Lampu Kuning Taekwondo Jateng

118
PRIHATIN: Bambang Widjanarko saat mendampingi taekwondoin putri Jateng Aghniny Haque di SEA Games 2013 di Myanmar. Bambang mengingatkan kondisi taekwondo Jateng saat ini cukup memprihatinkan. (IST)
PRIHATIN: Bambang Widjanarko saat mendampingi taekwondoin putri Jateng Aghniny Haque di SEA Games 2013 di Myanmar. Bambang mengingatkan kondisi taekwondo Jateng saat ini cukup memprihatinkan. (IST)

SEMARANG – Taekwondo Jateng dipandang mengalami penurunan prestasi. Bahkan prestasi taekwondo Jateng akan makin terpuruk bila tidak digarap secara serius oleh orang-orang yang tepat.

“Warning” tersebut diungkapkan Bambang Widjanarko, salah satu tokoh taekwondo di Jateng. Bambang mengatakan, salah satu indikasi bahwa taekwondo Jateng dalam status waspada, adalah prestasinya tim junior di Kejurnas Junior, pekan lalu di Surabaya. Tampil dengan kekuatan penuh baik di nomor kyorugie maupun poomsae, tim Jateng hanya meraih 4 medali emas. Jabar tampil perkasa dengan memborong 12 medali emas dan DKI Jakarta berada di urutan kedua dengan 5 medali emas. “Saya menganggap itu kegagalan bagi Jateng,” tandas Bambang, kemarin.

Jateng, menurut Bambang, selama ini mendominasi kategori junior. Dengan hanya meraih 4 medali emas dari 25 yang diperebutkan, Bambang menganggap Jateng gagal. :Kinerja tim pelatih harus dievaluasi,” tegasnya.

Bahkan, mantan pelatih pelatnas taekwondo ini menilai raihan tim taekwondo Jateng di PON 2016 lalu tak layak untuk dibanggakan. Perolehan 2 medali emas, sangat jauh dari apa yang diraih Jabar yang mendapatkan 12 medali emas. Terlepas dari Jabar unggul nonteknis karena berstatus tuan rumah, Bambang Widjanarko menilai Jateng juga gagal di ajang multievent tersebut. “Meski kita juara umum kedua, tapi perolehan medali emas kita sangat jauh di bawah Jabar, jadi apa yang kita banggakan?,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, bahwa melorotnya prestasi taekwondo Jateng ini harus segera diatasai. Caranya dengan melakukan pembenahan organisasi yang menaungi olahraga ini yakni Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jateng. Sepeninggal Sudarsono Chandrawidjaja, organisasi ini kehilangan semangat. “Bahkan untuk menyelenggarakan Kejurda atau Kejurprov saja tidak bisa, ini menyedihkan dan harus segera diatasi. Taekwondo ini bila digarap serius bisa mandiri, tidak perlu ketua umum yang kaya raya. Sekarang ini bikin kejurda saja tidak mampu, bagaimana kelanjutan taekwondo Jateng ke depan?,” keluhnya.

Bambang berharap agar ketua umum Pengprov TI Jateng saat ini Soegiono Budisantoso dan pengurus TI Jateng yang lain introspeksi diri. Siapapun yang merasa tidak sanggup lagi mengurus organisasi ini, diminta mundur agar bisa digantikan dengan yang lain yang lebih kompeten. “Eman-eman, potensi taekwondo Jateng ini luar biasa. Punya atlet terbanyak dibanding semua cabang olahraga apapun. Kalau tidak dikelola dengan baik, maka taekwondo Jateng akan mati,” pungkasnya. (smu)

BAGIKAN