Awalnya Tak Dilirik, Kini Sehari Pasok 80 Tangki

Kisah Sukses Siti Nur Azizah Berbisnis Air Bersih Gunung Ungaran (1-Bersambung)

314
BISNIS DARI NOL: Siti Nur Azizah saat berpose di salah satu armada truk tangki miliknya, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BISNIS DARI NOL: Siti Nur Azizah saat berpose di salah satu armada truk tangki miliknya, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Melimpahnya sumber air di Gunung Ungaran menjadi ladang bisnis yang menguntungkan. Apalagi kebutuhan air bersih semakin tinggi. Peluang itu ditangkap Siti Nur Azizah dengan merintis bisnis penjualan air bersih sejak 2001. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

SITI Nur Azizah tercatat sebagai orang kedua di Ungaran bahkan di Kabupaten Semarang yang memulai bisnis suplai air bersih mengunakan truk tangki. Ia merintis bisnis penjualan air bersih tersebut pada 2001 dengan bendera CV Putra Samudra (PSA). Pada tahun itu, belum banyak yang melirik bisnis ini.

”Ada saudara yang punya lahan yang ada mata airnya. Namun tempatnya di dalam hutan dan tidak bisa diakses oleh kendaraan apa pun. Kebetulan saya ada lahan yang berada di tepi jalan, dan bisa dilalui truk,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Sumber air di tengah hutan itu lantas ia alirkan menggunakan paralon berukuran 5 inci hingga ke kawasan Alun-Alun Lama Ungaran. Saat itu, Siti belum memiliki pikiran bahwa bisnis suplai air bersih itu memerlukan armada.

Kemampuan istri dari Suedi ini dalam berbisnis air bersih saat itu memang masih tergolong baru. Ia tidak mengetahui kebutuhan apa saja yang disiapkan ketika memulai bisnis suplai air bersih. ”Kita hanya memasarkan airnya saja. Memasarkannya hanya dengan mempromosikan ke media cetak kalau jualan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga,” kata warga Jalan Kluwihan, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang ini.

Gayung pun bersambut. Iklan Siti di media cetak tersebut direspons oleh banyak calon pembeli air bersih. Maklum saja, saat itu bisnis air bersih memang sangat jarang. Namun para calon pembeli tersebut meminta dirinya mengirim air tersebut ke tujuan. ”Yang ada di benak saya, bisnis air bersih itu pembeli yang datang. Eh ternyata kita yang harus mengantarkan,” kenangnya.

Maka ia pun mulai memikirkan bagaimana mempunyai truk tangki. Apalagi, saat itu ia belum dipercaya pihak leasing untuk kredit armada truk. Mobil pribadi terpaksa ia jual untuk modal awal pembelian truk tangki. ”Truk tangki pertama kali yang kami beli truk boks. Kemudian boksnya diturunkan, diganti tangki. Alhamdulillah dari situ pelanggannya semakin banyak,” kata wanita kelahiran Ungaran, 1 Januari 1962 ini.

Awalnya, jumlah pelanggannya hanya 3 orang. Namun setelah ia membeli truk tangki, bisa menyuplai setidaknya 5 pelanggan dalam sehari. Dari lima pelanggan tersebut, salah satunya pengusaha air minum isi ulang pertama di Kota Semarang. Ia dipercaya untuk menyuplai kebutuhan air bersihnya. ”Itu sekitar tahun 2002-an. Pelanggan saya itu pengusaha air minum isi ulang pertama di Kota Semarang,” ujar ibu tiga anak, Ina Septi Aviani, 34;  Andika Ari Safrudin, 30, dan Diki Navi Satria ini.

Setelah air bersih yang disuplai ternyata layak dikonsumsi karena sudah melalui pengujian Sucofindo dan Dinas Kesehatan, ia pun semakin melangkah dengan yakin. Penambahan armada truk dilakukan. Dengan ditambahnya armada truk tangki tersebut, ia berharap dapat melayani pelanggan lebih bak dan tepat waktu. Kini, jumlah armada truk tangki miliki Siti sudah mencapai 19 unit. Pelanggannya tidak hanya berasal dari Kabupaten dan Kota Semarang. Namun sudah sampai luar kota. Kini dalam sehari ia bisa mengirim air bersih ke 80 pelanggan. Banyaknya usaha air minum isi ulang memengaruhi jumlah pelanggan PSA.

”Pelanggan saya mencapai perbatasan wilayah Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Mulai Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, Kudus, Jepara, Grobogan, Pati, Blora, dan Rembang,” katanya. (*/bersambung/aro/ce1)

BAGIKAN