Diikuti 2.150 Peserta, Hanya Dipilih 15 Orang

Melongok Acara Audisi Dangdut Academy 4 Indosiar di UNNES

138
Fanessa peserta dari kota Pekalongan saat membawakan lagu wajib Payung Hitam yang di nilai oleh Ketua Koordinator juri Forum Komunitas Musik Melayu (FKMM) Ali Khan di gelaran Audisi D’Academy Indonesia 4 Indosiar di Auditorium Universitas Negeri Semarang, kemarin (4/12). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Fanessa peserta dari kota Pekalongan saat membawakan lagu wajib Payung Hitam yang di nilai oleh Ketua Koordinator juri Forum Komunitas Musik Melayu (FKMM) Ali Khan di gelaran Audisi D’Academy Indonesia 4 Indosiar di Auditorium Universitas Negeri Semarang, kemarin (4/12). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Butuh perjuangan keras dan kesabaran ekstra untuk bisa mengikuti audisi Dangdut Academy 4 Indosiar di Kota Semarang. Sebab, peserta yang mengikuti audisi membeludak, mencapai 2.150 orang. Padahal audisi hanya dilaksanakan sehari.

ABDUL MUGHIS

AUDITORIUM Universitas Negeri Semarang (UNNES), Minggu (4/12) kemarin penuh sesak peserta audisi Dangdut Academy 4 (D4 Academy) Indosiar. Mereka tak hanya berasal dari Semarang dan kota-kota di Jateng, tapi juga dari luar provinsi, bahkan luar Pulau Jawa. Seperti Medan, Makassar, Tuban, Madura, Kalimantan Tengah, Lampung, Lombok, Jambi, Bali dan kota besar lainnya.

Mereka dengan sabar mengantre daftar ulang setelah mendaftar secara online. Para pendaftar online tersebut bebas memilih seleksi di kota yang telah ditentukan oleh panitia. Seleksi diselenggarakan di enam kota, yakni Surabaya pada Senin (7/11) lalu, Medan Minggu (13/11) lalu, Palembang Minggu (20/11), Makasar Minggu (27/11), Semarang (4/12), dan Bandung pada Senin (12/12) mendatang.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, banyak peserta telah datang sejak Sabtu (3/12) lalu. Mereka ada yang menginap di hotel, maupun numpang di rumah saudara maupun teman di Semarang. Ada pula yang datang bersama rombongan keluarganya sebagai supporter.  “Saya diantar oleh ayah. Saya ingin membahagiakan orang tua,” kata salah satu peserta ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela-sela audisi, kemarin.

Sebelum tampil, para peserta audisi tampak sibuk merias diri agar menarik. Khususnya peserta cewek. Masing-masing peserta berusaha tampil semaksimal mungkin untuk meyakinkan para dewan juri seleksi lokal yang berjumlah 15 orang.

Setelah daftar ulang, ribuan peserta secara bergilir memasuki ruangan auditorium untuk mendapat penjelasan panitia. Mereka lalu antre kembali di ruang tunggu. Peserta yang dipanggil lalu memasuki bilik-bilik seleksi. Di dalam bilik tersebut terdapat 1 juri untuk melakukan penilaian di tahap awal. Sedikitnya setiap peserta harus melewati empat tahap untuk bisa mendapatkan tiket ke Dangdut Academy 4 di Jakarta.

Setiap tahap penjurian menggunakan sistem gugur. Jika peserta tidak lolos di juri pertama, maka peserta tersebut gugur alias tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.

Duh, saya gagal. Saya didiskualifikasi di tahap pertama. Umur saya terlalu tua. Umur minimal 16 tahun dan maksimal 27 tahun. Lha umur saya sudah  46 tahun. Tapi ya nggak apa-apa, siapa tahu bisa lolos, eh ternyata gagal,” ujar salah seorang peserta, Tri Wahyono, asal Boyolali.

Nasib serupa dialami Hadi Susanto, peserta audisi dari Bali. Ia hanya bisa pasrah kepada juri yang tidak meloloskan dirinya. Berbeda bagi Moh Sahir Mubarak, peserta audisi dari Madura. Ia patut berbangga bisa mengikuti babak selanjutnya. Namun ia mengaku banyak saingan berat di kompetisi ini.

