Minta Pemerintah Tegas Hadapi Ormas Antipancasila

668
TANDATANGAN REKOMENDASI: Para tokoh pemuda se-Jateng menandatangani rekomendasi hasil seminar kebangsaan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Nasionalisme di Hotel Bandungan Indah. (IST)
TANDATANGAN REKOMENDASI: Para tokoh pemuda se-Jateng menandatangani rekomendasi hasil seminar kebangsaan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Nasionalisme di Hotel Bandungan Indah. (IST)

SEMARANG–Para pimpinan Ormas Pemuda se-Jateng meminta pemerintah bersikap tegas kepada organisasi kemasyarakatan yang jelas-jelas tidak menerima Pancasila dan antipancasila. Pasalnya, kelompok masyarakat atau perorangan yang tidak menerima Pancasila sebagai ideologi dasar negara, tidak ada hak untuk hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pemerintah harus bersikap tegas terhadap kelompok atau perorangan yang jelas-jelas ingin mengganti Ideologi Pancasila dengan ideologi lain dan atau jelas-jelas tidak menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa,” tegas Sekretaris Umum Forum Diksusi Anak Bangsa (FDAB), Zaenal Arifin.

Zaenal juga membacakan rekomendasi hasil Seminar Kebangsaan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Nasionalisme yang dilaksanakan dua hari di Hotel Bandungan Indah, kemarin. Para pembicara yang tampil yaitu Ketua FDAB Budiyanto, Pengusaha Tionghoa Haryanto Halim, Ketua PW Muhammadiyah M Tafsir, Rozihan, mantan Ketua BKPRI Noor Achmad, dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Sedang moderator yaitu Agus Fathuddin Yusuf dan HM Parlin.

Para pemimpin Ormas Pemuda juga menyampaikan lima rekomendasi yaitu munculnya berbagai persoalan bangsa belakangan ini akibat terlalu jauh mengabaikan nilai-nilai Pancasila. “Semangat gotong royong dan toleransi (tasamuh) yang menjadi jatidiri bangsa semakin memudar. Sopan santun dan unggah-ungguh, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda semakin luntur. Aktor-aktor politik saling mengejek, mengumpat dan menjatuhkan lawan politik di depan umum,” kata Zaenal Arifin.

Mereka menyampaikan keprihatinanannya terhadap media sosial (medsos) yang begitu bebasnya menyampaikan provokasi, menghasut, menuduh,memfitnah dan mengadu domba seolah-olah seperti di hutan belantara tak ada aturan.

“Korupsi ada di mana-mana, kejahatan merajalela, perilaku seks bebas LGBT, narkoba, minuman keras, paham-paham radikal, terorisme, sparatisme dan ajaran garis keras. Penegakkan hukum yang lemah dan ketegasan pemerintah terhadap persoalan-persoalan menyangkut rasa keadilan serta seribu satu macam persoalan menjadi potret buram gambaran masa depan bangsa ke depan,” tegasnya.

Para pimpinan Ormas Pemuda meminta pemerintah melakukan penguatan nilai-nilai Pancasila dan Nasionalisme melalui revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila melalui kurikulum pendidikan Pancasila mulai jenjang pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Dasar dan Menengah sampai Perguruan Tinggi. “Banyak anak muda sekarang tidak paham Pancasila. Karena itu pemerintah sebaiknya sungguh-sungguh memasukkan lagi dalam kurikulum pendidikan formal seperti dulu,” katanya.

Terhadap situasi sosial budaya Indonesia yang belakangan menghangat, Pengusaha Muda Haryanto Halim berpendapat sebaiknya belajar kepada lebah atau penguin. Menurut pimpinan perkumpulan Rasa Dharma Semarang itu, lebah dan pinguin dua jenis hewan yang mengajarkan persatuan dan kesatuan serta bagaimana berbagi kasih saying. “Masa kita sampai kalah dengan lebah dan penguin,” katanya.

Sementara itu Ketua PW Muhammadiyah Jateng HM Tafsir mengatakan, dalam persoalan agama yang sering menyebabkan ketegangan yaitu isu Kristenisasi bagi umat Islam dan isu Islamisasi bagi umat Kristen. “Dua persoalan ini harus diselesaikan tidak cukup hanya dengan SKB Tiga Menteri tetapi bagaimana di-clear-kan sehingga tidak muncul sentiment agama di Indonesia,” katanya.

Yang menarik, seluruh peserta seminar menggunakan peta merah putih di pergelangan tangan kanan. (*/ida)

BAGIKAN