Casual Feminim dengan Bomber Jacket

70
Serunni for Jawa Pos Radar Semarang
Serunni for Jawa Pos Radar Semarang

Memasuki musim penghujan, jaket menjadi salah satu outfit utama. Padu padan bomber jacket menjadi alternatif tampilan kasual tanpa meninggalkan sisi feminim.

SIGNATURE Bomber Jacket Lace by Serunni salah satunya. Identik dengan maskulinitas, sang desainer memasukkan unsur Sukajan melalui bahan-bahan silky untuk memberikan kesan feminim pada jenis jaket yang sempat populer di era 90-an ini.

Statement lace bertumpuk payet yang disematkan pada salah satu sisi kian mempermanis tampilan. Lace berwarna gold pada bomber jacket hitam atau lace keperak-perakan pada bomber jacket berwarna merah.

“Biasanya payet identik dengan kebaya dan busana-busana formal lainnya. Kali ini kami bubuhkan sedikit pada jaket. Sehingga lebih ‘menyala’ tapi juga tidak terkesan ‘berat’,” ujar pemilik label Serunni, Rani Nelasari.

Begitu juga dengan pilihan warna yang tidak terpaku pada warna-warna gelap. Menyasar semua segmen, selain hitam, biru, merah, deretan warna-warna pastel juga dihadirkan. Sehingga mulai dari remaja hingga ibu muda tetap dapat tampil stylish dengan mengenakannya.

Signature bomber jacket ini salah satu inspirasinya juga dari Sukajan. Tapi yang diambil hanya bahannya saja, tidak untuk motifnya, karena terlalu ramai bila dipadupadankan,” ujarnya.

Potongan simpel dengan warna-warna netral menjadikan signature bomber jacket ini lebih mudah dipadupadankan. Mulai dari paduan t-shirt celana dan sneaker untuk si tomboy, hingga dress bagi yang ingin lebih menonjolkan sisi feminim.

“Bahan yang silky serta lace yang dibubuhkan ini juga menjadikannya lebih fleksibel untuk dikenakan di berbagai suasana. Baik itu formal maupun non formal. Tinggal diutak-atik dengan padu padan busana lainnya saja,” ujarnya.

Namun begitu, mengingat kondisi tropis yang hanya terdiri dari musim hujan dan kemarau, bahan juga dipilih yang tidak terlalu tebal. Dengan begitu, saat musim hujan usai, jaket tak lantas langsung masuk lemari dan menunggu musim hujan berikutnya.

“Busana yang kami rancang sebisa mungkin bisa terus dimanfaatkan. Oleh karena itu, bahan juga kami pilih yang tidak terlalu tebal. Jadi lebih multifungsi,” ujarnya. (dna/ric)

BAGIKAN