Pemprov Diminta Antisipasi Pekerja Ilegal

35
Yudi Indras Wiendarto (istimewa)
Yudi Indras Wiendarto (istimewa)

SEMARANG– Jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Jateng per awal Desember 2016 mencapai 1.640 orang. Jumlah tersebut turun jika dibandingkan periode Januari 2016 sebanyak 1.823 orang dan menjadi 1.800 orang pada Mei 2016. Sementara jumlah TKA pada Desember 2015 mencapai 1.814 orang.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto meminta Dinas Tenaga Kerja yang ada di kabupaten/kota maupun provinsi menyikapi serius penurunan jumlah tenaga kerja ini. Harus dilakukan pengecekan di perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan. Apakah secara riil menurun atau justru sebaliknya yaitu ada TKA ilegal.

“Penurunan TKA bisa dipandang positif, mungkin karena sudah ada transfer teknologi pada pekerja lokal. Tapi jangan senang begitu saja, harus benar-benar dicek. Jangan-jangan ada yang ilegal,” katanya.

Dia mencontohkan, hal itu sebagaimana terjadi di Serang, Banten maupun di Surabaya, Jatim pada September lalu. Puluhan TKA ilegal dideportasi. Jateng juga telah mendeportasi 3 TKA asal Tiongkok yang kedapatan melanggar izin wilayah kerja. Seorang dideportasi pada April lalu karena nyambi kerja di luar Magelang, wilayah yang tertera dalam izin kerjanya. Sementara dua tenaga kerja lainnya kedapatan bekerja di luar Solo dan Jepara dan telah dideportasi pada akhir tahun lalu.

Menurut politikus Partai Gerindra ini, masuknya TKA ilegal memiliki potensi yang cukup besar. Alasan pertama, saat ini banyak investor di bidang industri yang ada di Jateng berasal dari luar negeri. Alasan kedua, wilayah di Jateng sangat luas dan potensi besar terjadi di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. Keberadaan TKA ilegal dinilainya sangat merugikan pekerja lokal. Dia meminta dilakukannya inspeksi mendadak untuk memperkecil peluang masuknya TKA ilegal.

Jumlah TKA di Jateng per Mei lalu didominasi dari Tiongkok dengan 736 orang, dari Korea Selatan 375 orang, dari India 158 orang, dan Jepang 191 orang. Jumlah TKA Tiongkok per Mei lalu meningkat sebanyak 41,3 persen jika dibandingkan pada Januari 2016 yang jumlahnya 519 orang.

Untuk wilayah penempatan terbesar pertama ada di Semarang dengan 399 orang. Disusul Jepara 122 orang dan Sukoharjo 81 orang. Sementara untuk sektor usaha yang paling besar menjadi tujuan TKA adalah industri kulit dengan 347 orang, industri pakaian jadi 152 orang, dan perdagangan barang 154 orang.

Kepala Disnakertransduk Jateng, Wika Bintang mengatakan syarat masuknya TKA di Jateng sangat ketat. Mereka harus memiliki kemampuan teknologi di bidangnya dan perizinan melalui Kementerian. Sementara Pemprov Jateng mewajibkan TKA berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan sertifikat kemampuan berbahasa Indonesia.  “Tujuannya, mempermudah transfer teknologi pada pekerja lokal dan membatasi masuknya TKA,” katanya. (ric)

BAGIKAN