“Saya ingin mewujudkan cita-cita dari almarhumah ibu saya. Dulu beliau ingin saya jadi artis. Tadi saya diantar oleh bapak,” ujar pemuda yang di kampungnya menjadi pemain musik gambus ini.

Hal yang cukup menjadi perhatian adalah salah satu peserta audisi tunanetra bernama Ema Dian Prastiwi. Siswi kelas VII salah satu SMP di Pacitan ini rela berangkat naik bus sejak Jumat lalu meski dalam kondisi keterbatasan fisik. “Saya diantar oleh ibu dan kakak. Saya ingin mengembangkan bakat menyanyi agar bisa tampil di Jakarta. Selama ini saya sering nyanyi di acara nikahan,” katanya.

Koordinator Juri Dangdut Academy 4 wilayah Jawa Tengah, Ali Khan, mengatakan,  audisi kali ini menggandeng Forum Komunitas Musik Melayu (FKMM) Jawa Tengah. Konsep seleksinya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, melibatkan sebanyak 15 juri pilihan yang memiliki kompetensi di bidangnya. Di antaranya, melibatkan dari unsur penyanyi dangdut, pakar pengamat musik dangdut, sutradara, industri rekaman, hingga jurnalis senior.

“Bahkan jurinya kami lakukan seleksi, dari 25 yang diajukan, kami pilih 15 juri. Peserta seleksi kali ini kurang lebih 2.150 peserta. Kami sangat menjunjung tinggi sportivitas, jujur dan adil. Jadi, proses audisi ini tidak asal-asalan,” ujar penyanyi dangdut asal Semarang, berdarah Pakistan ini.

Dijelaskan, ada banyak kriteria penilaian penjurian tentang teknis menyanyi. Di antaranya, penguasaan vokal, kemampuan mengolah suara, karakteristik, khas cengkok dangdut, power suara, performa panggung, inovasi dan lain-lain.

“Mereka harus melewati 4 tahap seleksi di Semarang, sebelum akhirnya nanti dipilih sebanyak 15 penyanyi untuk mendapatkan tiket ke Jakarta. Penampilannya tidak boleh asal-asalan, karena mereka ini mau dipilih jadi artis. Seleksi ini menggunakan sistem gugur,” kata pemilik lagu Kirana ini.

Menurut Ali Khan, kompetisi ini sebagai upaya memerjuangkan musik dangdut agar tetap memiliki kualitas musikalitas seperti di zaman saat dangdut pernah berjaya. “Saat ini industri dangdut, terutama di Jawa Tengah sendiri sedang mati suri. Padahal musik dangdut sebenarnya musik yang elegan dan eksklusif,” ujarnya.

Pengamat musik dangdut, Suwito, yang juga menjadi juri, mengatakan, pelaku industri, pencipta karya, penyanyi, maupun penikmat musik dangdut saat ini meredup. Tidak mati, juga tidak ada geliat pertumbuhan. Sehingga melalui event seperti ini, bisa memantik perkembangan musik dangdut.

“Kalau disebut mati suri memang iya. Tapi antusiasme masyarakat untuk mengikuti event seperti ini sangat luar biasa. Sehingga diharapkan akan melahirkan bibit-bibit penyanyi baru di kancah musik dangdut,” harapnya.

Menurutnya, dangdut merupakan musik yang memiliki ciri khas unik dan merakyat. Tetapi dibutuhkan kemampuan teknik vokal yang tidak mudah, misalnya cengkok melayu. “Di sini ada perpaduan budaya India, Arab dan Indonesia. Selain itu, berjoget juga menjadi ciri khas yang tidak bisa hilang dari dangdut,” katanya.

Dia berharap, dangdut bisa kembali eksis sebagaimana di era 1970-an hingga 2000-an, yang dikenal menjadi zaman keemasan musik dangdut di Indonesia. Sehingga melahirkan tokoh-tokoh legendaris dengan karya-karya populernya, sebut saja A Rafiq, Reynold Panggabean, Rhoma Irama, Camelia Malik, Elvy Sukaesih, Herlina Efendi, Mansyur S, Ida Laila, Muchsin Alatas dan lainnya. (*/aro)

 

BAGIKAN