2017 Diprediksi Properti Melejit

423

SEMARANG – Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah memprediksi tahun 2017 properti akan menggeliat. Hal ini tak lepas dari suhu politik yang diharapkan lebih baik. Sehingga perekonomian juga terus membaik dan berdampak ke berbagai sektor.

Ketua REI Jawa Tengah Bidang Humas, Promosi, dan Publikasi, Dibya K Hidayat mengatakan, properti merupakan salah satu sektor yang tengah gencar dikembangkan oleh pemerintah melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau rumah subsidi.

Begitu juga dengan rumah komersil yang tahun depan diprediksi akan lebih banyak permintaan dibanding tahun ini. Diakuinya, tahun ini pertumbuhan sektor properti kurang begitu baik bila dibandingkan tahun 2014 dan 2015. “Tahun 2016 banyak sekali halangan yang dirasakan pengembang dalam melakukan proses penjualan properti. Situasi tersebut akan dievaluasi di akhir tahun sehingga 2017 bisa memperbaiki banyak hal, terutama terkait dengan properti,”ujarnya, kemarin.

Dia mengaku optimis tahun depan lebih baik karena pengembangan rumah FLPP sedang digalakkan dan diberi perhatian khusus pemerintah pusat. Meski demikian, kebijakan pemeirntah pusat bisa sampai ke pemerintah daerah. ”Jadi bukan hanya sekadar kebijakan pusat tapi pelaksanaan ke daerah,” katanya.

Keoptimisan tersebut dipengaruhi pula adanya program tax amnesty. Usai pelaksanaan tax amnesty yang dilakukan bertahap, masyarakat bisa kembali berinvestasi sektor riil. Properti salah satunya.

Menurutnya, Tahun 2014 dianggap masa keemasan dunia properti dengan membukukan 1.007 unit sepanjang pameran setahun. Penurunan angka di tahun 2015 hanya mencatatkan 651 unit penjualan.

”Hingga pameran ke delapan, baru tercatat 420 unit terjual. Angka ini belum dikalkulasikan dengan pameran ke sembilan (November) dan sepuluh (Desember). Pameran terakhir di tahun ini diharapkan bisa menyamakan angka penjualan tahun sebelumnya,” katanya.

Beberapa faktor diakui memicu penurunan penjualan unit. Perumahan komersial kerap terkendala KPR dari perbankan dan berlanjut terus hingga relaksasi Loan to Value (LTV) di bulan Agustus 2016. Kondisi ini semakin diperkuat dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. “Namun begitu, perlambatan ekonomi memberikan dampak lain. Developer dadakan tumbang karena tidak memiliki basic (dasar) yang kuat, yaitu keuangan,”ujarnya. (dna/zal)

BAGIKAN