Mantan Sopir Taksi Bobol 9 Bank

Bikin Perusahaan Fiktif Kantongi Rp 335 Juta

1143

SEMARANG –  pembobol bank lewat kartu kredit dan kredit tanpa agunan berhasil digulung aparat Reskrim Polrestabes Semarang. Mereka adalah Muhammad Deky Nawawi, 32, warga Jalan Ngesrep Timur V RT 01 RW 03 Kelurahan Sumurboto, Banyumanik; Edi Prayitno, warga Graha Pesona Jatisari Blok A RT 04 RW 13 Kelurahan Jatisari, Mijen, dan Taufik, 32, warga Pundungputih, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Deky diketahui sebagai otak kejahatan perbankan ini. Ia mantan sopir taksi yang juga jebolan karyawan bank swasta.

Selama kurang lebih 6 bulan beraksi sejak Juni 2016 lalu, kawanan ini meraup uang hingga Rp 335 juta. Namun sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Ketiganya berhasil diringkus aparat Reskrim Polrestabes Semarang di kantornya Kompleks Pertokoan Metro Plaza Peterongan No D-17 Jalan MT Haryono, Kamis (1/12) malam kemarin.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, modus kejahatan yang digunakan ketiga tersangka dengan cara membuka perusahaan abal-abal bernama PT Global Sarana Utama. Kantor perusahaan di bidang Pro Service Development ini berpindah-pindah agar pihak bank kesulitan melacak saat melakukan penagihan. Yang terakhir, ketiganya berkantor di Pertokoan Metro Plaza Peterongan tersebut.

”Setelah memiliki PT, para tersangka kemudian memalsukan identitas Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) yang telah dipasangi wajah tersangka. Mereka mendapatkan bahan e-KTP asli seharga Rp 100 ribu per kartu. Selanjutnya, e-KTP palsu tersebut diajukan ke bank untuk permohonan pengajuan kartu kredit maupun kredit tanpa agunan,” jelas Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wiyono Eko saat gelar perkara di Ruang Tipikor, Jumat (2/12).

Wiyono Eko mengatakan, penangkapan ketiga tersangka setelah pihaknya mendapat laporan dari Bank Mega yang akan dijadikan sasaran korban. ”Saat itu pihak bank curiga saat tersangka mengajukan permohonan kartu kredit di Bank Mega. Sebab, tersangka ngakunya tidak punya rekening di Bank Mega. Tapi setelah dicek, kok ada nasabah lama fotonya sama dengan foto tersangka. Setelah dibuka database-nya mencurigakan, lantas melapor ke kami,” bebernya.

Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan di alamat kantor tersangka. Hingga akhirnya ketiganya dibekuk tanpa ada perlawanan. Hasil pemeriksaan penyidik, otak dari kejahatan ini adalah Muhammad Deky Nawawi. ”Otaknya Deky. Dia yang mengatur semuanya mulai membuat perusahaan fiktif yang di dalamnya ada karyawan dan seorang bos hingga memalsu e-KTP,” katanya.

Dikatakan, Deky dinilai sangat cerdik. Untuk meyakinkan pihak bank dan nasabah, ia mendaulat Edy Prayitno sebagai General Manager PT Global Sarana Utama. Dia sendiri menjabat direktur. Sedangkan tersangka Taufik berperan sebagai karyawan. Taufik mengganti nama menjadi Rusly dengan jabatan sebagai Area Sales Manager Semarang. Selain itu, ada HRD dan Admin yang dijabat Putrining S. Nama terakhir ini diduga juga fiktif.

”Mereka menyewa tempat di Ruko Metro Plaza Peterongan. Ada yang jadi bos, ada yang jadi karyawan.  Untuk meyakinkan pihak bank, karyawan ini digaji sampai Rp 26.659.950 per bulan. Itu dibuktikan dari slip gaji karyawan. Sehingga saat pihak bank survei di kantor itu sangat percaya,” terangnya.

Setelah mendirikan perusahaan, ketiganya lantas memalsu e-KTP nasabah dengan foto tersangka. Sedangkan identitasnya milik orang lain. E-KTP itu dibuat dengan bahan asli, sehingga tidak mencurigakan. Dengan e-KTP itu, tersangka mengajukan kartu kredit ataupun kredit tanpa agunan ke bank.

