Siswa SD Tak Bawa Senjata

Hasil Rekaman CCTV

57

BALAI KOTA – Hasil penyelidikan oleh tim Polrestabes Semarang dan investigasi Dinas Pendidikan Kota Semarang memastikan tidak ada bentrok fisik atau tawuran antara siswa SD Al Khotimah dan SD Pekunden Semarang.

Hal itu dipastikan setelah melakukan pemeriksaan rekaman Closed Circuit Television (CCTV) yang terpasang di sekitar lokasi kejadian. Di antaranya CCTV di Taman Pandanaran dan Gerai KFC Pekunden Semarang Selatan.

”Kejadian ’tawuran’ antarsiswa SD tersebut harus diklarifikasi. Hasil penyelidikan yang dilakukan tim kepolisian dan investigasi Dinas Pendidikan Kota Semarang memastikan tidak ada bentrok fisik atau tawuran,” kata Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu di Balai Kota Semarang, Jumat (2/12).

Dikatakannya, kepolisian juga telah memastikan tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum.

”Senjata tajam jenis parang yang ditemukan di lokasi, juga bukan milik siswa. Senjata tajam itu ternyata ditemukan di bawah tanaman di Taman Pandanaran,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil rekaman CCTV, terlihat seorang remaja berambut semiran warna pirang, diperkirakan berusia 12 tahun. Diduga, remaja tersebut yang semula membawa senjata tajam di lokasi kejadian. ”Tapi anak ini jelas bukan salah satu siswa SD,” terangnya.

Dua siswa SD, masing-masing berinisial BM, 11, siswa kelas 4 SD, dan AL, 8, kelas 1 SD, yang ditangkap satpam dan sempat dibawa aparat kepolisian, hanya lari dari kerumunan karena ketakutan. Jadi, kedua anak yang ditangkap itu juga tidak ada kaitan dengan isu tawuran tersebut.

Pihaknya bersama kepolisian, Dinas Pendidikan Kota Semarang, dan pihak sekolah, telah melakukan koordinasi untuk melakukan klarifikasi terkait masalah ini. Para siswa yang terpaksa sempat berurusan dengan pihak kepolisian ini mengalami shock dan trauma.

”Maka kami berupaya melakukan tindakan preventif. Kami mendatangkan tim psikolog untuk melakukan pendampingan terhadap siswa-siswa ini,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Bunyamin mengatakan, bahwa pihaknya telah melakukan investigasi internal. Baik siswa, guru, di kedua SD tersebut. ”Para siswa juga tidak mengakui memiliki atau membawa senjata tajam. Kami sudah mempertemukan pihak terkait, baik guru, siswa, di kedua sekolah tersebut,” katanya.

Bunyamin menyayangkan, kejadian ini menjadi viral dan menyedot perhatian banyak pihak. ”Tapi faktanya, sama sekali tidak ada tawuran antarsiswa SD di Kota Semarang,” katanya.

Insiden ’tawuran’ yang kemudian menyusul ditangkapnya dua siswa SD pada Kamis 24 November 2016 sekitar pukul 12.30 lalu ini sebelumnya menjadi viral yang menghebohkan hingga menjadi isu nasional. Sehingga memantik berbagai opini negatif dari sejumlah pihak. (amu/zal/ce1)

BAGIKAN