Keluhan Jalan Rusak Membeludak

48

SEMARANG – Keluhan masyarakat terkait jalan rusak mulai banyak dikirimkan ke kanal-kanal aduan Pemprov Jateng. Sebagian besar masyarakat mengeluh rusaknya jalan karena sering tergenang air sepanjang musim hujan tahun ini.

Keluhan paling banyak disuarakan warga Wonosobo, Banjarnegara, hingga Banyumas. Kerusakan yang dianggap cukup parah terjadi di Wangon dan Ajibarang (Banyumas), serta Karangpucung (Cilacap). Mendapat keluhan tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta SKPD terkait untuk melakukan kontrol pekerjaan lebih baik. Dia mengakui, cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu terakhir membuat sejumlah ruas jalan rusak.

Respons cepat terhadap aduan masyarakat, kata Ganjar, tidak bisa ditawar lagi. Saat masyarakat sudah berulangkali menyampaikan keluhannya, dan pemprov lamban memberikan respons, pasti gubernur ikut memberikan teriakan. Sikap keras dan mungkin agak sinis terhadap hal yang dinilai tidak semestinya, dilakukan Ganjar agar para aparatur sipil negara (ASN) benar-benar memberikan layanan yang mudah, murah, dan cepat.

”Ketika rakyat sudah berkali-kali dan kita lambat merespons, pasti teriakan itu muncul dari saya. Kiranya itu bisa dijadikan pemacu. Jangan marah. Jangan takut dimarahi oleh Pak Gubernur. Tapi takutlah dimarahi rakyat dan Gusti Allah,” ujarnya.

Untuk memperbaiki atau membangun jalan dengan tantangan cuaca tersebut, menurutnya, tak lepas dari telaah ilmu dan teknologi yang ada. Sehingga para aparatur dapat memilih teknologi dengan bijaksana dan bisa dipertanggungjawabkan. Setidaknya, jalan yang diperbaiki atau dibangun harus awet, kuat menghadapi tantangan alam dan beban berat di atasnya.

”Saya minta Pak Bambang (Kepala Dinas Bina Marga, Red). Pak, tempelen di jalan itu banner yang besar. Tulisi, jalan ini akan dibangun pemprov tahun 2017,” ucapnya.

Meski sederhana, spanduk tersebut bisa memberikan kepastian untuk masyarakat. Ganjar mengaku mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. ”Betapa komitmen sekecil itu ternyata bisa memberikan image kepada masyarakat bahwa pemerintah serius soal itu,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Jateng, Muhammad Ngainirrichardl menilai spanduk informasi kapan perbaikan jalan akan dilakukan itu kurang efektif. Sebab, Dinas Bina Marga Jateng sudah punya 9 balai yang tersebar di seluruh eks karesidenan. Balai tersebut juga dilengkapi alat dan perangkat untuk menambal jalan berlubang. Praktis, ketika ada keluhan jalan rusak, dinas bisa langsung memperbaiki meski bersifat sementara sembari menunggu anggaran perbaikan turun, 2017 mendatang.

Soal anggaran, lanjutnya, sebenarnya tidak menjadi soal. Sebab, ketika Gubernur Jateng membuat program jalan bebas lubang, pihaknya sudah berpesan agar menyiapkan dana untuk perbaikan sementara. Terkait tenaga atau SDM yang terbatas, Dinas Bina Marga bisa mencari tenaga outsourcing atau memberdayakan masyarakat setempat. (amh/ric/ce1)

BAGIKAN