Angka Tuna Aksara Capai 3.963 Jiwa

43

PEKALONGAN РDirektur Pembinaan, Pendidikan, Keaksaraan dan Kesetaraan pada  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Erman Syamsudin menyebutkan, di Pekalongan tercatat masih ada sekitar 3.963 jiwa mengalami tuna aksara atau tidak dapat membaca dan menulis. Jumlah itu sekitar 1,3 persen dari jumlah penduduk Kota Pekalongan yang sebanyak 300.053 jiwa.

“Angka yang tergolong rendah, tetapi tidak bisa diremehkan karena itu juga menyumbang angka tuna aksara di Indonesia yang mencapai 5,3 juta jiwa,” ungkapnya saat memberikan sambutan dalam pembukaan Pencanangan Gerakan Indonesia Membaca di Taman Baca Masyatakat Dimurti, Pekalongan Selatan, Senin (5/12).

Gerakan Indonesia Membaca (GIM), lanjutnya, salah satu tujuannya adalah untuk memberantas tuna aksara yang ditargetkan tahun 2030, Indonesia bisa nol persen bebas tuna aksara. “Ada enam kegiatan dalam Gerakan Indonesia Membaca ini, antara lain, baca tulis, hitung, keuangan, literasi sains, literasi budaya dan kewarganegaraan,” katanya.

Selama program pemberantasan tuna aksara, ia menyampaikan kendala tersulitnya adalah faktor usia dan keterjangkauan wilayah. Dominasi tuna aksara adalah usia di atas 40 tahun sehingga minat untuk belajar membaca-menulis tidak ada. Keterjangkauan wilayah juga manjadi masalah karena kebanyakan tuna aksara tinggal di pedalaman atau pelosok daerah.

“Dari diadakannya gerakan ini tahun 2014, semakin ke sini kesulitannya karena banyak tuna aksara berusia renta. Ada yang hampir 70 tahun. Itu sudah susah diajari. Dan orang-orang di wilayah pelosok. Kalau yang masih terjangkau sudah berhasil ditangani, yang di pelosok-pelosok ini sedikit susah,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, ia menaruh harapan besar pada Kota Pekalongan untuk bisa menjadi salah satu pionir kota/kabupaten dalam membudayakan literasi. Apalagi untuk GIM hanya diselenggarakan di 31 daerah. “Untuk Jawa Tengah gerakan ini ada di Kota Pekalongan dan Kabupaten Banyumas. Dan Pekalongan menjadi daerah ke-30 selama tahun ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan, Alf Arslan Djunaid, menyatakan, jumlah tuna aksara di Kota Pekalongan tidak sebesar itu, meski dia belum bisa menyebutkan angka pasti. Apalagi yang mengalami tuna aksara kebanyakan berusia di atas 35 tahun dan bukan usia muda. “Kami akan mendata kembali terkait jumlah tuna aksara di Kota Pekalongan. Kami harap bisa mencapai target bahwa di tahun 2017 bisa bebas tuna aksara,” terangnya. (tin/ric)

BAGIKAN