Pentingnya Transportasi Umum Antarkampus

44

SEMARANG – Kota Semarang membutuhkan transportasi antarkampus yang memadai dan murah. Transportasi tersebut minimal melintasi atau mendekati sekitar 10 kampus, seperti Universitas Diponegori (Undip), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Politeknik Kesehatan, Universitas Pandanaran (Unpand), Stikubank, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Akbid Abadi Husada, Unika Soegijapranata, Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang, IKIP Veteran, Politeknik Maritim, Akpelni, STIP Farming, dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Hal tersebut disampaikan oleh pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin. Bahkan, katanya, pentingnya transportasi antarkampus tersebut pernah diusulkan Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang (2010-2015).

Usulan tersebut juga telah diperkuat dengan hasil kajian dari Laboratorium Transportasi Unika Soegijapranata pada 2014. Yakni, di sepanjang rute 22 km, berhasil dihitung dengan headway 10 menit menghasilkan 21 unit bus. Jumlah halte diperkirakan sekitar 74 lokasi. Mengingat kondisi lebar jalan, direkomendasikan menggunakan bus sedang dengan kapasitas 40 seat.

”Rute ini diharapkan memberikan pelayanan transportasi murah buat kalangan kampus yang terintegrasi dengan koridor 2 BRT Trans Semarang. Juga akan berintegrasi setelah dioperasikan BRT koridor Sekaran-Pasar Johar melalui Kawasan Sampangan,” tandasnya.

Dengan adanya transportasi antarkampus, imbuhnya, dapat membantu pengelola kampus agar tidak pusing mencari lahan parkir kendaraan bermotor. Misalnya, di Kampus Unika dengan lahan yang terbatas, harus membangun parkir bertingkat. Padahal biaya pembangunan parkir bertingkat dapat digunakan untuk membangun fasilitas pendidiakn yang langsung dapat dinikmati mahasiswa. Demikian pula untuk kampus lainnya dapat terjadi hal yang sama karena keterbatasan lahan. Sementara mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor makin bertambah.

”Operatornya bisa diupayakan para pengusaha angkot yang sudah ada, supaya tidak terjadi konflik sosial. Adanya BRT bukan untuk menggusur operator lama, akan tetapi menggeser dari sistem setoran ke gaji bulanan,” tuturnya.

Selain itu, imbuhnya, yang perlu diperhatikan dalam rute ini adalah belum tersedianya trotoar yang memadai. Bahkan sekitar 95 persen dari panjang jalan belum tersedia trotoar, padahal setiap orang yang akan menggunakan transportasi umum harus berjalan kaki menuju halte. ”Sebagai syarat dukungan berhasilnya operasi transportasi umum, harus tersedia trotoar nyaman menuju halte,” tandasnya.

Ditegaskan, membangun trotoar tidak perlu mahal. Cukup dibangun dengan material dari paving blok, murah, mudah dan cepat pengerjaannya. Trotoar nyaman, halte aman, transportasi umum memadai, idaman semua warga yang menggunakan transportasi umum. Jika perlu setiap halte yang dibangun berdekatan kampus disediakan fasilitas wifi dan informasi kehadiran bus.

”Transportasi umum tidak sekadar mengurangi kemacetan, namun lebih dari itu manfaaatnya. Seperti meningkatkan rasa kebersamaan antarwarga, irit energi, hemat pengeluaran, kurangi polusi, turunkan angka kecelakaan, dan lainnya.” (ida/zal/ce1)

BAGIKAN