Lebih Dekat dengan UKM Menembak Undip

Berburu dan Berperang ala Tentara Barat

156
HARUS PRESISI : Beberapa anggota UKM Menembak Undip sedang melakukan latihan menembak dengan pengawasan dari Perbakin langsung. (FIRAS DALIL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARUS PRESISI : Beberapa anggota UKM Menembak Undip sedang melakukan latihan menembak dengan pengawasan dari Perbakin langsung. (FIRAS DALIL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dapat dikatakan jarang dimiliki oleh universitas lain adalah UKM Menembak. Namun Universitas Diponegoro (Undip) telah memilikinya dan mengajari anggotanya cara beburu sampai simulasi berperang layaknya tentara barat. Seperti apa?

FIRAS DALIL

UKM Menembak menjadi wadah bagi para mahasiswa yang memiliki hobi cukup ekstrim yakni mengoperasikan senjata api. Walaupun, senjata yang dipakai bukanlah senjata api sungguhan, namun dari bentuk hingga beratnya hampir sama persis dengan senjata asli.

Ketua Umum UKM Menembak, Deaz Pratama mengaku UKM Menembak ini berbasis hobi yang rutin latihan setiap minggu di Gedung Olah Raga (GOR) Jatidiri Semarang. Benih-benih hobi itu sudah tumbuh sejak tahun 2004, namun hanya ada Fakultas Hukum Undip. “Kala itu, memang sudah menjadi UKM Fakultas Hukum,” tutur Deaz ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Sekretariat UKM Menembak di Gedung Student Centre Undip, Tembalang.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata peminat dari luar fakultas semakin banyak. Hingga akhirnya diresmikan oleh Rektor Undip menjadi UKM Undip pada pertengahan tahun 2011 lalu. Sehingga UKM Menembak ini terbagi menjadi 3 divisi, ada Divisi Siluet, Divisi 10 Meter dan Divisi Airsoft Gun. “Tiga divisi itu selalu latihan serentak. Saya sendiri dari Divisi Airsoft Gun” ujar Deaz.

Namun divisi paling ekslusif adalah Divisi 10 Meter. Peralatannya khusus dan memiliki standar tinggi. Selain sangat berbahaya, harganya mahal lantaran kisaran harganya antara Rp 30 juta sampai Rp 70 juta, dan butuh pelatih khusus saat latihan. Untuk peralatan sendiri, baik UKM Menembak maupun komunitas penembak lainnya menyebut replika dari senjata apinya dengan sebutan unit, karena bukan senjata api sungguhan tapi bukan senjata mainan.

Divisi 10 meter, imbuhnya, perlu tempat latihan khusus di ruangan dan dilatih khusus oleh tenaga profesional yang merupakan anggota dari Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).

Latihannya sendiri kita menembak target dari jarak 10 Meter se akurat mungkin.

Istilahnya, target latihan dinamakan ring target. Untuk unit yang dipakai di 10 Meter adalah Air Riffle dan Air Pistol dengan penggeraknya gas dan pelurunya terbuat dari timah berukuran 4.5mm. Peluru ini biasa dipakai untuk berburu.

Kenapa unit dari Divisi 10 Meter mahal? Kata Deaz, lantaran yang dihitung adalah presisi, mulai dari unit sampai pelurunya didesain seakurat mungkin, itu belum sama pakaiannya. “Disini kami dituntut disiplin dalam tata cara menembak. Pakaiannya juga khusus, maintenance lapangannya juga tinggi. Karena harga alatnya sangat mahal, kami kerap pinjam alat sama Perbakin,” aku Deaz.

Kini, kata Deaz, anggota UKM Menembak sudah cukup mumpuni dan memiliki kemampuan serta profesionalisme, sehingga sudah bisa melatih anggota–anggota yang masih belajar. “Kini, UKM Menembak Undip diakui keberadaannya oleh Perbakin,” katanya bangga.

Pun dengan Kiki Adhi Prasetyo, yang ikut UKM Menembak lantaran ingin belajar mengoperasikan versi replika senjata api dengan baik dan benar, baik menggunakan senapan laras panjang maupun untuk berburu. “UKM Menembak ini sangat representatif untuk menyalurkan hobi yang tidak biasa untuk mahasiswa,” ujar mahasiswa perantauan dari Jakarta ini.

Selain tergabung dalam Perbakin, imbuhnya, UKM Menembak Undip juga tergabung dan bekerja sama dengan Air Action International Practical Shooting Confederation (AA-IPSC). Yakni, organisasi tingkat internasional yang menaungi para pecinta hobi menembak untuk kelas Airsoft Gun dan juga Persatuan Airsoft Gun Indonesia (Porgasi). “UKM menembak ini lebih fokus ke tembak reaksi yang paling sering dilombakan di Indonesia. Kami fokus kesini, untuk mengejar prestasi dan mengangkat nama Undip dan UKM Menembak agar lebih dikenal,” ujar Deaz.

Deaz juga pernah 3 kali juara dalam perlombaan tembak reaksi. Terakhir tahun 2016 ini, ia menjadi juara 3 di lomba tembak reaksi antar klub menembak tingkat nasional yang diadakan di Purbalingga. Deaz pernah menjadi juara 2 lomba tembak reaksi tingkat nasional di Jakarta, dan juara 1 lomba yang sama yang diadakan Porgasi tingkat Jateng di Semarang.

Kalau di Sukir, pihaknya kerap bermain simulasi perang seperti berebut bendera atau penyelamatan sandera. Ini sama persis seperti game counter strike, cuma kami betulan. Peralatan yang dipakai cukup lengkap, mulai pakaian khusus, rompi dan helm. Di Sukir sendiri untuk safety, ada aturan. Di antaranya, tidak boleh menembak musuh di jarak kurang dari 10 meter. Ini peringatan, karena menembak kurang dari 10 meter akan berakibat fatal.

“Latihan Sukir ini kami adopsi dari latihan tentara sungguhan. Kiblatnya kami mengikuti seperti latihan tentara Amerika dan tentara Rusia. Kalau latihan Sukir, biasanya di hutan Tinjomoyo,” jelas Deaz yang sudah bermain Airsoft Gun semenjak kanak–kanak lantaran kerap mengikuti ayahnya yang memiliki hobi sama.

UKM Menembak sekarang beranggotakan 40 anggota dari beragam fakultas di Undip. Rekrutmen anggota diadakan rutin di setiap awal semester perkuliahaan. Rekrutmen ini diperuntukkan untuk seluruh mahasiswa Undip yang berminat untuk bergabung, tanpa syarat khusus. Nantinya anggota baru, akan melalui prosesi pelatihan dasar, lalu proses kaderisasi sampai sertifikasi.

Deaz beserta Kiki juga berharap bahwa UKM Menembak bisa menjadi wadah para pemilik hobi yang positif bagi para akademisi Undip. “Mereka berharap agar UKM Menembak bisa menjadi keran prestasi bagi mahasiswa yang ingin mengarumkan nama almamater Undip di bidang olahraga menembak,” pungkasnya. (*/ida)

BAGIKAN