilang dari polisi. Dengan dasar surat laporan kehilangan dari Polsek Bringin, saya membuat surat keterangan pengganti ijazah,” ujar Slamet, Kamis (8/12) kemarin.

Tidak adanya buku induk saat itu di sekolah tersebut, tampaknya menjadi celah bagi Supiyan Mugiyono untuk meminta surat keterangan pengganti ijazah tersebut. Bahkan Slamet mengaku teledor karena memberikan surat keterangan pengganti ijazah.

Padahal, Slamet sendiri tidak tahu apakah Supiyan Mugiyono pernah bersekolah di SD tersebut atau tidak. “Saya memang saat itu teledor hanya berdasar pengakuannya dan surat kehilangan dari polisi saja. Saya kira memang benar pernah sekolah di SD saya,” ujarnya.

Kepala SD Lembu, Tri Agus juga menegaskan jika hingga kini sekolah yang dipimpinnya tersebut tidak ada buku induk. Keberadaan buku induk sangatlah penting. Berfungsi sebagai rekam jejak siswa yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.

“Saya tidak mengetahui adanya buku induk sekolah, murid yang telah lulus siapa saja saya tidak tahu. Makanya saya tidak pernah memberikan surat pernyataan apapun,” ujarnya.

Hanya berbekal surat keterangan itu, Supiyan mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa pada Pilkades beberapa waktu lalu. Supiyan hanya menggunakan surat keterangan pernah bersekolah saat melengkapi syarat administrasi calon kepala desa. Selain hanya menggunakan surat keterangan lulus SD, ia juga menggunakan ijazah Sekolah Teknik (ST) Bringin dan SMK Dr Tjipto atas nama Mugijono bin Harjo Rawung yang setelah ditelusuri saat ini nama tersebut berdomisili Jalan Raden Patah Nomor 44, Parung, Kecamatan Cileduk, Kota Tangerang.

Anehnya, dalam hal ini pihak panitia Pilkades meloloskan Supiyan saat masuk fase verifikasi faktual pada tahapan Pilkades. Rival Supiyan dalam Pilkades, Kastin merasa tidak terima dan melaporkan hal tersebut kepada pihak Polres Semarang.

Menurutnya, pihak panitia tidak melakukan verifikasi faktual secara benar karena meloloskan calon kades yang sudah jelas tidak memiliki persyaratan administrasi yang lengkap dan sah. Kastin juga meminta pihak panitia bertanggung jawab atas hal itu. Persoalan tersebut kini sudah masuk ke ranah kepolisian.

“Kasus pemalsuan ijazah itu, sudah saya laporkan ke Polres Semarang. Supiyan Mugiyono juga mengaku bahwa ijazah yang digunakan untuk pencalonan Kades Lembu itu adalah meminjam milik Mugijono yang sekarang tinggal di Tangerang,” kata Kastin.

Kastin juga mengatakan apabila sejak awal panitia ada ketegasan tentang persyaratan mengikuti Pilkades, maka Supiyan Mugiyono ini harus teranulir atau gagal mengikuti Pilkades. Namun, kenyataannya dibiarkan saja.

“Satu lagi, yang saya nilai aneh adalah panitia menyuruh calon kepala desa membuat dan menandatangani pakta integritas. Intinya jika di kemudian hari muncul permasalahan dalam Pilkades, semua itu menjadi tanggung jawab masing-masing calon,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan ketidakjelasan panitia dalam mengawal pelaksanaan Pilkades di Desa Lembu. Karenanya Kastin akan menuntut panitia Pilkades yang dengan sengaja meloloskan peserta pilkades yang tidak memiliki persyaratan lengkap. “Saya menuntut panitia Pilkades bertanggung jawab terhadap pemalsuan ijazah tersebut,” ujarnya. (ewb/ida)

BAGIKAN