Jateng Park Mulai dari Nol Lagi

95

SEMARANG – Proyek pembangunan Jateng Park di Wanawisata Penggaron, Desa Susukan, Ungaran semakin tidak jelas. Sebab, seiring pergantian Direktur Utama (Dirut) Perum Perhutani, beberapa waktu lalu, kebijakan terkait kerja sama dengan Pemprov Jateng pun ikut berubah. Praktis, sejumlah kerja sama yang selama ini dilakukan Perum Perhutani dan Pemprov Jateng, harus dirombak dan dimulai dari nol.

Kepala Biro Bina Produksi Pemprov Jateng, Peni Rahayu menjelaskan, Dirut Perum Perhutani memutuskan untuk mengubah rencana pembentukan new company (newco). Jika sebelumnya telah ada kesepakatan membuat newco, yakni Pemprov melalui PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) dan Perum Perhutani melalui PT Palawi, ternyata Direktur yang baru meminta agar newco tak perlu melalui PT Palawi melainkan langsung Perum Perhutani.

”Jadi nanti kalau membentuk newco, langsung antara Pemprov dengan Perhutani tanpa PT Palawi. Perhutani khawatir dalam pengelolaan hutan nantinya tidak profesional. Kalau dari pemprov, nanti pelaksananya mungkin akan tetap diserahkan ke PT SPJT,” katanya, Jumat (2/12).

Dia menjelaskan, dalam dua pekan ke depan, pihaknya akan bertemu dengan Perum Perhutani untuk membahas perubahan kerja sama tersebut. Adanya kebijakan baru di Perhutani itu, menurut Peni, pemprov menyambut baik. Sebab sebelumnya penanganan PT Palawi sangat lambat.

Saat ini, lanjutnya, Dirut Perhutani meminta Pemprov Jateng untuk melakukan kajian bisnis lagi. Pencermatan tersebut untuk melengkapi hasil studi yang sebelumnya dilakukan tim dari Undip. Peni pun menyanggupinya. Minggu depan pihaknya mengundang beberapa pakar dari sejumlah perguruan tinggi untuk memantapkan business plan. ”Ada yang dari luar Jateng juga. Dengan kajian tambahan ini, kami ingin menaikkan nilai IRR-nya (internal rate of return). Paling tidak di atas 16-18 sebab saat ini baru 10,” katanya.

Peni mengakui, pembangunan proyek Jateng Park ini mulai dari nol. Bahkan mundur sedikit. Tapi kemunduran ini akan membuat progres pembangunan ke depan bisa lebih cepat. Sebab beberapa perizinan sudah dikantongi. Termasuk Permen Kehutanan. Begitu juga dengan urusan permodalan. Sudah ada sejumlah pemilik modal yang tertarik untuk terlibat dalam pembangunan Jateng Park. Di antaranya dari Malaysia, Singapura, dan sejumlah pemilik modal dari dalam negeri. ”Ini bukan sistem investasi, tapi hanya pinjam modal saja. Karena itu IRR-nya harus tinggi agar bisa cepat balik modal. Nanti pelaksana di lapangan juga harus profesional,” tegasnya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jateng, Didiek Hardiana Prasetyo meminta agar Pemprov Jateng bisa bersikap tegas. Sebab selama ini warga Jateng sudah menunggu keberadaan Jateng Park. ”Tolong jangan memberikan harapan saja. Dulu janji Agustus 2016 sudah bisa proses. Terus dijanjikan bulan depan. Ketika belum ada progres, janji bulan depan lagi,” bebernya.

Dia berharap pemprov tidak perlu ragu dalam mengambil keputusan. Terlebih pemprov masih memiliki aset lain yang juga memiliki potensi yang bagus untuk dikembangkan. ”Jangan lama-lama bermimpi, nanti jadi terbuai. Kasihan masyarakat. Mau memaksimalkan aset milik Perhutani, tapi kalau Perhutani sulit ya nggak usah. Pakai aset sendiri saja,” katanya. (amh/ric/ce1)

BAGIKAN