Salat Jumat di Jalan, Tuntut Ahok Dipenjara

89
Ribuan umat Islam termasuk anak-anak saat menggelar aksi damai ”Bela Islam III” di Jalan Pahlawan Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKSI BELA ISLAM - Ribuan masa yang tergabung dalam Forum Muslim Semarang (Formis) menggelar aksi damai dengan orasi, tausiah, solat Ashar dijalan dan doa bersama di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Jumat (2/12). Aksi Bela Islam jilid III ini berlangsung tertib dengan kawalan ketat petugas keamanan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tak hanya di Jakarta, aksi damai ”Bela Islam III,” Jumat (2/12) kemarin, juga digelar di Semarang. Ribuan umat Islam menggelar aksi di Jalan Pahlawan depan Gubernuran. Dengan mengenakan baju serbaputih, massa menggelar orasi, istighotsah, doa bersama, dan diakhiri salat Jumat berjamaah di sepanjang jalan protokol tersebut.

Kegiatan ini dilakukan untuk menyikapi kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka calon Gubernur DKI Jakarta petahana, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok agar diadili. Massa menilai Ahok harus dijebloskan ke penjara.

Peserta aksi kemarin berasal dari Forum Muslim Semarang, yang terdiri atas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII) Jateng, KAMMI, IKADI, Bina Hati Tentram Bersaudara (BAHTERA) Jateng, PD Muhammadiyah, Majelis Akhir Zaman dan semua komponen Umat Muslim Jateng.

Dalam kesempatan tersebut, massa menggelar istighotsah dan doa bersama demi keselamatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, sejumlah kelompok disinyalir ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. ”Acara ini sebagai bentuk aksi damai demi keutuhan NKRI tetap terjaga. Karena banyak isu yang beredar sampai adanya makar,” kata koordinator aksi, Sri Suwarto.

Massa ingin agar berbagai kasus hukum bisa ditegakkan dengan adil. Termasuk kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Semua umat muslim di Jateng meminta agar kasus Ahok segera diselesaikan sehingga tidak membuat gaduh keutuhan NKRI.

”Kami menuntut agar Ahok segera dimasukkan penjara. Ini harga mati, karena sudah melakukan penistaan agama,” tegasnya.

Sejumlah anggota Polwan dan polisi tampak asyik menggendong balita yang diajak orang tuanya mengikuti aksi damai. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sejumlah anggota Polwan dan polisi tampak asyik menggendong balita yang diajak orang tuanya mengikuti aksi damai. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dalam kesempatan tersebut, massa juga mengecam sikap Polri yang sempat melarang masyarakat untuk melakukan Aksi Damai 212 ke Jakarta. Ini dibuktikan dengan pelarangan armada bus yang akan mengangkut aksi massa ke Jakarta. Kondisi itu membuktikan arogansi Polri yang memasung kebebasan masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya.

”Mengecam Polri yang melarang adanya aksi 212. Ini hanya aksi damai dan menuntut agar hukum ditegakkan dengan adil,” katanya.

Pemerintah diminta tegas dan tidak melakukan intervensi dalam kasus yang dijalani Ahok. Aroma intervensi ini cukup kuat mengingat Ahok masih bebas menghirup udara segar meski berkas sudah lengkap dan dilimpahkan ke kejaksaan. ”Jangan ada intervensi, Jika ada intervensi, kami menuntut Jokowi-JK dan kapolri turun,” ujarnya.

Selama aksi aksi damai kemarin, sedikitnya 680 personel yang terdiri atas unsur TNI, Polri dan beberapa instansi terkait disebar di sejumlah titik lokasi. Pengamanan dilakukan secara humanis. Bahkan, ada sejumlah polwan dan anggota polisi yang asyik menggendong balita yang diajak orang tuanya dalam aksi damai tersebut.

”Kami menerjunkan sekitar 680 personel. Mereka disebar di beberapa titik. Di antaranya, Jalan Veteran, Jalan Sriwijaya, Jalan Menteri Supeno, kawasan Simpang Lima dan Jalan Pahlawan,” beber Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji

Dikatakan, ribuan umat Islam yang mengikuti aksi damai serta doa bersama ini mayoritas berasal dari wilayah Semarang dan sekitarnya. ”Jumlahnya sekitar 1.000 orang yang mengikuti aksi di Semarang. Mayoritas dari Semarang dan sekitarnya,” ujarnya. (fth/aro/ce1)

BAGIKAN