10 Tahun Kampanye Stop Kekerasan Anak

Lebih Dekat dengan Tsaniatus Solihah, Direktur Program Yayasan Setara

76
PEDULI ANAK: Tsaniatus Solihah saat kampanye internet sehat. (DOKUMEN PRIBADI)
PEDULI ANAK: Tsaniatus Solihah saat kampanye internet sehat. (DOKUMEN PRIBADI)

Sudah 10 tahun lebih, Tsaniatus Solihah aktif mengampanyekan gerakan stop kekerasan anak. Ia terjun langsung karena merasa trenyuh melihat kekerasan anak yang semakin tinggi. Mulai kekerasan fisik, psikologis hingga kekerasan seksual.

MIFTAHUL A’LA

SEMAKIN banyaknya kekerasan yang dialami anak-anak membuat hati Tsaniatus Solihah trenyuh. Sebab, anak adalah aset berharga bagi generasi mendatang. Melihat fenomena itu, Ika Camelia –begitu nama beken Tsaniatus Solihah- akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Yayasan Setara.

”Saya masuk Setara sejak 2005 silam. Saya trenyuh melihat banyaknya kasus kekerasan terhadap anak,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di Yayasan Setara, Ika semakin gencar melakukan kampanye stop kekerasan terhadap anak. Ia melakukan sosialisasi di sekolah hingga perkampungan warga. Sebab, kekerasan terhadap anak bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Ia mengaku miris ketika sosialiasi di SD, menemukan banyak kekerasan yang dialami anak-anak.

”Fenomena kekerasan anak ini bagaikan gunung es, yang hanya tampak di puncaknya saja, padahal sebenarnya lebih banyak lagi, yang setiap saat bisa mencair,” katanya.

Direktur Program Yayasan Setara ini mengaku, tidak mudah untuk mengajak masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Di SD misalnya, kekerasan terhadap anak tidak hanya fisik maupun psikologi, tetapi juga kekerasan seksual. Ironisnya, pelaku kekerasan seksual rata-rata juga anak SD yang menjadi teman sekolah korban.

”Kekerasan seksual ini terjadi karena mudahnya akses informasi dengan semakin canggihnya peralatan teknologi. Sekarang anak SD sudah memiliki gadget yang bisa mengakses internet dengan mudah,” ujarnya.

Ika mengaku semakin miris dengan kondisi yang terjadi terhadap anak-anak SD tersebut. Ia tidak habis pikir, bagaimana anak-anak SD sudah melakukan kekerasan seksual. Dari situlah, dia mulai menggandeng sekolah-sekolah yang ada di Kota Semarang sebagai upaya untuk menyosialisasikan gerakan stop terhadap kekerasan anak-anak.

”Jika anak pernah mengalami kekerasan, ini akan tersimpan di dalam memorinya, dan bisa saja mereka bakal melakukan hal serupa saat sudah dewasa sebagai bentuk balas dendam,” katanya.

Tidak hanya menggandeng sekolah, Ika juga menyasar langsung ke masyarakat. Ia membuat jaringan perlindungan anak, dan mengajak masyarakat agar tidak melakukan kekerasan kepada anak-anaknya. ”Banyak anak yang sering mendapatkan kekerasan oleh orang tuanya. Misalnya, karena nakal kemudian dicubit atau dipukul, ini kan sering dijumpai,” ujarnya.

Tidak mudah memang untuk mengajak masyarakat sadar agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Tapi, dari pendampingan yang dilakukan selama ini, ternyata orang tua kerap melakukan kekerasan karena saat kecil ia pernah mendapatkan perlakuan serupa. Yang sangat sulit, kata dia, adalah memberikan kesadaran akan bahaya aksi kekerasan kepada anak.

”Kami terus melakukan berbagai upaya, hingga sekarang sudah membentuk jaringan perlindungan anak di enam kelurahan di Kota Semarang,” katanya.

Enam daerah yang menjadi pilot project jaringan perlindungan anak itu, di antaranya di Kelurahan Kuningan, Kelurahan Bugangan, Kampung Kanalsari Kelurahan Rejosari, Kampung Gunungsari Kelurahan Tandang, dan Kampung Tambaklorok Kelurahan Tanjung Mas. Dari enam lokasi ini saja setidaknya sampai November 2016 terjadi 90 kasus kekerasan terhadap anak. Sebanyak 30 kasus di antaranya adalah kasus kekerasan seksual.

”Ini hanya sebagian kecil yang terlihat. Masih banyak yang belum terungkap, makanya kami terus melakukan pendampingan,” ujarnya.

Masyarakat terutama orang tua diajak untuk melakukan gerakan stop terhadap kekerasan anak. Pengawasan harus diperketat mengingat berbagai kasus terjadi justru dari lingkungan sekitar. Baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah.

Anggapan jika kekerasan untuk mendisiplinkan anak harus dibuang dan jangan sampai dilakukan lagi. ”Anak aset berharga, jadi harus dijaga jangan sampai mengalami kekerasan. Ayo kita potong rantai kekerasan anak,” ajaknya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN