Listrik dari Sampah Semarang Dibeli PLN

40
KERJA SAMA: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir berjabat tangan usai penandatanganan MoU di gedung PLN Jakarta. (ist)
KERJA SAMA: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir berjabat tangan usai penandatanganan MoU di gedung PLN Jakarta. (ist)

SEMARANG – Setelah melalui proses yang panjang hingga rapat kabinet terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, beberapa waktu lalu, PLN akhirnya memberikan kepastian untuk membeli listrik yang akan dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dibangun oleh Pemerintah Kota Semarang.

Kepastian tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Direktur Utama PLN, Sofyan Basir dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi di Kantor Pusat PLN, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (5/12).
Dalam kesepakatan yang berlaku selama 20 tahun itu, PLN menyetujui membeli tenaga listrik dari pengolahan sampah di Kota Semarang seharga USD 18,77 sen atau setara Rp 2.496 rupiah per kwh-nya untuk tegangan tinggi dan menengah. Sementara untuk tegangan rendah PLN akan membeli seharga 22,43 sen. Harga tersebut ditetapkan mengikuti regulasi yang diatur pada Permen ESDM Nomor 44 Tahun 2015.

Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, menuturkan jika pemanfaatan sampah menjadi PLTSa sangat bermanfaat, ini merupakan bukti kepedulian pemerintah serta PLN terhadap lingkungan. ”Persoalannya bukan listriknya, tetapi penanggulangan sampahnya,” tegas Sofyan. Pengembangan PLTSa sendiri menggunakan thermal process atau pemanfaatan panas melalui proses thermo chemical.

Sedangkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengaku senang dengan adanya kepastian dari PLN akan menerima serta menyalurkan listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Semarang. ”Dengan begini berarti inovasi yang dikerjakan dapat benar-benar berguna bagi masyarakat dan lingkungan,” tutur pria yang akrab disapa Hendi ini.

”Mewujudkan PLTSa menjadi salah satu fokus Pemkot Semarang, mengingat pengelolaan sampah dan penyediaan energi di Kota Semarang menjadi dua hal yang sangat penting untuk digarap, ini tentu saja menjadi lompatan besar bagi Kota Semarang,” tegas Hendi.

Perlu diketahui perkiraan produksi sampah yang dikumpulkan di 261 TPS yang tersebar di seluruh  Kota Semarang per harinya mencapai 4998,65 M3 untuk volume sampah terangkut mencapai 4349 M3 atau sekitar 87 persen  untuk menampung produksi sampah ini.   Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang sebenarnya sudah cukup padat, saat ini sampah organik  di TPA Jatibarang sebagian diolah menjadi granul pupuk organik selain itu pemkot bekerja sama dengan Kerajaan Denmark mengolah sampah  menjadi  gas methan, untuk tahap awal hasil pengolahan berupa gas methan disalurkan ke 100 rumah tangga secara gratis. (zal/ce1)

BAGIKAN