Rela Menabung untuk Bisa Miliki Karakter Baru

Komunitas One Piece Kolektor Indonesia (KOPKI) Regional Semarang

149
KOMPAK: Sebagian anggota KOPKI Regional Semarang (DOKUMEN KOPKI SEMARANG)
KOMPAK: Sebagian anggota KOPKI Regional Semarang (DOKUMEN KOPKI SEMARANG)

Komunitas One Piece Kolektor Indonesia (KOPKI) Regional Semarang memiliki kegemaran mengoleksi Action Figure anime One Piece. Meski tampak  seperti mainan biasa, ternyata harga Action Figure yang mereka miliki bisa mencapai puluhan juta rupiah.

SIGIT ANDRIANTO

BUKAN sekadar bentuk setiap karakter, mereka mengoleksi action figure tokoh anime One Piece seperti Monkey D Luffy, Roronoa Zoro serta kawan-kawannya karena cerita yang disajikan dalam film dan juga komik. Mereka menilai bahwa cerita yang disajikan, tidak hanya menggambarkan tentang peperangan bajak laut, melainkan juga sarat akan nilai persahabatan dan pertemanan. Hal ini yang kemudian menggiring mereka tertarik pada anime ini.

”Banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil dari anime tersebut, termasuk nilai persahabatannya. Dari situ, kami mulai suka dan memutuskan untuk mengoleksi action figure-nya,” ujar Sammy Christian, Koordinator KOPKI Regional Semarang.

Dari ketertarikan ini, berbagai karakter mulai diburu untuk dikoleksi. Mulai dari ukuran yang sagat mini, sekitar 4 cm hingga ukuran yang cukup besar mencapai 35 cm. Harganya pun bervariasi. Mulai Rp 25 ribu hingga puluhan juta rupiah.

Sammy menceritakan, action figure yang mahal, terbuat dari bahan resin dengan detail yang sangat baik.

”Untuk memperolehnya, anggota kami harus rela menabung. Istilahnya rela makan nasi sama kecap untuk mendapatkan action figure yang kami inginkan. Karena itu memang tidak gampang,” katanya.

Koleksi action figure anime one piece. (DOKUMEN KOPKI SEMARANG)
Koleksi action figure anime one piece. (DOKUMEN KOPKI SEMARANG)

Hingga saat ini anggota KOPKI Regional Semarang sudah mencapai 35 orang. Komunitas yang dibentuk pada awal 2016 ini, selalu rutin mengadakan pertemuan setiap bulannya.

”Kegiatannya hunting foto bersama, kalau ada event toys fotografi. Kemudian tukar informasi mengenai figure yang baru dan langka. Kadang sesama kolektor saling tukar-menukar koleksi juga. Misalnya, episode yang temen-temen belum punya,” ujarnya.

Tidak hanya untuk melampiaskan hobi, anggota komunitas yang rata-rata berumur 19-35 tahun ini juga seringkali mengikuti perlombaan. Seperti lomba foto dengan menggunakan action figure yang mereka miliki. Selain itu, tak jarang komunitas ini juga melakukan kegiatan sosial, seperti melakukan donor darah bersama, dan kunjungan ke panti asuhan.

”Karena kami juga ingin bermanfaat untuk sesama. Kita kumpul tidak sekadar kumpul. Tapi memberikan manfaat untuk orang lain juga,” kata Sammy.

Meskipun selalu senang ketika berkumpul bersama kawan-kawan sehobi, tak jarang komunitas ini juga dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Tidak sedikit masyarakat menilai mereka seperti anak kecil yang mengoleksi mainan belaka.

”Sayangnya, banyak masyarakat yang memandang miring. Mereka tidak memandang segi perjuangan mendapatkan action figure ini. Tidak mudah dan tidak murah, rata-rata bisa sampai Rp 200 ribu-Rp 300 ribu,” ujarnya.

”Kalaupun dibilang untuk anak-anak, di boksnya tertera tulisan untuk 15 tahun ke atas,” tambah Sammy yang memiliki misi khusus menjaga persaudaraan dalam komunitasnya ini.

Ke depan, Sammy dan kawan-kawan berharap agar anggota komunitas ini bisa menjadi semakin lebih banyak.

“Semakin banyak anggota, pertemanan yang terjalin juga akan semakin luas. Pertemanan erat seperti yang diceritakan dalam film anime One Piece,” katanya. (*/aro)

BAGIKAN