BPI akan Bangun Tiga Rumah Ikan

44
SOSIALISASI : PT BPI mensosialisasikan pembangunan rumah ikan kepada masyarakat nelayan yang terdampak pembangunan PLTU Batang. (NURUL FATAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SOSIALISASI : PT BPI mensosialisasikan pembangunan rumah ikan kepada masyarakat nelayan yang terdampak pembangunan PLTU Batang. (NURUL FATAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) memastikan akan membangun rumah ikan di 3 lokasi area perairan sekitar pembangunan PLTU Batang Jawa Tengah 2×1.000 MW. Rencananya akan dibangun di sekitar Karang Kretek, Karang Maeso dan 1 lokasi yang dianggap sebagai fishing ground nelayan lokal.

Rencana pembangunan tersebut telah disosialisasikan kepada perwakilan nelayan dari beberapa desa terdampak, seperti Desa Ujungnegoro Kecamatan Kandeman, Dukuh Roban Barat dan Desa Kedungsegog Kecamatan Tulis serta Dukuh Roban Timur dan Desa Sengon Kecamatan Subah.

Dan BPI menjalankan edukasi dan sesi sosialisasi rumah ikan dengan menggandeng beberapa pihak terkait, seperti Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang dan beberapa pihak lain. Program ini sebagai bukti BPI tunduk dan menjalankan berdasarkan amanat yang tertuang dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Kami berkomitmen penuh untuk mematuhi dan menghormati aturan yang berlaku, salah satunya adalah AMDAL yang telah diberikan kepada BPI pada Agustus 2013 lalu,” kata Presiden Direktur BPI, Takashi Irie.

Takashi, meyakini, langkah ini sebagai salah satu wujud komitmen perusahaan meningkatkan perekonomian wilayah sekitar PLTU Jawa Tengah. Rumah ikan berfungsi sebagai habitat buatan untuk memulihkan daerah penangkapan yang kurang produktif. “Dengan adanya rumah ikan, diharapkan dapat meningkatkan produksi perikanan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh nelayan,” terang Takashi.

Dikatakannya, pembangunan dan pemasangan rumah ikan akan diimplementasikan melalui beberapa hal, yaitu pekerjaan konstruksi dan instalasi rumah ikan nantinya akan dilakukan oleh konsultan dengan melibatkan tenaga kerja masyarakat nelayan di desa terdampak.

“Rumah Ikan merupakan alat bantu penangkapan ikan yang digunakan di laut, baik laut dalam maupun laut dangkal. Rumah Ikan dibuat menyesuaikan dengan kondisi dasar laut, sehingga mampu menarik ikan-ikan dan menjadi tempat berkumpul ikan tersebut,” katanya.

Nantinya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan hasil perikanan dengan lebih cepat, tanpa merusak biota laut. Rumah ikan ini juga banyak digunakan oleh nelayan tradisional di daerah Mamuju (Sulawesi Selatan) dan Jawa Timur.

Penggunaan rumah ikan juga banyak di daerah lain, seperti kawasan perairan Nusa Tenggara Timur, perairan Teluk Tomini, dan Bitung (Sulawesi Utara). Negara lain yang memanfaatkan rumah ikan untuk menangkap ikan antara lain Jepang, Filipina, Sri Langka, Papua Nugini dan Australia.

“Rumah ikan mampu menarik ikan-ikan besar, karena secara alami menjadi tempat tumbuhnya plankton yang menjadi rantai makanan pertama bagi ikan. Ikan-ikan yang paling sering ditemukan di dalam rumah ikan antara lain ikan tengiri, tonggol, cangkalang, tuna dan sardin,” jelas Takashi Irie. (mg20/ida)

BAGIKAN