Rudi-Dance Kritisi Kurangnya RTH

44
ADU IDE: Calon Wali Kota Salatiga Agus Rudianto saat menyampaikan paparan dalam talkshow di kampus UKSW, kemarin. Hadir juga Calon Wakil Wali Kota Dance Ishak Palit dan pasangan Yulianto-M. Haris (Yaris). (Joko Susanto/jawa pos radar Semarang)
ADU IDE: Calon Wali Kota Salatiga Agus Rudianto saat menyampaikan paparan dalam talkshow di kampus UKSW, kemarin. Hadir juga Calon Wakil Wali Kota Dance Ishak Palit dan pasangan Yulianto-M. Haris (Yaris). (Joko Susanto/jawa pos radar Semarang)

SALATIGA – Dua pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Salatiga, yakni Agus Rudianto-Dance Ishak Palit (Rudi-Dance) dan Yuliyanto-Muh Haris (Yaris) saling berebut simpati peserta dalam acara talkshow ”Meninjau Peranan Pemkot Salatiga dalam Isu Industri, Buruh, Perempuan dan Lingkungan Hidup” yang diadakan 8 kelompok mahasiswa Fisikom Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga di Gedung E126 kampus setempat, Selasa (6/12).

Dalam acara tersebut, sejumlah narasumber yang dihadirkan adalah Rudi-Dance, Yaris, dan Kepala Kantor Lingkungan Hidup (BLH) Kota Salatiga Prasetyo Ichtiarto. Acara dimoderatori Ketua Pusat Penelitian Studi Gender dan Anak UKSW, Arianti Ina Hunga.

Cawali Agus Rudianto menyoroti, ruang terbuka hijau (RTH) di Salatiga yang saat ini hanya seluas 15 persen dari luas wilayah. Itu berarti masih kurang 15 persen lagi. Namun demikian ia menyatakan permasalahan tersebut masih bisa diatasi dengan lahan privat, membeli lahan untuk dihijaukan.

Sedangkan Cawawali Dance Ishak Palit mengaku saat blusukan ke perkampungan warga pernah ada satu keluhan masalah pembelian solar untuk usaha kecil-kecilan. Ia menyampaikan kalau warga tersebut mengaku sulit membeli solar. Sebab, saat ini memang dilarang membeli solar memakai jeriken.

Dari permasalahan itu, ia menyarankan warga untuk meminta surat keterangan ke Disperindakop agar diperbolehkan membeli solar memakai jeriken. Namun setelah diurus ke Disperindakop beralasan tidak bisa mengeluarkan surat dengan alasan tidak memiliki dasar hukum. Mendengar susahnya birokrasi tersebut, Dance mengaku miris dan prihatin.

”Saya kalau terpilih, UKM yang dominan dilakukan perempuan harus diperhatikan. Kami melihat para pedagang ini harus mendapat bantuan, kami memandang pedagang ini sebagai subjek pembangunan, jadi harus diperhatikan,” kata Dance.

Tak hanya itu, lanjut Dance, kaum difabel juga pernah ada yang protes ke dirinya karena diperlakukan berbeda. ”Karena itu, permasalahan inklusi bukan hanya gender perempuan, melainkan juga kaum difabel. Nantinya semua itu akan kami perhatikan,” tandasnya.

Dance juga menyampaikan, kalau masalah lapangan kerja bukan hanya mencari melainkan juga menciptakan, Menurutnya, Salatiga sebagai kota jasa dan perdagangan, maka masyarakatnya jangan terlalu mengejar di dunia industri saja, melainkan juga memberi peluang untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Sedangkan masalah lingkungan hidup, ia menilai harus melihat manajemen dan teknologi.

Cawali Yulianto dalam paparannya menyebutkan, pengelolaan sebuah kota memang harus dituntut cerdas dalam tiga hal. Di antaranya, lingkungan, ekonomi, dan sosial. Namun demikian ia mengaku kondisi saat ini di Kota Salatiga masih aman.

Untuk sektor ekonomi, lanjut Yulianto, memang menjadi penting karena menjadi peran pembangunan, termasuk di dalamnya usaha kecil. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang baik akan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Kota Salatiga.

”Kita patut bersyukur karena mendapat predikat kota  toleran kedua se-Indonesia, hal itu tidak lepas karena masyarakatnya memang sangat toleransi dan hukumnya wajib dipertahankan dan ditingkatkan,” katanya.

Cawawali Haris menambahkan, tema talkshow memang menarik karena masalah ledakan penduduk yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, permasalahan tersebut saat ini memang menjadi isu global yang sangat menarik, di mana Indonesia sebagai negara berkembang yang penduduknya cukup besar, sehingga menjadi potensi pasar cukup besar pula. (jks/aro/ce1)

BAGIKAN