Tuntut Kesetaraan bagi ODHA

100
TUNTUT KESETARAAN: Penggiat Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari Lentera Asa menyuarakan aksi agar diskriminasi terhadap penderita dihapuskan. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUNTUT KESETARAAN: Penggiat Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari Lentera Asa menyuarakan aksi agar diskriminasi terhadap penderita dihapuskan. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Masih banyaknya diskriminasi kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan stigma negatif di tengah masyarakat, membuat penyandang status tersebut tidak bisa berkembang dan semakin terjerumus dalam keterpurukan. Bertepatan pada peringatan hari HIV/AIDS Sedunia 1 Desember lalu, Lentera Asa menggelar aksi damai di Bundaran Kalibanteng, Jumat (2/12) siang. Mereka menuntut agar diskriminasi dan anggapan negatif terhadap ODHA dihapuskan.

Koordinator Lapangan Lentera Asa, Ari Istiadi mengataakan setiap warga negara mempunyai hak yang sama dalam hukum dan perlindungan negara. Menurutnya, diskriminasi kepada kaum ODHA saat ini sangat tinggi karena kurangnya pemahaman terhadap ODHA yang ada di lingkungan masyarakat ataupun lingkungan pekerjaan. ”Kami ingin memberikan edukasi bahwa hidup berdampingan dengan ODHA tidaklah menular atau membahayakan. Selain itu masih banyak dikriminasi lainnya di bidang pekerjaan ataupun sarana kesehatan,” katanya.

Dalam aksi damai tersebut, puluhan anggota dari Lentera Asa juga membagikan 300 bunga dan selebaran tentang informasi, edukasi virus HIV/AIDS. Menurut pria yang akrab disapa Ari Gondrong ini, dengan adanya stigma negatif, malah membuat kasus HIV/AIDS semakin menjadi karena penderitanya tidak mau terbuka.

Salah satu peserta aksi, Asti yang juga ODHA berharap ke depan ada upaya maksimal dari pemerintah untuk lebih serius dalam penanggulangan HIV/AIDS. Sehingga kasus HIV/AIDS bisa ditekan, kaum ODHA dan PSK pun bisa hidup dengan layak dan kembali ke masyarakat. Terlebih saat ini kebutuhan ODHA belum bisa difasilitasi oleh pemerintah. ”Layanan kesehatan bagi ODHA kadang sangat sulit. Belum lagi untuk ODHA yang sakit atau melahirkan tidak semua rumah sakit mau menerima,” keluhnya. (den/ric/ce1)

BAGIKAN