”Pihak bank tidak tahu antara identitas dan foto di e-KTP itu sebenarnya beda. Karena e-KTP yang dipalsukan itu mirip sekali keasliannya. Setelah di-ACC bank, kartu kredit langsung digesek tunai. Demikian pula kredit tanpa agunan itu langsung dicairkan, dan masuk ke rekening tersangka. Setelah uang masuk ke rekening, langsung diambil, dan dibagi bertiga,” jelasnya.

Ketiga tersangka sudah menjalankan aksi kejahatan itu sejak Juni 2016. Agar tidak terlacak pihak bank saat melakukan penagihan, biasanya setelah mendapatkan hasil, mereka langsung pindah kantor. Sebelum di Kompleks Ruko Metro Plaza Peterongan, kawanan ini pernah menyewa ruko di daerah Tlogosari. ”Jadi, setelah mendapat uang dari bank, mereka menutup tempat usaha dan pindah kantor. Ini untuk menghindari tagihan dari pihak bank,” ujarnya.

Berdasarkan data yang ada, ketiganya sudah membobol sedikitnya sembilan bank, di antaranya Bank Mega, Bank Mandiri dan Bank Bukopin. Uang yang diperoleh mencapai Rp 335 juta.

”Pengakuan ketiganya begitu. Ada beberapa yang sudah kita periksa. Pihak bank masih belum menyadari kalau uangnya telah dijadikan aksi kejahatan. Baru satu bank yang mengetahui identitas nasabahnya berbeda,” jelasnya.

Wiyono sendiri mengaku masih melakukan pengejaran terhadap tersangka lain yang memberikan bocoran identitas nasabah bank. Diduga, tersangka yang masih buron ini juga berprofesi sebagai pegawai bank. ”Inisialnya A, orang ini yang memberikan identitas e-KTP kepada Deky untuk disalahgunakan. Masih kita kejar,” katanya.

Tersangka Deky mengaku mendapat ilmu kejahatan tersebut ketika berada di Bali. Kebetulan di sana dia melakukan aksi kejahatan yang sama dengan temannya. ”Tadinya sama teman di sana (Bali). Saya hanya membantu. Di Bali sekitar 6 sampai 7 bulan. Setelah bos saya pegi, saya terus jadi sopir taksi, dan kembali ke Semarang Juni lalu,” akunya.
Deky mengatakan, uang hasil kejahatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ”Paling besar dapat Rp 50 juta di Bank Mandiri. Tergantung pengajuan dari bank, limited dari Rp 3 juta sampai Rp 50 juta,” katanya.

Sedangkan kartu e-KTP yang digunakan untuk memalsukan identitas nasabah tersebut, Deky mengakui mendapatkan dari seseorang yang ada di Surabaya. Material e-KTP yang diakuinya asli tersebut dibeli secara online dengan harga 1 keping senilai Rp 100 ribu. ”Saya hanya beli dua kartu e-KTP kosongan lewat online, terus dikirim. Itu bahan asli,” jelasnya.

Tersangka Edy Prayitno mengaku, belum mendapat bagian dari aksi kejahatan tersebut. Namun Edy yang disuruh berperan sebagai General Manager ini dijanjikan akan mendapat bagian 30 persen. ”Tapi belum dapat, sudah ketangkap lebih dulu,” akunya.

Tersangka Taufik juga mengaku sama. Namun nasib pria ini lebih beruntung lantaran telah mendapat hasil mencapai puluhan juta rupiah. Dia berperan sebagai karyawan perusahaan abal-abal tersebut. ”Sudah dapat Rp 30 juta. Untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, karena kepepet butuh uang,” akunya.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka akan dijerat pasal berlapis, yakni pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen dengan ancaman 6 tahun penjara. Selain itu, pasal 378 jo 55 KUHP, yakni bersama-sama melakukan penipuan dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Selain menangkap ketiga tersangka, polisi juga menyita barang bukti puluhan kartu kredit, e-KTP palsu, 6 buku rekening tabungan Mandiri, 2 buku rekening Tabungan Siaga Bukopin, sejumlah stempel, dan uang tunai Rp 30 juta. (mha/aro/ce1)

BAGIKAN