Belajar Peduli dari Kempo

170
Maghfira Ainun F (DOKUMEN PRIBADI)
Maghfira Ainun F (DOKUMEN PRIBADI)

SEJAK duduk di bangku SD, Maghfira Ainun F sudah menggeluti olahraga beladiri kempo. Beladiri tertua dari Jepang ini mampu memikat hati Maghfira, karena membuat dirinya merasa tertantang.

”Selain merasa tertantang, dulu juga bisa untuk menambah poin dengan prestasi yang dicapai. Kan mempermudah untuk mencari sekolah,” ujar wanita yang juga memiliki hobi membaca novel ini.

Tidak sekadar bisa, gadis kelahiran Semarang, 29 Oktober 1995 ini juga sempat menyabet juara pertandingan kempo di tingkat provinsi.

”Awalnya hanya mencoba saja, akhirnya ikut pertandingan dan sempat keluar sebagai juara,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari kempo, Ainun tidak hanya belajar teknik-teknik untuk menjaga diri. Kempo juga mengajarkan dara yang ingin menjadi praktisi Public Relation ini lebih peduli terhadap sesama. Pasalnya, dengan menguasai beladiri kempo, ia dapat menolong teman yang sedang mengalami kesusahan.

”Kadang ada teman yang minta diajari, ya saya ajari meskipun saya tidak ahli-ahli banget. Karena dulu, di setiap latihan selalu ditekankan oleh pelatih untuk mengutamakan kebersamaan dan kepedulian,” jelas Ainun.

Meskipun sudah tidak seaktif dulu, hingga saat ini Ainun masih tetap memegang prinsip kempo dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia selalu mengimbangi kekuatan yang dimilikinya dengan kasih sayang agar dapat memberikan manfaat kepada sekitar.

”Jadi, di kempo itu prinsipnya, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman. Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan. Itu yang sampai saat ini tetap saya pegang. Buah dari menggeluti olahraga kempo,” ujarnya.

Ke depan, Ainun ingin agar dirinya bisa lebih memiliki rasa peduli terhadap sesama. Selain itu, ia juga ingin dapat memberikan manfaat kepada sekitar, terlebih dengan menerapkan apa yang bisa ia lakukan, yakni kempo. (sga/aro/ce1)

BAGIKAN