Kini, Budaya Terbangun dari Tren Meniru

50

“Budaya sekarang begitu mudah dibangun oleh tren meniru. Fenomena seperti itu sering menjadi santapan bagi anak muda dan juga masyarakat kita.  Sepertinya enggak kekinian kalau enggak bisa mengikuti tren.” Mulyo Hadi Purnomo Ketua Dekase

SETELAH sebelumnya booming fenomena Runningman Challenge, Harlem Shake, Planking, Dab Dance, dan juga Gangnam Style, kini Mannequin Challenge menjadi kehebohan baru di dunia maya. Nyaris tak mengenal usia dan apapun profesinya, mereka terkena virus untuk meng-upload video iseng mannequin di internet.

Mannequin challenge alias tantangan mematung bak maneken ketika dirunut dari berbagai sumber di dunia maya ternyata berasal dari keisengan sekelompok murid di Edward H White High School, Florida, Amerika Serikat. Keisengan tersebut akhirnya video mannequin challenge bersama teman-temannya di akun Twitter personalnya pada 27 Oktober lalu.

Kini virus mannequin challenge ditampilkan secara segar dan menghibur bagi penonton oleh berbagai kalangan, terutama di situs raksasa YouTube. Mereka kemudian menyebarkan video tersebut di jejaring sosial Facebook, Twitter, Path, maupun Instagram. Keisengan karya video itupun mampu menyedot pengunjung hingga membuat mereka dikenal publik, bahkan bisa jadi seantero dunia. Fenomena ini membuktikan betapa banyak orang terus mengekplorasi kreativitas di tengah perkembangan teknologi, terutama ponsel pintar.

Pemain bola ternama sekelas Cristiano Ronaldo, penyanyi Adele, personel The Beatles Paul McCartney, pun tak canggung meng-upload Mannequin Challenge. Bahkan mantan kandidat presiden Amerika Serikat Hillary Clinton pun sempat terjangkit demam mannequin.

Pantas saja, generasi muda di belahan dunia, termasuk di Indonesia turut ikut-ikutan ber-mannequin ria. Bahkan para karyawan bersama atasannya, siswa bersama gurunya, tetangga se-RT, pejabat pemerintah, polisi, hingga wartawan pun meninggalkan jejak di mannequin.

Di tengah kesibukan aktivitas kerja, mereka iseng membuat video aksi  mematung. Gerakan aktivitas normal mereka mendadak terhenti. Sehingga kehidupan seperti sedang berhenti dan diam sejenak seperti patung. Tentunya dengan berbagai ekspresi wajah berbeda-beda dengan backsound yang mendukung. Video tersebut kemudian diunggah di internet dan tak jarang dikunjungi oleh ribuan hingga jutaan orang di YouTube.

Mannequin dalam sejarahnya kan memang manusia sungguhan (model), untuk memperagakan busana di acara fashion. Kemudian bergeser menjadi boneka toko,” kata pengamat internet sekaligus budayawan, Day Milovich, dimintai komentar oleh Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/12) kemarin.

Dikatakannya, gejala mannequin challenge itu sebenarnya one-step selfie atau selfie selangkah maju. “Orang suka selfie. Kita kenal pahlawan juga dari selfie, tahu tempat wisata dari selfie. Tubuh manusia itu tidak akan selesai diekspos sampai kapanpun,” kata Day.

Nah, lanjut dia, sekarang selfie bukan zamannya lagi hanya memakai foto. Mereka mengekplorasi menggunakan video. Mereka merancang skenarionya seperti apa, tempatnya di mana, dan apa musiknya. “Faktornya, ada banyak. Sekarang kan sedang booming orang jualan baju secara online di media sosial, anak muda berburu popularitas di YouTube, dengan dukungan kamera 4K dan drone, serta smartphone yang bisa edit video di tempat,” katanya.

Menurutnya, boleh dibilang, mannequin challenge adalah keniscayaan dari titik persilangan yang dibentuk dari kemajuan-kemajuan teknologi tersebut. “Waktunya ya sekarang ini. Secara teknis, tantangannya lebih banyak dan lebih menuntut kreativitas. Dari selfie sampai sosialisasi operasi zebra,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata Day, tinggal bagaimana selfie ini tidak berubah menjadi kesenangan mematut-diri atau bergerak semaunya seperti fenomena Gangnam Style dulu. “Semoga dengan kecanggihan piranti dan kecepatan berjejaring, orang menjadi lebih kreatif,” katanya.

Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Mulyo Hadi Purnomo mengatakan, akan lebih baik jika mereka tidak sekadar meniru dan hanyut dalam tren. “Budaya sekarang begitu mudah dibangun oleh tren meniru. Fenomena seperti itu sering menjadi santapan bagi anak muda dan juga masyarakat kita.  Sepertinya enggak kekinian kalau enggak bisa mengikuti tren,” katanya.

Dikatakan Mulyo, dalam proses peniruan pasti ada upaya untuk memberi pembeda walau kadarnya tidak seberapa. Tetapi dia berharap perilaku meniru berlangsung tidak untuk selama hidupnya. Sebab terkadang kreativitas tumbuh dan bermula dari peniruan. “Mudah-mudahan itu menjadi pemicu atas proses kreatif anak muda kita. Yang terpenting agar selalu bisa mengambil sisi positif dan kritis,” katanya.

Menurutnya, anak muda pada dasarnya adalah petualang yang selalu berusaha mencari jati diri. Cenderung berkeinginan untuk eksis. Tetapi karakter tersebut bisa membawa perilaku positif dan negatif. “Perkembangan teknologi dan keberadaan media sosial menjadi wadah siapapun, termasuk anak muda untuk mendapatkan pengakuan. Tetapi sepanjang cara-cara yang dilakukan itu positif, maka perilaku tersebut bisa dianggap sebagai kreativitas dan patut dikembangkan,” beber dia.

Selain itu, lanjut Mulyo, video-video tersebut juga menambah kepercayaan diri mereka untuk tampil di muka umum. Walau sementara masih melalui media foto dan video. “Jadi tidak ada masalah, jika sebagian orang memandangnya sebagai keisengan karena kreativitas itu berkembang dari pengembaraan keisengan,” ujar dosen Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang itu. (amu/ida)

BAGIKAN