Sempat Menempa Mental Jadi Tukang Tagih

101
Arinto Utama, Regional Head Smartfren North Central Java (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Arinto Utama, Regional Head Smartfren North Central Java (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Merintis karir dari titik terendah pernah dialami oleh FJ. Arinto Utama yang kini menjabat sebagai Regional Head Smartfren North Central Java. Sebelumnya, pria kelahiran Surabaya, 30 Januari 1971 ini pernah menjajal berbagai pekerjaan yang cukup keras, tantangannya tinggi , serta dengan gaji seadanya. Pengalaman tersebut ia jadikan sebagai guru untuk menjalani hidup sampai sekarang.

SAAT ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Arinto, nama sapaannya, mengaku saat ia muda pernah menjadi debt collector atau juru tagih di sebuah toko bunga di Surabaya. Pekerjaan tersebut ia lakukan demi membantu keuangan keluarganya serta untuk membiayai studinya di Universitas Surabaya. “Sebelum lulus saya sempat nyambi kerja sebagai debt collector. Tugasnya nagih konsumen yang memesan bunga di tempat kerja saya. Dulu fokusnya cuma membantu pekerjaaan orang tua aja sih,” kata bapak dua anak ini.

Arinto kecil dibesarkan dalam keluarga militer. Ayahandanya saat itu menjadi prajurit TNI AL. Walaupun begitu, Arinto mengaku tidak dikekang untuk meneruskan jejak ayahnya. Ia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri. “Motivasinya membantu keuangan keluarga, bapak saya tidak melarang dan tidak malu. Intinya asal yang saya kerjakan itu halal, beliau sangat mendukung. Karena menurut saya kesuksesan membutuhkan perjalanan yang cukup panjang,” tambah suami dari Anastasha Nina ini.

Sekitar setahun menjadi tukang tagih, akhirnya Arinto lulus sebagai sarjana usai menuntaskan pendidikan Ekonomi Manajemen di Universitas Surabaya. Arinto mengaku, alasan memilih program studi tersebut lantaran ia ingin mengaplikasikan apa yang ia dapat di bangku perkuliahan pada kehidupan nyata. Misalnya saja dari segi pekerjaan. “Manajement pasti terpakai, dari situ punya gambaran harus mengatur sesuatu dan dituntut mengerti semua jenis product,” paparnya.

Pasca lulus, Arinto suka mengutak-ngatik komputer dan mendalami desain grafis. Ini bertolak belakang dengan jurusan yang ia ambil. Dia lantas malah ditawari menjadi asisten dosen untuk mengajar di Universitas Surabaya pada program desain grafis. Tawaran tersebut ia sanggupi dan tak berselang lama ia pun naik menjadi dosen. “Setelah lulus, pekerjaan sebagai debt collector saya tinggalkan dan akhirnya mendapat tawaran menjadi dosen bahkan sempat mengajar Andra, gitaris ternama dari Band Dewa 19,” ujarnya bangga.

Menjadi dosen membuat kemampuan berbicanya di depan publik terasah. Terlebih selama 4 tahun ia menggeluti profesi tersebut, tak puas dengan apa yang ia dapat di Surabaya, Arinto pun memutuskan merantau dan mengadu nasib di Jakarta pada tahun 1997 untuk menjadi sales perusahaan properti yang bergerak di perumahan sederhana dan menengah.

Pribadi yang ulet dan pantang menyerah, membuatnya langsung diangkat menjadi manager di perusahaan properti tersebut kurang dari setahun ia bekerja. “Disini ilmu yang saya dapatkan saat kuliah dan bekerja sebagai tukang tagih bisa saya pakai. Saya pun bisa melakukan segmentasi market dan meng create market sendiri setelah melihat tipikal orang-orang yang saya temui,” ungkapnya.

Kurang lebih setahun di Jakarta dan menjadi seorang manager, tahun 1998 Indonesia diguncang krisis moneter hingga membuat perusahaan tempatnya berkerja saat itu melakukan perampingan perusahaan. Duduk di level manager, Arinto bisa dibilang lolos dari perampingan yang rencananya akan dilakukan. Namun ia berfikir, beberapa anak buahnya hanya tamatan SD dan akan sulit melanjutkan hidup di Jakarta jika dipecat oleh perusahaan. Akhirnya dengan besar hati, ia pun mengundurkan diri agar bisa menyelamatkan anak buahnya dari pemutusan hubungan kerja.

“Saya cuma mikir, mereka sudah punya anak dan hanya mengandalkan pekerjaan itu. Saya masih muda dan bisa mencoba peluang lain, akhirnya pun saya memutuskan untuk mengundurkan diri, mudik ke Surabaya dan bergabung dengan Honda mobil Surabaya selama kurang lebih 2 tahun,” tuturnya.

Puas bergelut di dunia otomotif, Arinto kemudian melanjutkan perjalanan kariernya di sebuah perusahaan distributor alat telekomunikasi. Disinilah ia menemukan passion, hingga bertahan selama 6 tahun mulai 2001 hingga 2007 silam. “Saya sempat ditempatkan di Jawa Timur, Jawa Barat dan Semarang sebagai manager area,” katanya.

Menurut dirinya, bekerja di dunia telekomunikasi memiliki tantangan tersendiri. Terlebih dunia ini terus berkembang dan membuat persaingan antar perusahaan ketat. Tahun 2007, ia bergabung di Smartfren sebagai Regional Head Smartfren East Java sampai sekarang, dan mendapatkan amanah untuk menggarap pasar North Java tiga bulan lalu. “Peluang di dunia telekomunikasi sangat terbuka, terlebih saat ini masyarakat sedang melek-meleknya dengan teknologi. Saya merasa tertantang untuk terjun di dunia ini dan menggarap pasar Jawa Tengah yang potensial terhadap produk-produk Smartfen,” paparnya.

Baginya dunia telekomunikasi dari segi manajemen memiliki karakteristrik fast moving, berbeda dengan dunia properti yang slow moving sementara dunia otomotif masuk dalam kategori medium atau middle moving. “Produk telekomunikasi punya karekteristik produk tersendiri dan menjadi komoditas utama masyarakat. Tantangannya tentu menyediakan atau menyiakan pernigaan yang prima, serta layanan yang prima untuk para konsumen atau masyarakat,” tukasnya.

Baginya kunci di setiap pekerjaan apapun itu, harus bisa menciptakan sebuah sistem. Contohnya monitoring dan distribusi. Ia mengaku, memang tidak mudah untuk membuat sistem tersebut terstruktur dan bisa diaplikasikan ke bawah serta dijalankan dengan baik. (den/ric)

BAGIKAN